Humaniora

Agama dalam Pusaran Konflik Israel-Palestina

Perang Israel dan Palestina masih berlangsung sampai detik ini. Tanda-tanda untuk mengakhiri perang belum terlihat. Ratusan roket masih terus ditembakkan faksi Hamas yang dibalas Israel.  Senjata berat dan pasukan terlatih dikerahkan. Balasannya tidak tanggung-tanggung. Korban pun berjatuhan.

Rupanya tak sampai disitu. Perang tak hanya berlangsung di udara tapi juga di darat. Kemarahan Israel dilampiaskan ke penduduk sipil tak berdosa. Mereka ditangkap, dipukuli atau ditembak. Warga sipil yang cuma bisa berunjuk rasa secara damai atau gerakan sporadis lewat katapel atau lemparan batu harus dihadapi oleh Tentara Israel dengan laras senapan dan hujan peluru.

Siapa korbannya? Tentu bukan hanya warga Muslim, karena warga Palestina buka hanya Muslim, tapi yang jadi korban juga ada warga Kristen Palestina.

Jadi sesungguhnya serbuan membabi-buta militer Israel bukanlah perang agama tapi serbuan lebih pada persoalan politik dan kekuasaan yang dilakukan tanpa prikemanusiaan.

Namun demikan ada yang berpendapat bahwa sesungguh motivasi awal perang Israel-Palestina dilatar belakangi unsur agama.

Menurut akademisi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Baskara T. Wardaya, Israel berambisi ingin menguasai bumi Palestina, karena berpegang pada keyakinan yang mereka anut yakni Palestina adalah tanah air mereka sebagai mana yang telah dijanjikan Tuhan (Tanah Perjanjian). Jadi sampai kapan pun Israel akan tetap bersikukuh untuk memiliki Tanah Palestina karena itu wujud iman “keyahudian” mereka.

Leonard C. Epafras, seorang pemerhati Palestina pernah menulis artikel tentang keyakinan para penganut agama terhadap eksistensi Tanah Palestina. Dia menulis, bagi sebagian Orang Kristen (terutama penganut Mileniarisme atau Kerajaan Seribu Tahun), peristiwa konflik Israel-Palestina bisa dianggap sebagai makin dekatnya kedatangan Yesus.

Kedatangan itu diawali dengan pertempuran bangsa-bangsa di Yerusalem (Armagedon) dan kembali didirikannya Bait Allah Israel. Jadi konflik yang terjadi sekarang diterima sebagai sebuah keniscayaan semata dalam memenuhi keyakinannya terhadap Alkitab. Tulis Epafras.

Hal yang sama juga diyakini oleh beberapa kelompok Yahudi Ortodoks dan Ultra Ortodoks untuk segera mendirikan Bait Allah dalam menyongsong datangnya Mesias versi mereka.

Sejarah mencatatat, saat Israel mulai menguasai Yerusalem Timur usai Perang Enam Hari tahun 1967, seorang perwira Jenderal Moshe Dayan bernama Shlome Goren mendapat wangsit tentang kedatangan Mesiah. Wangsit itu kemudian menuntunnya bersama pengikutnya menyerbu masuk Haram al-Sharif melakukan upacara keagamaan dan bermaksud mendirikan sebuah Sinagog diatara Dome of Rock dan Masjid Al-Aqsa.

Peristiwa itu tejadi pada tanggal 16 Agustus 1967 bertepatan dengan Hari Tisha B’Av (Hari keagamaan yang memperingati runtuhnya dua Bait Allah Israel oleh Orang Babel dan Romawi).

Menghadapi dua kejadian tersebut, Muslim Palestina dengan semangat keagamaan yang sama kuatnya berusaha melindungi kepentingan Islam di Palestina. Yerusalem Timur, Kota Tua Yerusalem dan terutama Haram al-Sarif.

Skenario pemecahan masalah dari sudut agama menurut mereka adalah menjadikan Yerusalem (Timur) sebagai Kota Muslim dengan mengevakuasi Orang Yahudi dan Kristen (Sejak dulu Yerusalem tua sudah dibagi menjadi empat kampung. Kampung Kristen, Kampung Muslim (termasuk Haram al-Sarif), Kampung Armenia dan Kampung Yahudi).

