BudayaHumaniora

Dunk-Dunk-Cet

Usianya tak lagi muda. Kerutan terlihat jelas di setiap senti permukaan wajahnya. Rambutnya tipis nyaris botak penuh uban. Tubuhnya bungkuk. Jalannya terseok dipaksakan. Ia terlihat sangat berbeda dari yang kukenali puluhan tahun silam.

Yang tak berubah cuma kulit putih dan mata sipitnya.

Saya hampir tak mengenalinya andai bapak tak merangkul dan mempersilahkannya masuk. Pria tua itu sumringah balas memeluk untuk kemudian pamit masuk ke arena pesta.

Malam itu keluarga kami mengadakan pesta pernikahan adik sepupu di kompleks Pasar Wonomulyo, jalan Raden Soeparman. Hampir semua warga sepanjang jalan itu hadir termasuk pria tua tadi.

Sejenak ingatanku melayang ke masa kanak-kanak.

Kala itu, ia termasuk (maaf) makhluk langka. Karena menjadi salah satu dari enam orang etnis Tionghoa yang bermukim di Desa Sidodadi.

Kalo tak salah selainnya, ada Tauke Lau’ yang bermukim di Kappung Pattae’ sebelah selatan rumahku. Ada juga Hartono pemilik Toko Mas Jawa, Bheng Kie penjual sepeda dekat Masjid Raya Merdeka, Ang Ghu juragan kulit ular di Kappung Palece. Dan terakhir Ming kho seorang pengusaha pemilik Warung Subur yang terletak di sebelah kantor PDAM Wonomulyo.

Tahun 80-an pria tua ini memiliki toko bahan bangunan yang cukup besar. Fajar Harapan, namanya. Saya biasa di suruh bapak membeli balon lampu atau cat.

Relasi keluarga kami dekat sehingga bila ada kebutuhan bahan bangunan, kami berbelanja di tokonya. Sayang, identitas aslinya tak pernah diketahui selain tauke yang disematkan untuk menyebut namanya.

Seingat ku pernah beberapa kesempatan menemani kakek membeli bahan bangunan untuk kebutuhan pembangunan Masjid. Pria tua itu sering Kalo tak bisa dibilang selalu memberi cuma-cuma. Katanya, untuk kebutuhan masjid tak perlu bayar. Gratis.

Jujur setiap kali diajak kakek kesana muncul rasa risau. Karena biasanya usai jual beli acaranya diteruskan dengan ngobrol sambil ngopi di ruang tengah di temani bau dupa menyengat. Dupa itu letakkan dekat patung Dewi Kwang Im di sudut ruangan.

Jadilah saya penonton keasyikan mereka. Tak bisa apa-apa. Cuma menunggu dan ini membosankan.

Dari kakek saya dengar cerita, dulu leluhurnya mahir bela diri Kwangtao dan pemain Dunk-dunk-cek yang terkenal. Dunk-dunk-cet itu tak pernah lagi muncul sejak Soeharto berkuasa. Saya tak mengerti apa itu Dunk-dunk-cet.

Belakangan baru saya ketahui Dunk-dunk-cet itu sebutan orang kampung untuk permainan Barongsay. Dunk-dunk-cet berasal dari bunyi tambur dan simbalnya.

Kemarin, saya mengajak kedua putri ku nonton Dunk-dunk-cet. Kepada mereka kubisikkan, berterima kasih lah kepada Gus Dur. Ia mengajarkan kita bahwa dunia tak sepenuhnya padang pasir..

Check Also
Close
Back to top button