HumanioraSejarah

Hari Pahlawan dan Jihadnya Para Santri

Asap hitam tebal terus mengepul. Bau mesiu bercampur amis darah menyengat. Mayat bergelimpangan tak terurus. Sebagian kota Surabaya luluh lantak. Rata dengan tanah.

Suara Pesawat Mosquito yang tiap hari bermanuver menjatuhkan bom di atas kota sejak 10 November tidak terdengar lagi.

Pesawat kebanggaan Inggris yang sukses mengebom Berlin pada Perang Dunia ke-2 itu banyak yang jatuh di hajar Pejuang-pejuang surabaya.

Pasukan sekutu berjumlah 6000 orang saat mendarat di Surabaya, 25 Oktober 1945.

Mereka di lengkapi senjata super canggih seperti Tank Sherman, 25 Ponders, 37 Howitzer, kapal perang HMS Sussex dan 4 kapal perang destroyer, ditambah 12 pesawat Mosquito.

Mereka juga dibantu dengan tambahan 24.000 pasukan baru yang dikirim Letjen Christison dan bantuan divisi ke-5 di bawah pimpinan Mayjen Mansergh.

Jumlahnya tidak tanggung-tanggung 15.000 tentara.

Mereka di datangkan bersama 6000 personel brigade 49 pasukan elit Inggris yang digelari “The Fighting Cock”. Brigade 49 dalam melakukan sepak terjannya di kenal sangat menakutkan.

Sebelum diterjunkan di Surabaya, pasukan elit ini berhasil merebut satu persatu wilayah di Burma pada tahun 1944 dengan sistem gerilya hutan,

Dalam perang Surabaya Pasukan sekutu memang berniat menguasai Surabaya secepatnya. Mereka mengerahkan pasukan besar-besaran.

Sayang justru yang mereka dapatkan sebaliknya, Malah mereka yang kalang kabut dan jumlah pasukan yang terus berkurang.

Mereka lumpuh berhadapan dengan semangat juang arek-arek suroboyo yang terdiri dari Laskar santri, Hizbullah, Pemuda Ansor, dan yang lainnya. Merekalah yang selalu meneriakkan “Allahu Akbar…Allahu Akbar.. di setiap jengkal bumi Surabaya.

Para Santri yang nekat tanpa rasa takut masuk menyerbu ke pos-pos pasukan Sekutu meledakkan granat ditangan mereka dan gugur sebagai syahid.

Saat itu pergerakan para santri seperti air bah. Mereka sulit dibendung.

Nekatnya para Santri menjadi ketakukan bagi pasukan Brigade 49 dan pasukan sekutu yang lain. Mereka kocar-kacir kehilangan akal.

Dalam kondisi rusak mental hancur, mereka berteriak-teriak ke markas mereka di Jakarta bahwa mereka tidak berdaya dan meminta bantuan.

Setelah 3 minggu berperang. Sekutu mengumumkan gencatan senjata.

Mereka sadar kalau perang diteruskan bisa 2 kali mereka dipermalukan. Pertama, perang 3 hari, 28-30 Oktober dan kedua, pada Perang 10 November 1945.

Sekutu paham dengan kekuatan yang sudah menyusut, mereka sulit menang. Sementara ada laporan bantuan dari Bali, Sulawesi, dan Nusa Tenggara mulai berdatangan.

Paska genjatan senjata diberlakukan pertempuran Surabaya pun berakhir.

Ribuan Tentara Sekutu tewas. Termasuk 2 jenderal terbaiknya, Brigjen Mallaby dan Brigjen Robert Guy Loder Symonds.

Tentunya disertai Kerugian materil yang luar biasa.

Sejarah mencatat..

Saat sekutu menang PD II mengalahkan Jerman dan Jepang. Praktis tak ada satu negara pun yang berani melawan mereka. Sampai akhirnya mereka tiba di Surabaya bertempur dan…KALAH.

Komandan sekutu EC. Mansergh jenderal terkenal ahli strategi perang yang mengalahkan Jenderal Rommel di Afrika mrengakui, sekutu keliru menganalisis perang di Surabaya,

“ini perang terdahsyat sejak perang Dunia II.” Katanya.

Michael Laffan sejarawan Princeton University AS penulis “The Makings of Indonesian Islam” menulis..

“Semangat Perang Soerabaia ada di pesantren. KH. Hasyim Asy’ari adalalah tokoh dibalik perang dahsyat tersebut. Kyai karismatik pimpinan Pondok Pesatren Tebu Ireng telah memantik Perang 10 November 1945 dengan Resolusi Jihad. Tanpa Resolusi Jihad, tak akan ada perang seheroik itu”.

Check Also
Close
Back to top button