Humaniora

Gus Baha, Anak dan Seandainya Para Ekstrimis itu

Melihat Wusqo dan mata jeli Khurun yang baru saja Ulang Tahun ke-1 pada 2 April lalu, saya ingat pesan Gus Baha’.

Gus Baha’, ulama cerdas yang menjelaskan cara be-Islam dengan sangat sederhana nan menyentuh : hati dan realitas. Dalam setiap wejangan Gus Baha’ sering menyelipkan dawuh bagaimana ber-Islam dengan penuh penghormatan pada liyan, termasuk kepada anak kecil.

“Jadi orang men-servis anak demi mengawal kalimat tauhid itu ibadah. Kita disunahkan melongggarkan kenikmatan pada anak. Mumpung belum mukalaf. Jangan sampai kecewa pada sistem keluarga. Nanti bisa saja lama-lama anak kecewa pada sistem Islam yang Anda tanamkan.

Mendengar ini saya tertegun. Melihat diri bagaimana selama ini cara saya memperlakukan Wusqo dan Khurun.

Saya mengenalkan Islam, terutama pelajaran mengaji dan shalat pada Wusqo dengan agak keras bahkan sedikit memaksa. Selepas Magrib mengawal dengan ketat untuk sebisa mungkin Wusqo mengaji : menghafal surat-surat pendek kemudian mengaji Hijaiyah alif, ba, ta dan seterusnya. Saking ketatnya, Wusqo biasa memilih shalat bersama mamaknya yang sistem pengajarannya lebih longgar. Dan tentu, menghindari marahnya saya ketika Wusqo lupa sedikit hafalan.

Terkadang saya sadar bahwa marah bukanlah cara baik dalam mengajarkan sesuatu, terutama bab agama. Maka, biasa saya mengalah atau sengaja untuk tidak mengajaknya shalat berjamaah atau mengaji. Dalam evaluasi, terkadang saya ukur diri : kalau saya nantinya masih bisa marah ketika mengajar mengaji, maka saya urung mengajak Wusqo shalat berjamaah. Sebaliknya, kalau saya rasa bisa mengendalikan diri, baru menyuruhnya berpakaian siap shalat pada senja hari.

Inti sebenarnya, karena saya tidak ingin mewariskan Islam yang marah pada Wusqo. Meskipun seperti pesan Gus Baha, melonggarkan kenikmatan pada anak dalam keadaan Wusqo masih terbata-bata mengaji merupakan catatan besar bagi saya.

“Jadi anak kalau baca Quran, senang ibadah itu harus didukung. Karena yang meneruskan tauhid itu pasti anak. Karena anak bisa mewarisi.

Kalau mau jujur, saya sudah bangga sama Wusqo. Pernah suatu kali saya dan mamaknya tidak mengajak Wusqo shalat dan mengaji. Wusqo juga tidak melakukannya. Selang beberapa hari Wusqo sendiri yang komplain. Bapak tidak mengajak shalat, ya saya tidak shalat. Mestinya bapak bilang, Wusqo ayo shalat, begitu. Mendengar itu saya nyengir meskipun dalam hati senang bukan kepalang. Kebiasaan baik sedikit tertanam.

Khurun adiknya, masih merangkak dan baru belajar berdiri. Ada kesenangan aneh saya padanya. Saya merasa senang shalat kalau si Khurun ini merangkak di sajadah, melihat-lihat saya dengan mata jelinya dan mengambili songkok sambil nyengir. Ini keanehan yang menyenangkan. Bagi ahli fiqih mungkin kualitas shalat saya ini dipertanyakan, tapi untuk senang dalam keadaan shalat saya mendapatkan. Meskipun ini materiil.

Senang yang semestinya menjadi ciri Islam. Gus Baha sering menceritakan bagaimana pesan Abahnya dan Mbah Moemon Zubair bahwa hendaknya mengajarkan dan menyampaikan Islam dengan cara yang menyenangkan. Jangan sampai Islam menjadi beban hidup berikut ummat. Karena telah banyak hal-hal tidak mengenakkan dalam kehidupan, maka Islam harus hadir meringankan dan juga menyenangkan.

