Humaniora

Cerita dari Salassae: Petani Melawan Korporasi Agribisnis

Tak banyak orang tahu, siapa aktor dibalik pemerintah yang melanggengkan kemiskinan dan penderitaan petani yang berkepanjangan. Pemerintah yang dianggap sebagai garda terdepan membantu dan melindungi hak-hak petani, justru berafiliasi dengan korporasi. Pemerintah disibukkan dengan pekerjaan eksternal untuk melindungi dan melancarkan korporasi yang bergerak di sektor  pengembangan dan penyediaan jasa produksi agribisnis. Sementara, pekerjaan internal diabaikan.

Diperkirakan empat dekade terakhir, tak henti-hentinya perusahaan internasional yang berkedudukan di Indonesia merampas hak-hak petani di pelosok desa. Pemerintah yang dianggap sebagai pelindung petani turut memfasilitasi dan melanggengkan penindasan kepada petani melalui surat kerjasama dengan jangka waktu yang tidak ditentukan.

Artinya, potensi penderitaan dan kemiskinan petani tidak bisa di tangani lagi, karena surat perjanjian kerjasama antara pemerintah dan perusahaan yang tak kunjung dihentikan atau dicabut. Karena dokumen perjanjian kerjasama diatas, membuat petani bertambah terlilit utang, dikarenakan besarnya biaya input produksi setiap musim panen.

Sebagian besar Lahan dan benih pertanian sudah terkontaminasi dengan bahan-bahan sintetis, sehingga rasa ketergantungan petani terhadap input produksi sangat besar hingga saat ini. Hal ini terjadi, semenjak adanya program revolusi hijau orde baru yang merubah corak produksi, sehingga melahirkan rentetan persoalan yang dirasakan petani diberbagai kabupaten/kota dan pelosok desa di Indonesia.

Rasa ketergantungan bisa berkurang, jika petani mampu membuat pupuk dan menghasilkan bibit sendiri. Jika ini bisa dilakukan, potensi untuk menghilangkan rasa ketergantungan terhadap pupuk kimia sintetis dan benih kimia buatan korporasi di bumi Indonesia. Ini bisa terwujud, jika petani tidak menggantungkan sistim bertani nya kepada perusahaan, kata kesejahteraan, ekonomi keluarga petani meningkatkan dan keberlanjutan lingkungan bisa tercapai dan diwujudkan.

Bagaimana cara petani Salassae melawan korporasi?

Petani yang bertempat tinggal di Butta Panritalopi atau dikenal Bulukumba Toa tepatnya di Desa Salassae, di sini petani mengembangkan sistim budidaya pertanian secara alami tanpa ada campuran bahan kimia sintetis. Kegiatan ini sudah berjalan sepuluh tahun terakhir, yang dimulai sejak tahun 2011 hingga saat ini.

Di pematang sawah, seorang petani Salassae bernama Abdul Wahid menceritakan perjuangannya melawan dan memboikot produk perusahaan yang bergerak di bidang agribisnis penyedia input produksi.

Cara kami sederhana saja katanya, kami tidak perlu turun ke jalan, melakukan demonstrasi didepan gedung pemerintahan untuk memutuskan surat kerjasama antara pemerintah dan perusahaan, kami juga tidak perlu mengeluarkan uang yang banyak untuk melawan mereka, cara kami simpel melawan perusahaan ini, kita hentikan mengunakan produknya, kita Kampanyekan di petani bahwa ada sistim bertani yang tidak mengeluarkan biaya yang banyak, seperti biaya pupuk dan benih.

Lelaki kelahiran Bulukumba Sulawesi Selatan ini melanjutkan ceritanya, Kalau ini bisa dilakukan secara terus menerus, petani kita akan sejahtera. Tidak perlu lagi kita berharap bantuan dari pemerintah. Kan, ini yang menjadi masalah utama, sehingga petani-petani di desa tidak pernah sejahtera, karena pupuk dan benih serba dibeli, padahal bisa dihasilkan sendiri oleh petani dengan memanfaatkan sumberdaya lokal yang tersedia di kampung kita.

Dua bulan yang lalu petani berteriak, karena terjadi kelangkaan dan harga pupuk naik, sementara petani alami yang tinggal di Desa Salassae, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan tidak pernah khawatir dan takut gagal panen seperti petani konvensional pada umumnya. Kata Abdul Wahid.

“Benih dan pupuk kami buat sendiri’. Ujarnya

Dia menjelaskan, cara membuat pupuk sangat muda dan simpel, tidak perlu juga menggunakan bahan dan peralatan yang mahal untuk itu memformulasikannya, semua ada disekitar kita.

Pak Wahid menguraikan lagi cara membuat pupuk alami, misalnya membuat pupuk atau nutrisi alami Nitrogen (N) bisa kita buat dari ikan segar, limbah ikan, jika tidak ada bisa gunakan daging siput. Untuk pupuk/nutrisi Phospor (P) bisa kita jumpai di pekarangan rumah atau kebun seperti jantung pisang maupun anak pisang. Dan kemudian untuk pupuk/nutrisi  Kalium (K) kita bisa dapat di tempat yang sama seperti rebung bambu. Sementara untuk pembuatan herbisida/nutrisi herbal pengusir hama-penyakit di bisa kita dapat dengan mudah, seperti cabe, bawang putih dan lain-lain yang rasanya pedis dan menyengat.

bahan-bahan diatas kita campur dengan gula merah dengan takalar satu berbanding satu contohnya ( 1 kg limbah ikan dan 1 kg gula merah). Setalah itu, limbah ikan dan gula merah ini kita potong hingga kecil. Lalu bahan yang sudah kita potong, kita masukkan dalam satu wadah (toples), diaduk hingga merata. Kita tutup dengan kertas plano. Kemudian dibiarkan selama satu minggu untuk proses fermentasinya. Setelah proses fermentasi sudah selesai, kita saring atau memisahkan ampasnya, sisakan air. Baru kita aplikasikan pupuk/nutrisi alami yang kita buat di tanaman. Untuk takalarannya satu sendok pupuk/nutrisi alami yang kita buat di tambah dengan lima liter air. Seperti itu sebutnya.

Untuk mendapatkan benih unggul seperti benih padi lanjutnya, kita bisa mengawinkan tanaman padi yang dianggap cepat berbuah dengan tanaman padi yang kuat batang dan banyak anakannya atau paling mudah lagi bisa kita dapatkan di hamparan sawah, cari tanaman padi yang dalam satu rumpun memiliki jenis padinya berbeda. Kalau tidak mengetahuinya bisa kita menggunakan kembali benih yang kita hasilkan.

“Sebenarnya bertani alami sederhana sekali, tidak terlalu ribet, beda dengan petani konvensional yang selalu bergantung pada benih dan pupuk dari pemerintah dan perusahaan”

Sampai hari ini katanya, kami tidak pernah berhenti mengajak dan menyebarkan informasi yang baik ini sesama petani, meraka harus rasakan apa yang kami sudah rasakan.

Gagasan perlawanan petani Salassae melawan korporasi yang bergelut di sektor bisnis penyedia jasa benih dan pupuk terus di lakukan dan di kampanyekan mulai dari petani di desa hingga diluar desa. Katanya, hanya ini yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan kedaulatan petani.

Petani berdaulat katanya, ketika petani mampu menghasilkan benih dan pupuk sendiri. Jika benih dan pupuk masih kita beli, jangan berharap petani berdaulat” semua itu hanya cerita.  Tutupnya.

Check Also
Close