Celakanya menurut Epafras, seluruh isu diatas juga menyerap energi seluruh bangsa di dunia, termasuk Indonesia.

Konflik Israel-Palestina memang meninggal luka yang teramat perih. Korban warga Palestina yang berjatuhan bukan hanya dari warga muslim tapi juga warga Kristen. Memang kebanyakan korban berjatuhan dari pihak Muslim tapi tidak sedikit juga dari warga Kristen. Mereka semua menjadi korban kekejaman mesin perang Israel.

Berdasarkan sejarah Palestina. Generasi demi generasi mayoritas warga Palestina Muslim dan penduduk Palestina Kristen hidup berdampingan secara damai. Mereka mencintai tanah air yang sama. Mereka juga memiliki cita-cita nasional yang sama. Keduanya sama-sama memimpikan kehidupan yang aman dan damai sebagai bangsa yang majemuk.

Di tengah kejinya penindasan Israel, mereka sama-sama berjuang demi tanah air Palestina yang merdeka, yang adil dan makmur setara dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi.

Sejumlah orang Kristen Palestina telah menjadi sosok yang berdiri di garis depan perlawanan rakyat Palestina. Diantara mereka ada, George Habash, Azmi Bishara, Emil Habibi dan Hanan Ashrawi. Mereka adalah tokoh-tokoh penting dalam politik Palestina. Ada juga penulis dan pakar hukum, Raja Shehadeh. Ada Produsen film terkemuka, Elia Sulaeman dan Nay abu-assad. Tak ketinggalan Raymonda Tawil, aktivis politik dan intelektual Kristen keturunan Palestina yang membela mati-matian Palestina di dunia internasional. Raymonda adalah juga ibu mertua almarhum Yasser Arafat.

Bagi warga Palestina, dalam memandang satu sama lain, tampak yang utama bukan apa agama seseorang. Tapi sejauh mana komitmen orang itu terhadap perjuangan bersama demi masa depan Palestina

Melihat banyaknya Orang Kristen yang berjuang demi kemerdekaan Palestina, pemerintah Israel sejak 1948 berusaha keras agar orang-orang Kristen hengkang dari bumi Palestina dan menetap di luar negeri.

Para pemimpin Israel tak keberatan jika dalam setiap serangan terhadap Palestina banyak warga Kristen menjadi korban operasi militer mereka. Dengan begitu Pemerintah Israel berharap warga Kristen Palestina menjadi ciut nyalinya dan berbondong-bondong keluar dari Palestina. Israel sadar kalau orang-orang Kristen yang menetap di Palestina memiliki potensi besar menjadi mediator sekaligus corong perjuangan Palestina dengan dunia luar. (untuk kasus ini kita tak bisa melupakan jasa pemimpin Umat Katolik se-dunia Paus Yohanes Paulus II yang membela perjuangan Palestina secara konsisten di Panggung Internasional).

Menariknya, tidak semua warga Israel yang beragama Yahudi menyetujui terjadinya perang. Diantara mereka ada menolak aksi kekerasan yang dilakukan pemerintahnya. Mereka sering melakukan aksi demonstrasi dan berhadap-hadapan dengan tentara. Bahkan tidak jarang mereka menggalang dana untuk membantu warga Palestina yang menjadi korban perang.

Usaha mereka bukan tanpa resiko, mereka dikucilkan, juga sering dilempari batu oleh sesama warga Israel khususnya kaum radikal Israel.

Jadi, perang Israel dan Hamas yang terjadi di Palestina adalah perang perebutan tanah, bukan perang agama karena sejatinya semua agama mengajarkan kebaikan dan menolak kekerasan.  

Mari berdoa agar Tuhan mengetuk hati para pemimpin dua kelompok yang bertikai saat ini, faksi Hamas dan pemerintah Israel duduk bersama menghentikan perang demi perdamaian di tanah Palestina.

Check Also
Close
Back to top button