Uncategorized

Belajar Tersakiti Ala Interisti

Sebagai fans Inter Milan, dikecewakan adalah biasa. Sudah tradisi, di awal musim moncer, pertengahan terseok-seok dan di akhir musim flop. Sebagai fans saya menikmatinya : tentu dengan gerundel campur umpatan.

Musim kompetisi 1997/1998. Melalui TV tetangga saya manyaksikan seorang pemain plontos berseragam biru-hitam menggiring bola dari tengah lapangan, melewati hadangan beberapa pemain, berlari meliuk dan melakukan tendangan yang menembus gawang lawan dan goll..

Saya tidak ingat lawan mainnya klub apa, atau hasil menang kalahnya. Yang jelas momen itu membuat saya jatuh cinta, mengidolakan pemain sepak bola. Belakangan, saya mengenal pemain itu adalah Ronaldo Luiz Narario De Lima atau lebih dikenal Ronaldo Brazil (karena sekarang ada Cristiano Ronaldo).

Teman main sang idola: Pagliuca penjaga gawang, Taribo West pemain gimbal ini penjagal lini belakang, sang legenda J. Zanetti, Youri Djourkaef, Diego Simione yang sekarang pelatih Atletico Madrid, dan tentu tandem sang fenomena yakni Ivan Zamorano dan sang kidal Alvaro Recoba.

Seperti mencintai pada umumnya, momen jatuh cinta pada Ronaldo saat itu begitu menyenangkan. Setiap dia menggiring bola, saya yang kegirangan, setiap dia berada di depan gawang lawan saya yang berdebar. Begitu mengasyikkan.

Tapi setali tiga uang. Mengidolakan sang pemain pada klub sepak bola akan merembes pada mecintai klub yang bersangkutan. Ya, Inter Milan. Saya mulai mencintainya dengan pelan : melalui keberingasan Taribo West menyapu bola di area pertahanan, lewat kerja keras J. Zanetti, pada kelincahan Djourkaeff atau pada harapan-harapan gol atas tendangan kidal Recoba, dan juga semangat Zamorano menggedor pertahanan lawan. Hal lebih pada ‘tarian’ Ronaldo menggocek bola. Atas semua itu, saya mentasbihkan diri sebagai Interisti, fans Inter Milan, penyuka Liga Italia Seri A.

Mencintai, mengidolakan pemain bola ternyata berbeda dengan mencintai klubnya. Sebagai Interisti, merana adalah hal biasa. Pada awal musim kompetisi 1997/1998, Inter Milan begitu berjaya, tetapi kehilangan taji pada pertengahan musim, hingga akhirnya tak juara Seri A. Momen menyakitkan saat itu tentu kekalahan atas rival abadi Juventus, berharap memenangkan laga, justru kalah kontorversial 0 -1 atas gol Del Piero. Ditengah euforia pada sosok sang fenomena Ronaldo dan asa atas Scudetto Seri A, menyesakkan tentunya.

Seingat saya, ada laga lain yang begitu menyakitkan. Laga melawan Udinese, saat butuh point penting, Inter Milan merana. Saya ingat itu gol sundulan striker Udinese Olifer Bierhoff pada akhir laga. Sebagai seseorang yang baru belajar mencintai itu sangat melukai. Ditusuk di akhir pertarungan.

Atas momen-momen menyesakkan itu, justru membuat saya lebih militan mencintai Inter Milan. Saya kurang tahu pasti. Tapi bagi pecinta sambal pedas mungkin ada kemiripan. Pada saat kepedisan ngoah-ngaoh, tapi pas makan tidak ada pedas terasa hambar. Begitulah mengidolakan Inter Milan : kecewa, tersakiti menjadi bumbu lezat mencintai.

Tetapi ada alasan ideologis. Inter Milan merupakan simbol perlawanan atas hegemoni penguasa Kota Milan. Saya juga diantara yang tidak terlalu suka atas kedigdayaan yang berkepanjangan. Mungkin anti kemapanan : saya tidak terlalu suka klub yang terlalu lama berkuasa. Barca, Madrid, MU saya kurang menyukainya karena itu.

