Humaniora

Makassar dan Kelirunya Para Teroris

Makassar, kota kedua yang saya cintai setelah Ende, kota kelahiran saya. Mungkin karena ada banyak kemiripan antara keduanya: kosmopolit, plural, keramahan penduduknya, yang kontras dengan kerasnya pada prinsip. Ditambah cuacanya yang panas, aroma laut yang tercium setiap hari, ‘pete-pete’ yang ngebut sesuka hati, dekat sekali Ende di hati.

Makassar itu damai. Aman.

Saya hidup, bergaul bersama orang-orang Makassar, Bugis, Toraja, dan lain lain yang berbeda suku dan agama. Berbeda bahasa dan kebiasaan. Semua berjalan normal, seperti juga kenormalan di tempat lain. Sesekali ada masalah. Biasalah. Duduk melingkar, minum ballo’ dan bicara baik-baik. Masalah selesai.

Makassar pernah dilanda kasus SARA berkepanjangan. Saya mengalaminya juga. Gereja tempat saya misa dibakar. Kami dikejar-kejar seperti buruan di kampus dan dihadang di jalan umum. Salah momen, taruhannya nyawa!

Tapi, tetap yang menolong dan melindungi kami adalah orang-orang Makassar juga. Teman-teman dari Bugis. Orang Buton. Anak-anak Luwu. Keluarga Toraja. Kawan-kawan Mandar. Semua yang notabene berbeda suku dan agama pula.

Tali persaudaraan tetap terjalin, dan bersama dalam pluralitas itulah, Makassar bergandengan tangan keluar dari masalah, membangun awal baru. Aman, damai, dan kuat, tanpa kehilangan karakter khasnya.

Kemarin, ada kasus bom bunuh diri di luar Gereja Katedral Makassar. Tepat ketika misa Minggu Palma sedang berlangsung. Entah siapa dan dari mana pelakunya, apa motifnya pula? Sebagai tindakan teror, mungkin sasarannya menebar ketakutan. Mungkin ada unsur politis pula? Dan mungkin-mungkin yang lain. Itu urusan aparat mengungkap tabirnya.

Tapi saya mau bilang begini: salah sasaran kalau mau menebar teror di Makassar. Di kota yg terbukti kuat meski dihantam badai gesekan sosial. Ini bukan kota yang mudah ditakut-takuti! Ini tempat solidaritas terbangun kuat justru ketika diserang!

Saya yakin, Makassar tidak akan jatuh hanya karena kasus seperti ini. Selalu ada kekuatan untuk saling menopang dan menjaga satu sama lain. Salah, kalau mau mencoba menebar kebencian di Makassar, karena selalu lebih banyak alasan untuk saling mengasihi di sana!

Saya tidak akan berhenti mencintai Makassar, mencintai setiap sudutnya, dan menimba kekuatannya.

Dan orang seperti saya, jauh lebih banyak dari segelintir ‘pentol korek api’ yang memilih menjadi alat iblis.

Tetap kuat, Makassar! Tetap jadi rumah besar untuk semua!