Humaniora

Malala (2): Menolak Bungkam

Lembah Swat adalah tempat yang indah.

Sepanjang mata memandang yang nampak hamparan hijau luas membentang. Dihiasi air terjun yang dingin dan danau yang tenang. Juga dikelilingi gunung yang tinggi menjulang.

Di antara gunung menjulang terdapat satu gunung yang unik.

Unik karena ada patung Budha raksasa terpahat disitu. Sosoknya digambarkan sedang bertapa dalam posisi lotus. Diperkirakan dibuat pada abad ke-7.

Konon biksu China Hsuantsang dari dinasti Tang yang tersohor sebagai guru Kera Sakti dalam legenda perjalanan ke barat pernah melintas di tempat itu. Dia sempat mencatat tentang kehidupan umat Budha disana.

Namun, entah mengapa penganut Budha tiba-tiba lenyap tak berbekas? Budhisme adalah masa lalu yang terputus. Sebuah kejayaan peradaban yang kini jadi misteri.

Sejak puluhan tahun Lembah Swat dikenal sebagai daerah tujuan wisata populer. Setiap tahun selalu ramai dikunjungi turis karena memiliki festival musim panas yang meriah.

Namun daerah itu mulai berubah ketika Taliban masuk.

Paska teror 9-11 Amerika Serikat menyerbu Afganistan dan melumpuhkan Taliban. Taliban dianggap melindungi kelompok teroris Al-Qaeda. Termasuk pimpinannya Usamah bin Laden.

Taliban lalu memindahkan pusat operasinya ke perbatasan Pakistan. Kemudian menyusun kekuatan baru melanjutkan perlawanan. Salah seorang panglimanya bernama Maulana Fazlullah pernah bermarkas di Lembah Swat.

Gambar : Pasukan Taliban

Di tempatnya yang baru, Taliban menerapkan pemerintahan ber”syariah Islam”. Berbeda dengan yang dianut warga sebelumnya.

Tak boleh ada televisi, musik dan bioskop. Laki-laki harus memanjangkan jenggot. Perempuan wajib memakai burqa.

Perempuan juga dilarang sekolah dan bekerja. Dilarang keluar rumah selain dengan muhrimnya. Ada juga.. kalau sakit perempuan lebih baik mati dari pada diobati dokter laki-laki.

Aturan-aturan ini tak boleh dilanggar. Bila dilanggar nyawa melayang.

Selama kurun waktu tiga tahun yakni, 2007 hingga 2009, Lembah Swat dikuasai Taliban.

Selama itu pula banyak perubahan yang terjadi. Sekolah-sekolah perempuan dibakar dan dirusak. Termasuk patung Budha raksasa yang bersejarah ikut dirusak tahun 2007.

Tahun 2009, Pakistan mengadakan serangan besar-besaran mengusir Taliban. Pesawat Jet, helikopter tempur, senjata berat dan ribuan infantri dikerahkan. Banyak korban meninggal.

Di pihak Pakistan diperkirakan 195 orang. Sementara Taliban 1.053 orang. Begitu kata media resmi Pakistan (PPI). Kalau versi Taliban tak diketahui. Haram hukumnya masuk televisi.

Taliban Menyerah. Tapi Sebagian menolak dan lari ke gunung-gunung mengkosolidasi pasukan. Mereka sesekali turun gunung mengacaukan Lembah Swat.

Lantas, siapa Malala..?

Malala atau lengkapnya Malala Yousafzai adalah putri pasangan Ziauddin Yousafzai dan Toor Pekai. Lahir dan tumbuh besar di Migora Distrik Swat Provinsi Pakhtunkwa Pakistan, 12 Juli 1997.

Gambar : Ziauddin dan Malala

Ayah Malala seorang kepala sekolah, sastrawan dan aktivis pendidikan. Ia mengelola jaringan pendidikan Khushal, nama yang diambil dari sastrawan Pasthun terkenal, Khushal Khan Khattak.

Dari ayahnya Malala mengenal wawasan intelektual yang luas. Ia mendidik Malala agar berani tampil menyuarakan hak-haknya baik melalui pidato dan tulisan.

Ziauddin anti Taliban. Darinya Malala mengetahui diskriminatifnya Taliban pada anak perempuan.

Saat pemimpin Taliban Muslim Khan mengatakan, “Anak perempuan tidak boleh sekolah dan mengecap pendidikan barat.”

Malala menolak gagasan itu. Dia berontak. Katanya:

“Pendidikan adalah pendidikan. Kita harus belajar segalanya lalu memilih jalur yang akan ditempuh. Pendidikan bukan Timur atau Barat. Pendidikan adalah manusia.”

Bulan September 2008, di Peshawar Pakistan dia berpidato lagi, judulnya..(ngeri): “Berani-beraninya Taliban mengambil hak dasar saya untuk menerima pendidikan.”

Malala terang-terangan menantang Taliban.

Salah seorang reporter BBC, Abdul Hai Kakkar sangat penasaran dengan keberaniannya. Ia kemudian mencari Malala dan mengajaknya bergabung.

Pucuk dicinta ulam tiba. Seperti mendapat berkah dari langit. Malala setuju. Apalagi ayahnya menyokong hal tersebut.

Saat itu usia Malala baru 11 tahun.

Tanggal 3 Januari 2009 tulisan pertamanya muncul di Blog BBC berbahasa Urdu. Sejak itu dia rajin menulis dan melapor kekejaman Taliban di daerahnya. Tentunya dengan nama samaran, Gul Makai.

Tulisannya makin lama makin mengigit. Menggugah New York Times membuat film dokumenter tentangnya. Jadilah Malala dikenal dunia internasional.

Apes, samarannya terbongkar. Apa boleh buat sudah resiko. Malala makin berani. Maju terus pantang mundur.

Malala makin sering berpidato diberbagai forum untuk memperjuangkan hak-hak anak perempuan atas pendidikan. Juga aktif berkampanye bagi perbaikan nasib anak-anak Pakistan.

Pada bulan Oktober 2011, Desmon Tutu menominasikan Malala dalam “The International Children’s Peace Prize.

Dua bulan kemudian, dia memenangkan “Pakistan’s First National Youth Peace Prize”.

Tanggal 2 januari 2012 remaja itu mendapat anugerah besar. Namanya diabadikan menjadi nama sekolah di Pakistan: “Malala Yousafzai Government Girls Secondary School”.

Nama Malala makin melambung.

Namun Malala tak berpuas diri. Dia tetap bertekad menyuarakan pendidikan buat anak perempuan di Pakistan.

Tekad Malala membuat Taliban gerah. Dia jadi target pembunuhan.

Malala tak pernah menduga apa yang akan terjadi. Dipikirnya Taliban tak mungkin menyasar remaja 14 tahun. Justru yang dikuatirkan ayahnya yang aktivis anti-Taliban itu.

Sampai tanggal 9 Oktober 2012, peristiwa tragis itu pun terjadi. (Baca: disini)

Bersambung..