Humaniora

Anomali Hujan

Pasangkayu, Bulan Agustus dan September biasanya angin berhembus lumayan kencang. Setiap siang atau sore hari anak-anak dan orang dewasa berkumpul di tanah lapang menyaksikan birunya langit dipenuhi layang-layang beraneka corak, warna dan bentuk.

Dalam memeriahkan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, lomba layang-layang jarang absen. Di ibukota kabupaten gelaran lomba selalu menyedot banyak penonton juga di kecamatan. Namun pemandang seperti itu tak lagi ditemukan karena sudah beberapa pekan ini, setiap hari turun hujan,

Hujan yang turun juga tidak main-main hampir tak ada jeda. Walaupun turunnya tak sampai seharian penuh. kadang rintik. Tapi sering deras. Waktunya juga tak beraturan biasa pagi, kadang siang, juga malam. Yang pasti tak ada hari tanpa hujan.

Palingan dalam sehari kalau hujannya berhenti cuma sejenak, seakan hendak mengambil nafas dan mengumpulkan tenaga. Setelah itu hujan lagi. Kondisi ini cukup mengherankan karena amat jarang saya merasakan hal seperti ini sebelumnya.

Kini bayangan banjir mulai menghantui. Apalagi posisi rumah yang rendah di kaki bukit dekat muara dan dikepung beberapa anak sungai. Bisa dibayangkan kalau tetiba airnya meluap, lalu datang banjir kiriman dari atas bukit, bersamaan dengan pasangnya air laut. Pasti amat mengerikan.

Untuk mengantisipasi hal-hal terburuk memang kami harus selalu bersiap. Siap dengan segala resikonya. Toh sebagai makhluk-Nya kalau bencana itu datang kita takkan sanggup mengubahnya selain berpasrah diri.
Meski demikian dalam hati tetap berdoa semoga kampung kami dijauhkan dari bencana.

Memang hujan itu seperti dua sisi mata uang yang berbeda, “Bisa membawa berkah. Bisa juga mendatangkan petaka.” Begitu kata sebagian orang. Namun ada juga yang kurang sependapat.

Bagi mereka hujan selalu membawa kebaikan, justru manusia-lah yang menyebabkan hujan yang seharusnya menjadi berkah berubah menjadi bencana. Karena ulah manusia yang ditugasi Tuhan untuk mengelolah alam tidak amanah menjalankannya.

Manusia yang tidak amanah menjadikan sirkulasi alam raya menjadi tidak lancar. Misalnya menebang pohon semena-mena. Sehingga tak ada lagi yang menyerap air ketika hujan datang.

Alhasil air yang tidak tertampung lantas meluap hingga menyebakan banjir atau tanah longsor.

Sederhanya begini, seumpama aliran darah dalam tubuh kita tetap mengalir yakin kehidupan tetap jalan. Sebaliknya jika tidak lancar atau tersumbat pasti akan berakibat fatal salah-salah bisa menyebabkan kematian.

Banjir juga begitu.

Jadi keadaan ini tak seharusnya menjadikan hujan sebagai terdakwa. Apalagi sampai menyalahkan. Karena yang terjadi adalah ketidaksiapan bumi menerima limpahan air hujan.

Saya bisa membayangkan seandainya hujan mampu berkata-kata barangkali akan protes karena tak mau disalahkan apalagi di kambing-hitamkan.

Hujan itu memang seperti anomali. Satu sisi ketika kemarau panjang dan terjadi paceklik air kita sangat mengharapkan kehadirannya. Namun disisi yang lain ketika turun hujan seperti sekarang malah kita berharap sebaliknya musim hujan segera berlalu. Kerena kuatir banjir.

Tentu tak semua bijak memaknai anomali itu. Ada juga yang keliru menanggapinya. Semata-mata menyalahkan hujan dan luput melihat peran manusia. Padahal sesungguhnya bisa jadi semua itu terjadi justru karena ulah tangan-tangan kotor manusia.

Check Also
Close
Back to top button