Tertawa merupakan sesuatu yang berharga terutama bagi orang awam. Maka membiarkan santri dan masyarakatnya guyonan untuk menghibur diri dengan hal-hal baik merupakan hal yang sering Gus Baha’ dawuhkan. Beliau dalam beberapa kesempatan mewanti-wanti jangan sampai untuk senang, orang mesti berbuat hal-hal tidak baik dan maksiat. Maka, senang dan bisa tertawa pada hal-hal baik dan sederhana merupakan kenikmatan dan berkah tersendiri dari Tuhan.

Dalam lanjutan tausiyah pada chanel YouTube Santri Gayeng, Gus Baha menjelaskan.“Orang tua itu harus hormat anak. Dalam kitab Mizan Kubro disebut bahwa diantara adab Nabi itu memuliakan anak. Karena anak yang kelak akan lebih panjang waktunya membawa tauhid. Jadi hubungan anak dengan orang tua harus nyaman. Tapi bukan nyaman karena nafsu tapi karena ikatan kalimat tauhid”.

Nah ini. Terkadang kita, atau saya membangun hubungan kenyamanan atas dasar nafsu keduniawian. Misal : saya fasilitasi Wusqo dan Khurun supaya mereka nanti akan merawat saya ketika tua kelak, membalas jasa-jasa saya dikemudian hari. Ini sebenarnya normal, tapi juga akan menimbulkan resiko kekecewaan, karena dasar keihlasan yang tergerus kepentingan.

“Ada salah satu contoh. Kenapa berdosa membunuh seseorang?, karena dia ahli tauhid. Orang itu kalau sudah melafadzkan la ilaha illallah itu haram dibunuh. Terus, hanya karena dia ditakdirkan sebagai anak, lalu kita tidak hormati dengan alasan itu anak kita. Itu kan lucu?. Orang lain yang mengucap kalimat tauhid kita hargai, sementara karena mereka berstatus sebagai anak lalu tidak kita hormati. Itu musibah”.

Benar. Ini musibah. Merasa lebih akan menimbulkan kesewenang-wenangan. Padahal belum tentu kita lebih mulia dari anak yang merupakan karunia terindah dari Tuhan ini. Dalam konteks ini, saya pernah mendapati orang tua yang boso, berbahasa lebih halus pada anaknya. Saya baru sadar ternyata hal tersebut merupakan bahagian penting dari ajaran Islam, memuliakan anak.

Berterima kasih kepada Wusqo harusnya saya lakukan. Bagaimana tidak, dengan perantara Wusqo saya jadi lebih memprioritaskan shalat Magrib berjamaah. Hal yang sebelumnya jarang saya lakukan. Dengan Wusqo menghafal Alfatihah dan seterusnya, saya juga ikut nderes, mengaji ulang surat-surat pendek yang telah lama tidak saya buka-buka.

Pesan Gus Baha’ jelas. Beragama, ber-Islam itu dengan cara yang sederhana dan menyenangkan : menyayangi keluarga, memuliakan anak dan senang pada mereka merupakan jalan terbaik menumbuhkembangkan ketauhidan, keyakinan beragama dalam kehidupan. Merawat anak merawat tauhid. Tidak perlu dengan cara yang aneh-aneh dan ekstrim.

Anak merupakan simbol keberlangsungan kehidupan. Mereka harus dihargai dan dimuliakan atas dasar nilai ketauhidan dan senang pada kemanusiaan. Menistakan anak sama dengan menistakan kehidupan. Membunuh anak sama halnya membunuh keberlangsungan pewarisan kalimat tauhid dalam kehidupan.

Oh iya. Berdasarkan berita yang beredar, ekstrimis pengebom Gereja Katedral di Makassar merupakan Pasutri yang istrinya sedang hamil 4 bulan. Begitupun ekstrimis pelaku penembakan di Mabes Polri juga seorang wanita muda, calon seorang ibu, yang kehidupannya masih panjang.

Andai saja, sebelum-sebelumnya mereka rajin mengikuti pengajian Gus Baha ya?

Ulya Sunani

Menulis Untuk Senang dan Menang
Back to top button