Humaniora

Belajar Mudah Kitab Kuning dengan Metode Al-Miftah di PP. Al-Falah Baras

Pondok Pesantren Al-Falah Baras mengisi bulan Ramadhan kali ini dengan melaksanakan kegiatan pelatihan baca kitab kuning dengan metode Al-Miftah.

Al-Miftah adalah metode mempelajari kaidah baca kitab kuning yaitu nahwu dan sorof secara praktis dan mudah. Metode ini diperkenalkan pertama kali oleh KH. Ahmad Qusairy Ismail di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Sidogiri Jawa Timur pada tahun 2011.

Akhir-akhir ini metode Al-Miftah telah marak dipraktekkan di berbagai wilayah indonesia termasuk di sulawesi. Kali ini pelatihannya diadakan di Provinsi Sulawesi Barat tepatnya PP. Al-Falah Desa Kasano Kecamatan Baras Kabupaten Pasangkayu pimpinan Ustad Muhammad Asadullah, S.Pd.I.

Pelatihan baca kitab kuning ini berlangsung selama dua Hari yakni dari tanggal 27 sampai 28 April 2021 dibawah bimbing langsung dua orang fasilitator nasional dari Pondok Pesantren Sidogiri yakni Ustadz Zaini Ali dan Ustadz Mahrus.

Kegiatan yang mengusung tema “Mari Berpartisipasi Menghidupkan Kembali Gairah Baca Kitab Kuning di Nusantara”, berhasil menarik minat banyak peserta dari berbagai kalangan.

Menurut panitia pelaksana Ustad Muhammad Agus Sholeh, “Kegiatan ini diikuti puluhan peserta. Kebanyakan peserta berasal dari kalangan santri, pelajar, aktifis, dan para pemuda kampung yang tertarik dan ingin menempa diri diri di bulan Ramadhan dengan kegiatan positif, salah satunya mempelajari metode praktis dan sistematis cara baca kitab kuning.

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Falah Ustad Muhammad Asadullah, S.Pd.I dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan menyampaikan bahwa “Training baca kitab Al-Miftah sejatinya telah direncanakan sejak tahun 2017 dan alhamdulillah bisa terlaksana saat ini”. Beliau juga menambahkan bahwa “training baca kitab Al-Miftah baru pertama kali diadakan di Kabupaten Pasangkayu. Jadi kami berharap hal ini menjadi langkah awal untuk membumikan tradisi baca kitab kuning di Kabupaten Pasangkayu.

Sementara itu salah satu peserta, Armin Syamsudin saat ditanya tentang harapannya mengikuti pelatihan menyampaikan, “saya sangat bersyukur karena bisa belajar langsung kaidah-kaidah membaca kitab kuning. Sehingga kedepannya saya berharap bisa belajar ilmu Agama Islam dari kitab karangan ulama-ulama termashur yang notabene kitabnya merupakan kitab kuning dengan tulisan Arab gundul dengan mudah” pungkas mahasiswa salah satu kampus swasta di Pasangkayu.

Muhammad Yunus

Aktivis dan Pemerhati Dunia Pesantren
Back to top button