BudayaPULIPEDIARitual

Ikan Bandeng Cap Go Meh

Perayaan Cap Go Meh merupakan rangkaian peringatan tahun baru Imlek. Jatuhnya pada hari atau malam ke-15. Cap Go artinya lima belas dan Meh artinya malam. Untuk tahun ini bertepatan dengan 15 Pebruari 2022. Peringatan Cap Go Meh adalah tanda berakhirnya Tahun Baru Cina.

Namanya juga penutupan, Cap Go Meh adalah puncak ramainya perayaan Imlek. Biasanya acara diisi dengan karnaval dan parade yang digelar di jalan-jalan. Meski berbeda nama di tiap negara, namun semangat dan ruhnya tetap sama. Di seluruh dunia Cap Go Meh selalu meriah.

Di Indonesia, keramaian semacam itu telah berlangsung sejak lama. Sejak ratusan tahun lalu. Kecuali selama 32 tahun ketika masa orde baru berkuasa.

Seperti halnya tradisi menyambut Tahun Baru Imlek. Cap Go Meh juga didominasi oleh warna merah. Bagi masyarakat Tionghoa merah adalah lambang keberuntungan.

Lampion, angpau, parcel, lilin, kartu ucapan selamat, hiasan dinding sampai makanan untuk keperluan Liansium atau sembahyang. Semua dikemas dalam warna merah.

Sebenarnya dalam tradisi Tionghoa di Indonesia, dulu ada banyak sekali hari raya dan pesta rakyat termasuk Cap Go Meh.

Untuk Cap Go Meh yang diadakan pada malam ke-15 Imlek, banyak orang dari kampung ramai-ramai datang ke kota. Mereka sengaja datang untuk turut bergembira merayakan Cap Go Meh.

Pada malam itu ada kebiasaan terutama di kalangan kaum perempuan keturunan Tionghoa untuk begadang sambil memasang kuping dibalik dinding rumahnya.

Tujuannya untuk mendengar semua kata yang diucapkan oleh orang-orang yang kebetulan lewat ketika keadaan sudah sepi.

Menurut keyakinan mereka kata-kata yang diucapkan orang yang kebetulan lewat itu adalah ramalan nasib bagi yang mendengarnya.

Misalnya jika seorang perempuan mendengar orang lewat mengatakan, “biar dia begitu, dia akan menjadi touke”. Ada keyakinan tidak lama lagi suaminya akan menjadi orang kaya. Walaupun pada waktu itu suami hanya seorang pengangguran. Tulis Prof. Dr. James dananjaya dalam folklor Tionghoa.

Pada masa itu pesta Cap Go Meh meriah sekali dan berlangsung semalam suntuk. Wajar kalau esok harinya orang malas bekerja dan memilih tidur.

Bahkan bagi orang Tionghoa yang gemar pesta belum ada yang mampu mengalahkan kemeriahan malam Cap Go Meh. Karena berlangsung selama beberapa hari. Selama itu mereka betul-betul bisa puas berpesta. Bukan cuma semalam.

Dalam Cap Go Meh ada juga upacara yang disebut Ciakko atau rebutan bendera. Ciakko adalah upacara untuk menyembahyangi arwah orang-orang yang tidak di sembahyangi oleh keluarganya karena terlalu miskin.

Masyarakat Tionghoa memberikan sumbangan uang dan barang serta makanan. Kemudian barang-barang itu ditempatkan dalam bakul-bakul lalu di tancapkan bendera segitiga aneka warna.

Cap Go Meh dimulai dari tempat Topekong (Dewa orang Tionghoa). Topekong kemudian dikeluarkan dari wihara dan digotong bersama-sama menyusuri jalan raya diiringi musik riuh.

Cap Go Meh juga menjadi ajang cari pacar.

Pacaran para muda-mudi tempo dulu cukup unik. Di daerah Batavia (Jakarta), proses pacaran di mulai dengan saling melempar Hwaat kwee atau kue apam. Ada juga kue Tiongchuphia yang bentuknya bulat kecil. keduanya berisi kacang hijau yang telah dihaluskan.

Menurut keyakinan orang tionghoa. kedua kue tersebut menjadi simbol pengharapan. Artinya yang mulanya kecil lama-lama menjadi besar.

Kalau dalam kegiatan lempar melempar kue di hari Cap Go Meh ada kecocokan. Terus muda-mudi saling naksir. Proses selanjutnya bisa merembet ke perjodohan.

Namun demikian, walaupun si gadis sudah jatuh cinta kepada si pemuda, masih ada persyaratan yang harus dilalui.

Si pemuda harus berkunjung ke rumah calon mertua. Memperkenalkan diri. Sekaligus mengutarakan maksud kunjungannya. Saat kunjungan pertama itu pemuda harus membawa sepasang ikan bandeng.

Kenapa harus ikan bandeng?

Menurut orang Tionghoa ikan bandeng adalah sumber keberuntungan dan rezeki. Jadi nasib apes akan menimpa mereka kalau calon mantunya datang tanpa membawa sepasang ikan bandeng. Calon mantu begini dianggap tidak punya liangsim (rasa malu).

Berani datang ke rumah gadis dambaan hati tanpa membawa sepasang bandeng dianggap membuat malu calon mertua di depan tetangga.

Jadi sebaiknya jangan coba-coba datang bertamu. Kalau memang lagi kere. Seberapa besar perhatian, cinta dan sayangmu pada si gadis. Bisa tunjukkan dari seberapa besar ikan bandeng yang kau bawa.

Prinsipnya, sebelum membahagiakan kekasihmu. Bahagiakan dulu keluarganya. Repot juga ya?

Back to top button