Humaniora

Cerita Corona dan Masyarakat yang Sudah Mulai Terbiasa

Beragam cerita. Topik dan ekspresi saling bersambut. Cerita keluarga. Cerita tetangga. Cerita Negara; politik, ekonomi, dan tatanan sosial dikuliti. Ini diantara yang saya suka ketika naik pete-pete. Angkutan umum bagi masyarakat Sulselbar, mungkin juga untuk Sulawesi Tenggara? Saya belum dapat referensi pasti.

Corona. Banyak membuat orang khawatir, takut bahkan hanya dari ceritanya. Tapi ada sisi cerita yang menurut saya bisa melebarkan tawa.

Sekitar lima orang penumpang. Saya duduk bersebelahan dengan pak sopir. Menempuh jarak 16 Km kurang lebihnya. Di belakang, mama-mama riuh bercerita. Ditimpali sesekali seorang laki-laki agak tua. Mereka pappasar (orang yang kerja di pasar) yang pulang sehabis menjajakan jualannya.

Awal cerita, atau lebih tepatnya lanjutan cerita sebelum saya naik di mobil pete-pete kayaknya. Mereka bercerita tentang seorang pedagang yang berebut ikan untuk dijual dari seorang nelayan. Rebutan barang berupa ikan segar untuk diperjualbelikan kembali. Hal yang membuat perkelahian tak terhindarkan, meski di pete-pete. Saling maki, saling umpat di ruang penumpang. Ini menurut pengakuan pak sopir sambil tertawa.

“Iya, masak mereka berkelahi di mobil,”katanya.

Dari itu, muncul pengakuan dari mereka.  Bahwa dia tidak apa. Tidak kemrungsung, serakah memburu rezeki seperti yang mereka cerita. Menerima apa datangnya rezeki yang ada. Hari itu hasil jualan, maka itulah rezeki mereka yang telah digariskan sebelumnya oleh sang pencipta.

Bahkan mereka menerima dengan lapang dada seperti bantuan pemerintah bagi masyarakat terdampak Corona. Seorang bercerita. Sebelum ada Corona tidak pernah menerima bantuan apapun dari pemerintah seperti yang baru-baru ini mereka terima.

“Ada minyak goreng, gula, kecap dan semacamnya. Kayaknya 200-an ribu harganya. Seumur-umur barusan dapat bantuan. Adapi Corona,”sabdanya.

Sang sopir menimpali. Sore dia terima bantuan. Pagi digeruduk tetangga. Dia hanya diberi. Tidak pernah minta. Itu kata sambungnya. Tanda-tandannya, sore ketika bantuan tiba, Kepala tetangga muncul pertama di jendela dan pintu rumahnya. Memperhatikan dengan seksama bantuan yang ada.

Lain lagi cerita. Seorang nenek riang gembira. Terima bantuan atas wahah Corona. Memang orang tua. Lebih bisa menghargai daripada kita ini yang muda.

“Baiknya ini Corona, na kasihka’ bantuan. Semoga Corona sehat-sehat, bertambah rezekinya, dan panjang umurnya,”pintanya.

Dia kira. Corona adalah mahluk hidup. Sebangsa manusia yang baik hatinya. Saya mau bilang, “Nenek, sembako saja yang dibagi manusia itu hanya pada musim Pilkada, selebihnya ketika agama mewajibkan. Saat takbir hari raya”.

Corona. Memang mahluk hidup, tapi tak sebaik yang dikira. Dia belum tahu kalau Corona ini membuat panik dunia. Semua tatanan kehidupan berubah gara-garanya.

Saking berpengaruh. Seorang nenek dilarang bepergian ke suatu daerah oleh anaknya. Dia ngeyel. Tetap mau pergi apapun yang terjadi. Dijelaskanlah bahwa Corona sangat berbahaya.

“Bahaya pale, kenapa tidak ditangkap saja sama Polisi itu Corona?,”sergahnya.

Corona. Memang telah membuat kebingungan bersama. Mahluk hidup yang membuat agama dan sains berdebat hebat memperebutkan legitimasi.

Tapi toh yang rasional yang memenangkannya. Sains dengan segala argumen dan eksperimen. Melumpuhkan agama untuk seketika. Setidaknya itu pendapat pribadi saya.

Kini, konteks cerita telah berubah. Cerita di atas sudah usang. Lebih setahun masyarakat didera, dan sekarang sudah mulai terbiasa dengan wabah yang ada. Penerapan protokol kesehatan salah satu sebabnya. Dengan pakai masker, cuci tangan, jaga jarak dan kerumunan hingga mengurangi mobilitas masyarakat sudah mulai membiasakan diri.

Ceritanya tak semengerikan tahun lalu. Dengan biasa kita sekarang bercerita, si A positif dan si B sudah sembuh. Bahkan seakan sudah bukan lagi pandemi, banyak yang beraktivitas seperti biasa.

Protokol kesehatan biasa hanya syarat administrasi, selepas itu mereka lepas masker kemanapun pergi. Longgar sekali, bahkan lebih-lebih selepas vaksinasi.

Namun, waspada dan hati-hati menurut saya tetap menjadi solusi. Tidak ada salahnya tetap dengan ketat mempraktikkan protokol kesehatan. Toh, itu juga pola hidup sehat yang akan tetap bermanfaat. Karena di luar sana masih banyak diantara kita yang terjangkiti. Lebih-lebih ada informasi mutasi virus jenis baru, ini jelas menuntut kewaspadaan tinggi.

Memang kita harus bangkit dengan segera dari situasi ini, tapi dengan menyepelekan tanda-tanda alam sekitar jelas sebuah kecerobohan. Menggadaikan kewaspadaan diri pada alasan bahwa yang lain juga sudah longgar jelas sebuah kebodohan.

Pedagang harus berjualan kembali, masyarakat harus cepat dapat kerja kembali, para pekerja keras harus membanting tulang kembali, karena kalau terlalu lama berlarut jelas melemahkan sendi-sendi ekonomi. Dan hal ini bisa saja menjadi musibah baru bagi kehidupan.

Terkait itu, optimisme pada masa depan tetap harus dijaga, melalui kerja keras tentunya. Karena kita hidup bukan hanya untuk kita hari ini dan esok, tapi demi generasi berikutnya.

Ulya Sunani

Menulis Untuk Senang dan Menang
Check Also
Close
Back to top button