Humaniora

Enam Dekade PMII, Salam Pergerakan Rakyat Biasa!

Sebagai organisasi gerakan, PMII mengkonsolidasi kekuatan gerakan masih berbasis pada daerah dan wilayah. Berdasar info berantai ada 230 cabang dan 24 koordinator cabang. Namun, itu PMII yang serius-serius, garis lurus secara institusi, PMII yang Besar. Ada juga yang tak bergaris, PMII Kecil namanya.

Konteksnya begini.

Pertama, PMII adalah wadah besar. Padanya terdapat berbagai macam ide, gagasan dan perspektif serta model gerakan. Ada pilihan gerakan : formal organisasi, gerakan jalanan dan gerakan kultural.

Nah, wadah besar ini memunculkan berbagai model kader : ada yang memilih tongkrongi organisasi, ada yang sukanya demo-demo atau parlemen jalanan, mojok baca buku dan kajian juga jadi pilihan. Kader PMII biasa-biasa juga ada : anggota tapi tak terlalu mengikuti ritme organisasi, sibuk kuliah tapi di kost-nya terpampang mencolok kalender PMII, ada pula yang senang kumpul-kumpul kalau ada kegiatan.

Ini bagian dari keindahan PMII. Saya diantara yang terpesona saat pengkaderan. Kucuran materi yang membuat ide menyala-nyala dan pendampingan sahabat senior yang supel. Keduanya berpadu hangat melengketkan jiwa raga pada PMII.

Belum lagi makanan khas pengkaderan : ikan teri, tempe ukuran dadu dan sambel pedas tersaji dalam nampan yang terjangkau oleh banyak tangan. Awalnya saya menduga, makanan saat itu ada jampi-jampi, baca-bacanya senior, sehingga membuat yang memakannya tidak bisa melupakan momen itu dan akan menganggap itu makanan terlezat di dunia. Itu dugaan yang sampai saya jadi senior tak pernah terbukti.

Ini kenangan. Saya stop dulu cerita masa pengkaderan, karena momen ini akan memantik siapapun untuk tak bisa berhenti bercerita. Mending kelanjutan bahasan kita sambung bersama di kolom komentar.

Kedua, konteks pergerakan zaman. Era perkembangan teknologi informasi semua terhubung terlayani : kedaerahan kewilayahan tak lagi punya sekat berarti, akses pengetahuan tak bisa dibatasi. Issu menyebar sepersekian detik seiring hembusan angin.

Tanda penting dari era ini adalah kebebasan jiwa raga : siapapun bisa memproduksi, menumpahkan gagasan, sementara jari jemari juga begitu leluasa mengapresiasi. Maka mari merayakan era Atta Halilintar ini dengan suka cita penuh gembira.

Terus dimana posisi PMII di era Atta-Aurel ini?. Pada pemanfaatan media sosial bahkan untuk isu apapun. Termasuk melambungkan isu yang mengakar. Isu kerakyatan bukan isu kekuasaan.

“Terdepan dalam Kemajuan” boleh saja, tapi jangan lupa yang dikedepankan adalah substansi keberpihakan pada isu rakyat biasa : isu harga produksi pertanian, isu hasil tangkapan nelayan misalnya. Tapi saya kurang tahu, apakah isu beginian cocok dengan PMII yang Besar.

Kalau begitu, biar kami PMII Kecil ini yang tampung saja. Karena basis gerakan PMII ini memang gagasan, bukan kekuasaan semata.

PMII jenis ini sudah tumbuh kembang selama 20 tahun. Pondasinya sama, Aswaja ala NU.
Fokusnya adalah bagaimana menarik sublimasi ke-Islaman dan menyambungkan pada konteks lokalitas, Islam sehari-hari rakyat biasa. Maklum, para kader berasal dari latar belakang beragam : ada santri, tapi kebanyakan alumni pesantren kilat.

Karakter Indonesia Timur memberi warna. Pemahaman lokal ke-Islaman lebih kental dibanding Islam formal. Ke-Islaman Indonesia Timur : bukan lemah secara syariat, tapi memang lebih dominan pada hal-hal substantif nilai ke-Islaman. Formulanya jelas : menemukenali paham Islam lokal dan Aswaja kemudian menggumpalkan itu menjadi keyakinan, sandaran pondasi ideologi keber-Islaman kader.

Hal ini dipermantap dengan NDP. Menurut saya ini intinya. Operasional nilai yang mendasari setiap pergerakan : ketauhidan pada keihklasan, kemanusiaan, dan kemanfaatan alam yang dibungkus dengan Ilman nafi’a. Di sinilah kita bisa tertawa dengan lepas dalam melakukan gerakan bahkan aktivitas keseharian.

Bagi saya NDP bukan hanya untuk berorganisasi, tapi untuk laku sehari-hari. Ketika menyandarkan gerakan, aktivitas pada keikhlasan, maka selanjutnya ya tertawa saja.

Kembali lagi pada PMII Kecil. Selama 20 tahun berdiri, PMII model ini kerjanya hanya mengkader dan mengkader saja. Sebelum pandemi, PMII ini melakukan Mapaba Akbar dengan jumlah peserta 500an. Benar-benar Mapaba yang Akbar!.

Ribuan kader dilahirkan. Mereka mendominasi warna setiap organisasi kemahasiswaan yang dimasuki dengan ide dan gagasan. Menjadi tameng masuknya warna dan aroma organisasi ekstra lain.

Tugas kader hanya belajar dan belajar. Mojok kajian dan atau turun di lapangan melakukan pendampingan : pada eks penderita kusta, pada anak-anak terminal, pada komunitas-komunitas lokal termarginalkan, pada orang biasa.

Dalam ruang produksi kader, memang aroma politik agak dikesampingkan. Ini untuk menjaga semangat ketawadhuan. Hal yang biasa tergerus ketika politik praktis sudah menjadi bagian dari arus internal.

Pada ranah distribusi kader. Mereka bisa jadi apa saja. Beberapa alumni juga ada yang jadi anggota Dewan, akademisi, bahkan pejabat pemerintahan. Tapi saya bisa pastikan, perlakuan kader akan sama bangganya ketika bersua siapapun Sahabat Seniornya. Mau yang sudah berkuasa atau yang masih biasa-biasa saja : akan minta foto selfi atau meng-upload kebersamaan mereka pada akun media sosialnya. Ini ukuran kebanggaan kekinian saya rasa.

Momen Kongres PMII ke-20 Samarinda jadi pelajaran. Mereka hanya dengar selentingan ada “mainan”. Mungkin bagi banyak kalangan itu dinamika, tapi bagi PMII Kecil, itu merupakan cerminan “etika”.

Kehadiran PMII Kecil dalam jazirah pergerakan bukan karena tidak dapat bagian jabatan struktural, tapi lebih pada memberi warna alternatif gerakan PMII yang dominan.

Ketika ditanya, “memang tidak capek Ber-PMII hanya mengkader dan mengkader saja?”. Paling mereka hanya tertawa. Dasar PMII Metro Makassar!.

“Kok isu dan gagasan tidak nyaring terdengar?”, ah, mungkin Anda terlalu ribut pada isu-isu kekuasaan, sehingga tidak mampu mendengar suara lantang pergerakan.

Oh iya. Selamat Harlah PMII Besar yang ke-61. Salam pergerakan rakyat biasa!.

Ulya Sunani

Menulis Untuk Senang dan Menang
Back to top button