Dan mencintai Inter Milan berbeda dari itu semua : sering kalah, dibuat kecewa, kok menurut saya ada perasaan asyik yang unik.

Mencintai Inter Milan pada masa musim kompetisi 1997/1998 bukan nir prestasi. Pada Mei 1998 Inter merengkuh piala UEFA setelah menghembaskan tim kuat Lazio 3-0 lewat gol Ivan Zamorano, J. Zanetti dan tentu Ronaldo. Tahun ini merupakan tonggak dimana Inter Milan dan para pemainnya mulai diperhitungkan.

Setelahnya, pada gelaran Piala Dunia 1998 para pemain Inter Milan menjadi penentu pertandingan. Saat itu, saya menjagokan Brazil sebagai juara. Tentu karena ada Ronaldo. Tapi Brazil kalah 2-0 dari sang tuan rumah Prancis. Dalam hati kecewa, meskipun tidak sepenuhnya. Karena gol kemenangan tandukan ke-2 Zidane merupakan assist sepak pojok pemain Inter Milan Djourkaeff. Begitulah. Tetap ada Inter Milan. Kecintaan padanya terkadang juga mengimbangi kekecewaan.

Era setelahnya, Inter Milan tidak terlalu berbunyi. Kembali akrab dengan inkonsistensi, kembali menyakiti.

Kemudian pada 2005/2006 terkuaklah skandal calciopoli. Inter Milan skuad Allenatore Roberto Mancini dinobatkan sebagai juara. Calciopoli ini juga merupakan tanda bahwa sebenarnya pada saat itu, Inter Milan layak menjadi kampiun Seri A, tetapi wasit dan para petinggi klub lain mencurinya. Calciopoli juga merupakan jawaban atas ‘sakit’ Interisti pada masa-masa kompetisi itu.

Hingga 2009/2010. Inter Milan dibawah komando The Special One Mourinho merengkuh treble winner : Scudetto Seri A, juara Coppa Italia, dan Juara Liga Champion. Ini momen abadi sejarah klub. Saya ingat bagaimana pertandingan mendebarkan Inter Milan mengalahkan Barcelona 3-1 pada saat semifinal atau laga final dimana Diego Milito menyisir sisi kiri Bayern Munchen dan menceploskan gol kemenangan.

Gambar : InterMilan FC

Setelah era ini, klub berjuluk Nerazzuri ini kembali pada khittah inkonsistensinya. Terkadang main bagus sekali, tetapi pada momen tertentu kalah menyesakkan. Atau pada babak pertama begitu bertenaga, tapi babak kedua tak berdaya.

Hingga saya menjumpai era Allenatore Antonio Conte.

Didatangkan pada 2019, Conte telah mengubah wajah Nerazzuri. Musim pertama melatih, finis sebagai runner up Seri A dan juga hampir juara Piala Europa. Lagi-lagi ini pertandingan menyesakkan. Kalah 3-2 dari Sevilla di final, meski sempat unggul di awal laga. Romelo Lukaku sebagai protagonis sakaligus antagonisnya. Dia mencetak gol pinalti tetapi juga menciptakan gol bunuh diri!. Trofi melayang dan berlabuh di pelukan lawan.

Musim ini berbeda. Sempat kesulitan di awal kompetisi, kini Nerazzuri menemukan konsistensi. Antonio Conte merubah pada pemain Nerazzuri lebih bertaji : disiplin tinggi dan memiliki identitas tersendiri. Beberapa pertandingan, justru pada babak kedua Nerazzuri menemukan irama : lebih banyak mencetak gol, terutama di menit ke 60an. Coba perhatikan!.

Formasi 3-5-2 menempatkan Stefan de Vrij, Milan Skiniar dan Alessandro Bastoni menjadi benteng mumpuni bersama sang kapten Handanovic. Sisi kiri yang dihuni Ivan Perisic dan Archaf Hakimi pada sisi kanan menjadi amunisi tersendiri yang disokong oleh konsistensi Brozovic dan kerja keras ala Barella. Eriksen atau Vidal adalah bukti kemewahan lain skuat allenatore Conte. Barisan striker jangan ditanya lagi. Duet Lu-La : Romelo Lukaku dan Lautaro Martines begitu menakutkan pertahanan lawan.

