Gaya HidupHumaniora

Mahasiswa: Antara Handphone dan Kepedulian Sosial

Mahasiswa adalah pelajar pengemban pendidikan. Dewasa ini banyak sekali mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikannya. Setelah menjadi sarjana mereka mulai melakukan pekerjaan sesuai dengan bidangnya masing masing.

Dalam menyandang gelar mahasiswa, ada banyak ideologi yang akan menyambut mereka mulai dari pemahaman-pemahaman yang kaku, moderat hingga yang radikal.

Mahasiswa mempunyai beragam cara untuk menempuh pendidikannya sampai mendapat gelar sarjana. Misalnya. Ada yang berjualan di kaki lima, berjualan buku di kampus. Bahkan ada juga yang rela tidak membayar uang SPP demi membeli Print untuk di jadikan usaha agar jalan menjadi sarjana tercapai.

Berbeda dengan mahasiswa pada tahun 1990-an, mahasiswa periode itu di samping kuliah, mereka juga mengadakan perlawanan terhadap pemerintah Orba dengan menolak kepemimpinan Soeharto hingga menimbulkan korban nyawa.

Namun entah mengapa daya kritis itu kini kian mandul dan tidak memiliki daya ledak sekuat masa reformasi dulu? Tentunya ini perlu ditelusuri bersama.

Menurut saya pesatnya perkembangan teknologi banyak mempengaruhi perubahan itu.

Contohnya penggunaan hape (gadget). Mahasiswa kini disibukkan dengan gadget masing-masing. Mereka tak lagi mau pusing urusan apa itu menyuarakan hak kaum tertindas dan semacamnya. Mereka lebih fokus kepada dirinya sendiri, disibukkan dengan tugas-tugas kuliahnya.

Sebenarnya ada juga diantara mereka yang aktif berorganisasi. Sayangnya kebanyakan mereka masuk organisasi cuma karena fassion bukan lagi soal pembentukan karakter, intelektual, dan jati dirinya sebagai mahasiswa.

Inilah problem bagi mahasiswa saat ini, lantas bagaimanakah mengimplemetasikan ilmu dari sebuah universitas atau perguruan tinggi yang mereka peroleh selama ini dalam masyarakat?

Saat ini banyak kita temukan mahasiswa hanyalah memburu gelar tanpa ilmu. Atau ilmu yang didapatkan bertolak belakang dengan jurusan yang diemban.

Hal-hal seperti inilah yang menjadi sebuah dorongan bagi mahasiswa untuk belajar mengembangkan minat dan bakatnya lewat berorganisasi bukan hanya diatur oleh sebuah regulasi dalam kampus.

Regulasi yang tak jarang menghasil tugas-tugas yang menumpuk dan menjadikan sebuah beban bagi seorang mahasiswa.

Banyak mimpi yang ingin dicapai ketika jadi mahasiswa, jadi sarjana sukses, punya pekerjaan mentereng, kaya raya atau pikiran pragmatis lainnya. Tapi banyak pula cuma bisa berkhayal karena putus kuliah ditengah jalan dengan beragam alasan. Tak ada biayalah. Menikah mudalah, malas belajarlah, atau lebih miris percuma kuliah tidak ada manfaatnya.

Masalahnya kini adalah banyak yang berasumsi gelar sarjana tak lagi penting ketika dia hanya mencari gelarnya saja tidak dengan ilmunya, mengapa demikian?

Mengacu pada kemajuaan teknologi 4.0 banyak hal telah mengalami perkembangan pesat. Di media sosial orang telah berbicara keilmuan tanpa di dasari dengan gelar. Alih-alih mereka belajar secara otodidak melalui bahan bacaan di google, facebook atau youtube.

Sementara lapangan kerja lebih menuntut keahlian dan pengalaman seorang bukan gelar sarjananya.

Lantas bagaimana halnya dengan revolusi teknologi yang makin canggih dan tidak lagi menggunakan tenaga manusia tetapi dengan mesin dan robot, dimana mahasiswa saat ini akan bernaung dengan gelar sarjana yang di milikinya?

Tulisan ini sebernarnya bukan melarang kita kuliah. Atau berhenti kuliah. Melainkan semacam refleksi diri bahwa tugas dan kewajiban sebagai mahasiswa bukan semata menjadi sarjana ansich. Tapi lebih dari itu yakni mengimplementasikannya pada masyarakat.

Mahasiswa menuntut ilmu bukan sekedar jadi sarjana setelah itu selesai. Tapi lebih dari itu ilmu yang di dapat jadi manfaat di kehidupan mendatang.

Seorang bisa sukses karena tahu ilmunya. Dia bisa memberikan pandangan dan keilmuannya berdasarkan nalar berpikir yang telah di dapatkan di bangku kuliah dan pengalaman yang telah di dapat dalam (kalau dia) berorganisasi.

Disinilah pentingnya seorang mahasiswa belajar berorganisasi. Banyak hal bisa di dapatkan dengan berorganisasi. Tidak dibangku kuliah.

Kualitas sarjana yang berorganisasi dan yang tidak, terlihat dalam banyak hal. Paradigma berpikir dan bertindak Sarjana tak bisa membohonginya. Organisasi memang telah banyak menempa keberhasilan mahasiswa ketika sudah terjun ke masyarakat.

Kembali ke persoalan teknologi tadi. Sekali lagi kita tak bisa menafikkan kehadiran teknologi.

Seorang mahasiswa sesungguh memiliki banyak beban, selain kuliah mahasiswa juga di pertemukan dengan perkembangan jaman.

Revolusi teknologi mengajak kita untuk terus eksis di dalam perhelatan peradaban. Karena ketika bila kita tidak ikut dengan arus saat ini maka bersiaplah untuk di anggap kuno.

Kini tantangan mahasiswa adalah bagaimana mengelola dan mengimbangi kebutuhan seorang mahasiswa memperbaiki SDM-nya bukan sibuk dengan gedget masing-masing dan melupakan hal-hal yang krusial.

Banyak hal yang belum diutarakan disini akan tetapi perlulah kita sebagai mahasiswa mulai berbenah diri. Apa yang telah peroleh selama kuliah di perguruan tinggi sepatutnya kita pertanggung jawabkan di tengah-tengah masyarakat maupun di dunia kerja nantinya.

Kalau tidak maka gelar itu hanya jadi kenangan penghias dinding di ruang tamu tanpa ada pertanggung jawaban.

Back to top button