Humaniora

Anak Perempuanku

Melihat mereka rukun adem rasanya. Tapi pas bertengkar, Waduuh kepala ini seperti mau pecah. Benar-benar puyeng tujuh keliling. Memisahkannya itu lho, susahnya bukan main.

Repotnya lagi, kalau sudah begitu mereka akan membangun blok yang melibatkan pihak luar. Kalau bukan ayah, pasti bundanya.

Kemarin, sehabis bertengkar dengan kakak, adek merapat ke saya. Seperti biasa, kelihatannya dia tengah mencoba mencari dukungan.

Begitu mendapat respon, keluarlah segala uneq-uneqnya. Dia bercerita banyak tentang kakak.

Baginya, apapun yang berasal dari kakak tak ada yang baik di matanya.

Dia terus berdiplomasi meyakinkan saya untuk berpihak kepadanya.

Saya cuma tersenyum mendengar celotehannya. Tapi ketika dia mulai bertanya yang aneh-aneh apalagi pertanyaan itu tak masuk di akal bingung juga menjelaskannya.

“Katanya, kalau tahun baru ada acara tukar kado, yah?”

“Kata siapa?” Saya menyelidik.

“Kata teman di sekolah.”

“Lalu..?”

“Tukar aja kaka sama kado.”

Busyet..!!

Barangkali begini romantikanya memiliki anak perempuan. Yang pasti saya dituntut untuk memahami mereka yang berbeda jenis kelamin dengan ayahnya.

Tentunya berbeda seandainya mereka laki-laki. Akan lebih mudah memahaminya karena pernah menjadi anak lelaki.

Sampai disini untuk kontes perempuan bukan hanya anak, kita masih terus dibayang-bayangi kebingungan. Bahkan lebih akut, pernah lihat ada emak-emak naik motor yang menyalakan lampu sein kiri malah belok ke kanan.
Nah, bingungkan?.

Begitulah saking rumitnya, konon ada buku tentang bagaimana memahami perempuan yang ditulis, dan sang penulis sendiri sudah mencapai halaman 3.000.000, tanpa dia memahami apa yang sebenarnya dia tulis.

Bahkan pernah ada lagu yang dibuat untuk menegaskan hal itu, lirik lengkapnya saya lupa. Katanya, makhluk yang susah dimengerti itu bernama perempuan.

Tentang perempuan banyak hal yang perlu terus saya pelajari. Minimal ketika harus berhadapan dengan dua orang anak perempuan dan seorang mantan pacar.

Back to top button