Politik

Jurus Sakti NU

Teka-teki kapan pelaksanaan muktamar NU di Lampung, maju atau mundur belum terjawab. Hingga tulisan ini dibuat tarik ulur masih terjadi. Alasannya beragam. Namun yang pasti teka-teki ini ramai diberitakan media.

Sebelumnya, persaingan dua kandidat yang namanya disebut-sebut bakal meramaikan bursa calon ketua tanfidziyah PBNU, KH. Said Aqil Sirodj dan KH. Yahya Cholil Staqut juga ramai diberitakan.

Malah yang ini porsinya lebih besar. Sepertinya tak ada hari terlewatkan tanpa pemberitaan keduanya.

Saya tentu senang dengan berita-berita itu. Suasana muktamar yang biasanya selalu riuh jadi terlihat hidup kembali. Padahal sebelumnya saya sempat kuatir jangan-jangan berita tentang Covid-19 akan memberangusnya. Syukurlah itu sekedar kekuatiran belaka.

Bagi saya kondisi muktamar yang adem-adem ayem hambar rasanya. Muktamar tanpa ger-geran perlu di curigai. Pasti ada yang tak beres. Bisa-bisanya Organisasi dengan jumlah umat 91 juta lebih bikin muktamar tenang-tenang saja, sungguh mengherankan.

Anda tentu masih ingat Muktamar sebelumnya di Jombang. Perseteruan antara kubu Kyai Said dan Kyai Salahuddin wahid dalam memperebutkan kursi orang nomor satu di NU malah lebih panas.

Kerja taktis para tim, aksi dukung mendukung kandidat hingga pemberitaan media begitu gencar. Kondisi ini sudah berlangsung lama jauh sebelum pembukaan muktamar. Sehingga aroma kontestasinya sangat terasa.

Mengenai panasnya suhu menjelang atau saat Muktamar sebenarnya bukanlah hal baru. Hampir di setiap muktamar masalah selalu saja muncul. Bahkan ketika Muktamar Lirboyo Kediri tahun 1999 juga demikian padahal Presiden RI saat itu adalah Ketua PBNU, KH. Abdurahman Wahid alis Gus Dur.

Namun dalam catatan sejarah pelaksanaan muktamar NU saya menilai Muktamar Cipasung di Tasikmalaya Jawa Barat tahun 1994 adalah yang terpanas. Saking panasnya, Greg Fealy peneliti NU dari Australia menyebutnya Muktamar paling kontroversial selama 69 tahun berdirinya NU.

Kenapa kontroversial?

Fealy menjelaskan, Muktamar Cipasung itu banyak diwarnai fitnah, ada isu jual beli suara, prosedur pemilihan yang tidak jelas, serta berita media yang bias, juga intervensi dari pemerintah dan LSM sangat terang benderang.

“Muktamar Cipasung adalah muktamar yang banyak dipenuhi intrik.” Kata Fealy.

Ketika itu ada dua kubu berseteru, Kubu Gus Dur dan kubu Abu Hasan. Kubu Abu Hasan menyebut dirinya ABG (Asal Bukan Gus Dur). Sementara pendukung Gus Dur tak mau kalah mereka juga menyebut dirinya ABG (Asal Bersama Gus Dur).

Abu Hasan adalah kandidat yang direstui Soeharto. Soeharto memang tidak suka Gus Dur. Gus Dur suka menyerang dan mengkritisi kebijakannya. Ia dianggap seperti duri dalam daging. Pantas untuk dihabisi.

Beragam cara ditempuh Soeharto untuk menjegal langkah Gus Dur. Salah satunya menciptakan kandidat boneka. Bonekanya Abu Hasan itu.

Upaya untuk menjegal Gus Dur tak urung menimbulkan ketegangan. Suasana muktamar yang tadinya meriah berubah mencekam.

Dalam sebuah tulisan berjudul: “Operasi Soeharto yang Gagal di Cipasung” dimuat dalam detik.com tanggal 16/10/2021 diceritakan:

“Suasana tegang pun terlihat di sekeliling arena muktamar yang dijaga sekitar 1.500 personel tentara, 100-an intel, serta panser. Aparat keamanan tak berseragam bahkan ada yang menyamar memakai seragam Banser. Selebihnya memonitor aktivitas para delegasi dalam setiap agenda sidang”.

Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia posisi NU sangat strategis. Orang yang akan memimpin NU peranannya tentu sangat penting, ia bakal mempengaruhi peta perpolitikan tanah air. Maka berlomba-lombalah orang turun gelanggang untuk bermain.

“Presiden dipihak kita nggak ada yang perlu ditakutin.” Begitu pikiran Abu Hasan dan loyalisnya.

Sementara kubu lawannya berpikir sebaliknya, NU harus diselamatkan dari intervensi Soeharto. Hanya Gus Dur yang berani melawannya. Jadi Gus Dur harus dimenangkan apa pun resikonya.

Akhirnya strategi pun dimainkan. Akal bulus dijalankan. Mulai dengan cara halus hingga main kayu. Ada yang main individu (jadi pengamat). Ada juga main kelompok lewat tim pemenangan.

Tapi ada satu yang tak bisa dinafikkan dalam perseteruan itu, pengaruh media. Media terutama koran punya andil besar memperkeruh keadaan dengan pemberitaan yang bias.

Melihat kondisi karut marut ini KH. Hasyim Muzadi, kesal. Kyai Hasyim menyampaikan, “Rapat orang NU itu di koran. Karena koran sukanya ramai-ramai, jadinya NU seperti organisasi yang ribut terus.”

Kekesalan Kyai Hasyim bisa dimaklumi fasalnya kedua kubu sering menggunakan koran untuk saling menyerang pihak lawan.

KH. Imran Hamzah lain lagi ketika ditanya wartawan tentang kisruh muktamar dan ancaman perpecahan di tubuh NU, dengan santai menjawab:

“Tidak ada konflik antar kyai. Yang ngomong itu cuma pengamat di koran. Mereka kan tidak tahu kondisi NU. Kalau tahu bisa kecele nanti.”

Saya pikir apa yang disampaikan Yai Hasyim dan Yai Imran saat Muktamar Cipasung, sekarang masih relevan. Soal adanya pembelahan di tubuh NU akibat perseteruan dua kubu yang akan maju di muktamar Lampung cuma berita media dan pandangan orang yang nggak ngerti NU.

Umumnya mereka cuma menilai dari satu sudut pandang saja yakni sudut pandang politik. Kalau sudah begini saya yakin analisisnya pasti parsial.

Ada yang bilang NU organisasi paling aneh se-dunia. Bila ada masalah orang-orang NU memiliki mekanisme tersendiri dalam menyelesaikan masalah-masalahnya.

Ibarat pendekar, NU punya banyak jurus sakti. Jurus itu dikeluarkan bila situasinya dianggap genting.

Salah satu Jurus sakti NU adalah identitas kultural. Indentitas yang tidak dimiliki ormas lain. Identitas NU sebagai Jama’ah dan Jam’iyyah.

Mungkin mereka lupa atau memang tidak tahu kalau sebetulnya NU adalah kumpulan orang-orang yang masih terikat oleh hubungan darah, baik dalam arti hubungan kekerabatan yang terjalin dalam silsilah yang saling kait-mengait, maupun dalam kekerabatan keilmuan, yakni kyai dengan santri atau guru dan muridnya.

Sejarah mencatat dari 33 kali muktamar semuanya berakhir dengan baik. Kalau ada riak palingan cuma sebentar. Tidak lama.

Jadi ketika ada yang bilang NU pecah. Atau nggak kompak lagi. Orang NU pasti senyum-senyum. Mereka tak resah. Mereka selalu yakin akan ada jurus sakti yang bakal diperagakan untuk menyelesaikan masalahnya.

Saat ini Kaum Nahdliyyin sedang menunggu kedatangan muktamar. Muktamar bagi mereka wajib disyukuri dan disambut dengan riang gembira. Mereka menantinya dengan penuh suka cita.

One Comment

  1. Ping-balik: Jagat Kultural NU -
Check Also
Close
Back to top button