BudayaHumaniora

Kiri dan Nasib yang Merasa Kanan

Ada warna yang membuat seseorang bisa saja merasa sendiri di dunia ini.

Begini ceritanya.

Sebuah kesempatan saya berbelanja di pasar tradisional. Memilah-milah baju yang pas untuk Wusqo. Satu syarat untuk baju pilihan, kaos berlengan panjang. Beberapa model disodorkan sang penjual. Pilih warna, pilih model dan ukuran. Lagi dan lagi. Menjereng dan menempelkan baju kaos di badannya butuh berkali-kali, maklum Wusqo bertubuh langsing (padahal kata yang pas sebenarnya adalah kurus).

Sela waktu saya mencocok-cokokkan, ada seorang perempuan tengah baya, mamak-mamak yang juga berkepentingan sama dengan saya mau membeli baju untuk anaknya. Tapi sepertinya mamak-mamak ini sudah berlangganan, karena sang penjual langsung menyodorkan beberapa model kepadanya. Beberapa lembar baju kaos ada dalam pilihannya. Tapi sepertinya dia masih memilih-milih.

“Yang penting bukan warna merah, karena itu orang-orang kiri,”katanya.

Saya tersentak. Karena bersamaan dengan itu saya baru saja menentukan pilihan baju yang cocok untuk Wusqo : baju kaos lengan panjang berwarna merah!.

Sembari saya menyerahkan baju yang ‘kiri’ tadi itu kepada penjual untuk dikantongi plastik, saya berujar, “tapi saya mengambil dan membayar baju kaos ini dengan tangan kanan lho bu”.

“Eh maaf, “dia menimpali serba canggung.

“Kampret,”saya mengucapkan pelan sekali. Sekali lagi, pelan sekali. Saya bisa pastikan mamak-mamak ini tidak mendengarnya. Meskipun ungkapan pelan barusan, hanya umpatan keseharian biasa saya saja kalau ada kedongkolan kecil. Tidak ada hubungannya dengan cebong atau kubu manapun. Saya pastikan.

Apalagi sekarang, sudah tidak konteks menyanding-nyandingkan yang begituan. Sudah tidak ada gelaran politik besar yang biasanya membenturkan-benturkan : muslim – non-muslim, cina – pribumi, gagah – plonga-plongo, duda – berkeluarga dan seterusnya. Semua telah bersama, bertemu dalam satu meja, bahkan satu piring kepentingan. Sudah selesai, kayakanya.

Lha yang diungkapkan mamak-mamak tadi?. Merah katanya kiri.

Saya saja mungkin yang terlalu reaktif : menghubungkan merah dengan partai politik tertentu, dengan marxisme, sosialisme misalnya atau dengan gerakan-gerakan perlawanan (dulu) yang dianggap ‘kiri’.

Agak jauh sebenarnya memang, menghubungkan apa yang diungkapkan mamak-mamak tadi ini dengan istilah kiri yang berasal dari pengaturan tempat duduk legislatif pada masa Revolusi Prancis. Yang saat itu, kaum republik penentang Ancien Régime biasanya disebut sebagai kelompok kiri karena mereka duduk di sisi kiri dari dewan legislatif. Kiri saat itu identik dengan perlawanan.

Kalau rujukan kiri seperti ini ditujukan kepada saya yang kebetulan membeli baju kaos berwarna merah? Ya, sangat tidak pas. Sangat berjarak. Sangat mengada-ada.

Lhawong, saya memilih warna merah untuk baju kaosnya Wusqo itu karena kualitasnya : kainnya lembut halus dan tidak panas di kulit, ukurannya juga cocok, dan kebetulan berwarna merah. Dalam konteks baju kaos ini, soal pilihan warna, murni kemauannya Wusqo. Saya akan mengkonfirmasi pada Wusqo soal warna, karena biasanya Wusqo suka warna biru, tapi terkadang juga memilih benda berwarna lain. Atau bisa saja pilihan warna masa baby-nya, warna pink.