Belum lagi Alexiz Sanches yang seolah ‘hidup kembali’. Dia datang disaat yang tepat dan merupakan senjata rahasia Conte bersama Eriksen. Lihat bagaimana pertandingan sulit melawan Torino pekan lalu. Menit akhir sebagai pemain pengganti, dia melambungkan bola dari sisi kiri yang disambut lompatan dan gol berkelas ala Lautaro Martinez. Dimana berkelasnya? Coba Anda lihat bagaimana reaksi Sirigu sang penjaga gawang Torino yang seakan tak percaya.

Khusus Eriksen, memang dia kalem. Tapi reaksi atas pertandingan begitu luar biasa. Dia tipe pemain cerdas yang bisa menyusup dan memberi kontribusi penting pada setiap momen yang menentukan pertandingan.

Oh iya, membincang ketajaman lini depan Inter Milan tanpa menyertakan nama Christian Vieri, seperti halnya mencintai seseorang tapi lupa hari ulang tahunnya, hampir saja berdosa!. Padahal ketika saya pulang kampung baru-baru ini gambarnya masih terpampang di pintu kamar. Stiker berlogo Piala Eropa tahun 2002 yang memampang Vieri berlari merentangkan tangan, selebrasi khas pemain termahal dunia pada 1999/00.

Merapat ke Nerazzuri dengan alasan ingin berduet dengan Ronaldo, Vieri hanya mencatatkan 11 pertandingan bersama Ronaldo yang sudah akrab dengan cedera akut. Enam musim membela Nerazzuri yang merupakan bukti cintanya pada sebuah klub, Vieri hanya mempersembahkan satu trofi Copa Italia.

Momen menyesakkan duet Vieri-Ronaldo tentu pada musim 2001/22. Scudetto di depan mata. Unggul satu poin atas sang rival Juventus, Vieri cs justru kalah menyakitkan dari Lazio saat laga pamungkas Seri A. Unggul lebih dulu oleh gol Vieri, Nerazzuri mengakhiri laga dengan tangisan. Pada akhir laga : Ronaldo tertunduk lesu, menutup mukanya sembari bercucuran air mata.

Sudah. Itu menyakitkan. Kita kembali ke kompetisi sekarang.

Kalau saya disuruh memilih momen penting pertandingan musim ini yang dilakoni Nerazzuri, saya menunjuk pertandingan pada pekan ke-23 melawan AC Milan. Nerazzuri menang meyakinkan 3-0. Tapi bukan itu poin pentingnya. Hal penting lain bagaimana sikap para pemain Nerazzuri atas pertandingan : fokus, disiplin dan kerja keras. Coba Anda bandingkan dengan sikap para pemain AC Milan : terlalu percaya diri. Gambaran ini terbaca bagaimana Ibrahimovic menjalani laga : terlalu santai bahkan cenderung meremehkan lawan. Dan hasilnya? pertandingan lebih berpihak pada kerja keras Romelo Lukaku cs.

Pertandingan menenetukan. Karena setelah laga, Nerazzuri unggul 2 poin di puncak klasemen atas saudara tua mereka, AC Milan. Ini merupakan kudeta tahta yang menyenangkan, tapi tentu menyakitkan bagi Milanisti.

Titik balik pada Derby Milano telah mengubah wajah Nerazzuri dan kompetisi Seri A musim ini. Nerazzuri kini : 12 laga terakhir tanpa kekalahan dan unggul 9 poin di puncak klasemen.

Sebagai Interisti saya merasa puncak Seri A masih dingin dan sunyi. Tetapi untuk membicarakan kans Scudetto musim ini, mungkin ada baiknya saya betanya pada Milanisti dan Juventini. Menyakitkan (lagi) atau menyakiti?, kita seduh kopi saja dulu.

Ulya Sunani

Menulis Untuk Senang dan Menang
Back to top button