Agar Hidupmu Lebih Manis

Seorang lelaki bersiap menikmati kopi buatan istrinya. Asap mengepul meninggalkan jejak aroma khas bau kopi. Sebuah rutinitas yang selalu menemaninya setiap pagi sebelum menjalankan aktivitas.

Seperti biasa hari ini dia minum kopi manis buatan istrinya. Pada seruput yang pertama, dia merasakan ada yang berbeda.

Jika selama ini kopi buatan istrinya selalu manis. Kali ini tidak. Dia tidak merasakan apa-apa selain rasa pahit yang ditinggalkannya.

Itulah fenomena kerja indera pengecap kita, lidah.

Tuhan menciptakan indera pengecapan kepada manusia agar bisa menikmati beraneka ragam rasa. Rasa manis, asin, asam, pahit, atau campuran dari rasa pencampurannya.

Dari indera pengecap itu, kita juga bisa belajar tentang hidup kita. Tentang rejeki. Tentang musibah. Tentang bagaimana kita menyikapi keduanya.

Manis dan pahit adalah dua rasa yang bertolak belakang.

Rasa yang paling banyak disukai adalah manis. Sebaliknya, pahit menjadi rasa yang paling tidak disukai.

Jika kita adalah indera pengecap (lidah), maka rejeki itu adalah rasa manis dan musibah itu adalah rasa pahit.

Mengapa harus ada rasa pahit?

Mengapa kita tidak cukup untuk merasakan manis saja di dunia ini? Jawabannya sederhana. Pahit ada agar manis menjadi lebih manis.

Fenomana hilangnya rasa manis pada kopi tadi, bisa kita umpamakan seperti orang yang mendapatkan rejeki yang sangat melimpah, sehingga rejeki kecil yang setiap hari ada terasa tidak diperlukan lagi, hambar.

Hal ini juga sama seperti orang yang kenyang, makanan berikutnya tidak akan membuatnya nikmat.

Pahit ada, agar manis menjadi nikmat. Musibah ada, agar kita bisa menikmati rejeki yang diberikan. Dan lapar ada, agar kita bisa merasakan nikmatnya kenyang

Begitulah kehidupan yang harus kita jalani. Semoga nikmat ini membuat kita tidak menjadi manusia yang lalai.