Jadi, saya sudah pilih warna merah untuk bajunya wusqo. Label kiri pada saya untuk pilihan ini?, kalau mau jujur-juran, ya ndak apa-apa. Saya mengenal gerakan (dominan) kiri ini sejak saya usia belasan tahun.

Tepatnya di kampung halaman. Sebuah desa kecil yang diapit oleh Gunung Sentono dan Gunung Pagon. Saya perhatikan, gerakan kiri yang dominan ini sangat membantu. Menyelesaikan banyak hal di kampung halaman : terutama soal peternakan dan kepastian mengepulnya dapur. Gerakannya sangat kuat, lihai dan cekatan. Hampir segala sesuatu yang butuh penanganan selesai dengan gerakan kiri ini.

Namanya Tormen. Teman cari rumput dan cari kayu bakar saya semasa usia belasan di kampung. Ketika cari rumput atau ngaret, saya selalu kalah selesai duluan: mengikat rumput, netel atau memadatkan rumput untuk isian keranjang. Faktor utamanya jelas, Tormen lebih kuat, lebih lihai dan lebih cekatan mengerjakan pekerjaan itu. Dengan tangan kiri yang menjadi gerakan dominannya. Di sini, pertama saya mengenal bahwa kiri juga memiliki kekuatan gerakan yang sama kuat dengan kanan. Bahkan lebih, kalau dibandingkan dengan kanan saya, hahaha!.

Gerakan sayap kiri, saya juga mengenalnya. Ivan Perisic salah satu pelakunya. Dia sering beroperasi melakukan penetrasi dari sisi ini. Memberikan umpan-umpan crossing kepada Lautaro atau Lukaku di jantung pertahanan lawan. Sayap kiri ala-Perisic juga membantu soliditas lini tengah Inter Milan bersama Barella, Eriksen serta Brosovic. Tidak jarang dari sisi kiri pertahanan, Perisic juga biasa menceploskan bola ke gawang lawan. Ivan Perisic pemain sayap kiri Internazionale Milano.

Saya bersentuhan dengan ‘kiri’ pada hal-hal remeh seperti ini. Daripada merujukkan kiri pada paham Marxisme : gerakan Marxis yang mengambil pendekatan lebih pada kepeloporan untuk keadilan sosial dan sebagian besar terfokus pada serikat pekerja buruh dan kelas sosial. Atau istilah-istilah Kiri Baru, Kiri Islam, Islam Kiri dan seterusnya kemudian membenturkan dengan gerakan ‘kanan’ dengan label konservatif, radikal, kaum yang selalu merasa benar sendiri dan seterusnya. Ini berat. Setidaknya bagi saya.

Dan saya pun juga tidak ‘kanan’. Tengah-tengah. Saya lebih sreg pada paham tawasuth (moderat), tasamuh (toleransi), tawazun (seimbang). Yang biasa-biasa saja, minimal tidak terkaget-kaget, gumun lihat tulisan Arab. Melihat merah ya, berasosiasi Merah-Putih Nusantara, melihat hitam ya, ingat pada semangat lokalitas Kajang, Baduy. Dekat, lekat dan tidak hitam-putih menilai.

Oh iya, kalau kita kembali pada pemikiran mamak-mamak tadi yang mengidentikkan merah dengan kiri, saya kok membayangkan betapa rumit dan capek hidupnya ya…

Coba kita hitungkan : keluar rumah lihat orang pakai baju merah, wah itu orang kiri. Lihat mobil warna merah, yang punya orang kiri. lihat rumah dan kantor ber-cat merah, kiri. Lihat logo ritel perbelanjaan dominan merah, kiri. Kantongan merah, kiri. Lihat sandal merah, kiri. Lihat celana merah, kiri. Lihat sirup merah, kiri. Lihat apel merah, kiri. Langit sore merah, kiri. Langit pagi merah, kiri lagi. Eh, lewat depan rumah lihat motor dan sepedanya Wusqo merah juga.

Bisa saja, akhirnya mamak-mamak ini sadar bahwa ternyata hanya dia saja yang ‘kanan’ di dunia ini. Hahaha…

Ulya Sunani

Menulis Untuk Senang dan Menang
Back to top button