Esai

Luka Tahun Baru

Suara knalpot motor menggema keras. Bunyinya bersahutan menimpali suara gerimis yang turun satu-satu. Ribut sekali sehingga membangungkan istirahat malamku. Kuperhatikan jam di dinding. Pukul 01.00. “Oh, sudah tahun baru rupanya.”

Malam pergantian tahun kali ini rasanya sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya.

Bila tahun 2021 tak ada aktivitas memperingati pergantian tahun. Malam ini suara kemeriahan itu kembali terdengar meski tak seramai sebelum datangnya serangan covid-19.

Akhirnya perayaan pergantian tahun kembali seperti dulu. Biasa-biasa lagi. Biasa-biasa kembali.

Dikatakan biasa, karena tahun baru 2022 hampir sebagian daerah di Indonesia bisa kembali merayakan pergantian tahun.

Di beberapa daerah pemerintahnya memang memberi kelonggaran kepada warganya memperingati pergantian tahun walau tetap dalam batas-batas tertentu.

Alhasil lengking bunyi terompet, bising suara knalpot dan klakson pun kembali terdengar. Tidak ubahnya dengan tahun-tahun sebelumnya.

Begitu pun dengan pesta, begadang, dan jalan-jalan, refleksi merenung dan sebangsanya. Semuanya adalah menu malam tahun baru. Kegiatan yang mengiringi pertambahan waktu dan akhirnya pertambahan usia.

Semuanya masih tetap sama. Tak ada yang istimewa.

Jika mau di istimewakan janganlah tahun baru, setiap hari pun sesungguhnya istimewa. Setiap saat adalah berkah dan saat itu adalah waktu untuk bersyukur.

Hari Senin bersyukur karena masih diberi waktu untuk menghadapi hari kerja yang artinya masih memiliki harapan untuk masuknya sejumlah uang ke rekening di akhir bulan.

Hari Selasa menjadi istimewa karena beberapa acara dengan teman-teman. Bercanda, diskusi atau ngopi bareng semuanya menawarkan keceriaan

Hari Rabu juga tidak kalah istimewa nya karena kebetulan malam sedang bulan purnama sehingga bisa menikmati indahnya malam.

Hari Kamis patut bersuka cita karena proyek yang ditugaskan oleh atasan dapat terselesaikan dengan baik.

Hari Jumat sangat berkesan karena hari kerja yang pendek dan waktunya sholat berjamaah mendengarkan lantunan puja dan puji terhadap Allah SWT.

Hari Sabtu adalah hari yang panjang dan menyenangkan karena saatnya melewatkan malam dengan membaca buku-buku favorit yang belum sempat dituntaskan.

Hari Minggu saat yang tepat untuk me-recharge kembali sanubari dengan mengajak keluarga tercinta berkunjung ke tempat wisata menikmati suasana akhir pekan.

Begitu seterusnya. Setiap saat adalah istimewa. Setiap detik adalah berkah yang harus disyukuri. Sungguh malam tahun baru tiada lebih istimewa dari hari lainnya yang kita lalui.

Di Indonesia khususnya, akhir tahun 2021 ditandai dengan tragedi bencana alam yang dirasakan saudara-saudara kita di Kabupaten Lumajang Jawa Timur.

Tragedi erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada tanggal 4 Desember 2021. Ada 48 korban meninggal dalam peristiwa itu. Sementara 9.977 orang diantaranya mengungsi.

Selain bencana erupsi di Jawa Timur, Saudara-saudara kita di Sulawesi Selatan khususnya di sembilan daerah yakni, Makassar, Maros, Pangkep, Barru, Sidrap, Soppeng, Wajo, Gowa, dan Jeneponto dilanda musibah Banjir. Ada yang meninggal. Banyak yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda. Banyak pula yang mengungsi.

Tahun 2021 juga masih diwarnai dengan rasa was-was terhadap Covid-19. Meski penyebarannya melandai. Tapi kekuatir pada perkembangan virus ini tidak hilang. Apalagi kini muncul varian baru.

Varian baru itu bernama Omicron. Katanya, Omicron ini ditengarai lebih ganas dari yang sebelumnya, Varian Delta.

Tapi belakangan pendapat itu disanggah. Menurut para ahli untuk kondisi tanah air varian baru ini tidaklah seganas yang terjadi di negara lain.

Disini Omicron lemah dan tidak betah lama-lama menetap di tubuh korbannya. Paling cuma sebentar setelah itu pergi tanpa pamit.

Tanggal 25 Desember 2021, tersiar kabar ada 8 orang yang terpapar Omicron. Orang pun kembali resah. Syukurnya kedelapan orang penderita itu tidak satu pun yang menujukkan gejala berat. Kini semua dinyatakan negatif.

Barangkali itulah sebabnya pemerintah membatalkan rencana penerapan PPKM level 3 akhir tahun 2021. Jadi peringatan Nataru bisa berjalan terus. Juga pelaksanaan Muktamar NU tidak maju mundur lagi.

Terlepas dari itu semua tentu kita tak boleh takabur. Tak boleh lupa diri hingga lalai dan terbuai.

Justru di tahun baru ini idealnya kita lebih memupuk sikap simpatik dan empati kepada para korban bencana alam atau keluarga korban akibat Covid-19.

Saat ini mereka sedang bersedih. Yang ada hanyalah tangisan duka dan wajah-wajah tertunduk dalam karena kehilangan.

Tidak ada yang patut disalahkan dari kejadian ini. Nampaknya segala kejadian memang harus terjadi sebagai pelajaran yang berat untuk kita lalui bersama berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Tahun-tahun ketika selamat tahun baru diucapkan dengan senyuman ceria penuh sukacita.

Tahun ini selamat tahun baru nampaknya tetap diucapkan, tapi dengan perasaan luka. Tentu saja bukan luka pesimis tapi luka sedih dan prihatin atas ketidaknyamanan yang dirasakan oleh saudara kita yang dilanda bencana.

Semoga tahun ini menjadi tahun yang membawa harapan buat kita semua.

Selamat tahun baru 2022.

Back to top button