Humaniora

Malala (3): Perjuangan Panjang

Tak pernah terbayangkan Malala muncul di Majalah Vogue. Majalah selebriti paling terkemuka di dunia. Gambarnya menghiasi sampul majalah itu di edisi Juli 2021. Dua bulan yang lalu.

Gambar : Majalah Vogue

Di mata saya, Malala yang selalu tampil sederhana dan anggun rasanya kurang elok untuk Majalah se-glamour Vogue.

Tapi saya harus mengakui kehebatan Nick knight fotografer Vogue. Dia sukses mengambil sisi elegan Malala tanpa menghilangkan ke-anggunannya.

Di foto itu Malala memakai gaun rancangan desainer papan atas ternama: Stella Mc Cartney. Warnanya membara. Merah menyala.

Di lembar lain, dia memakai hasil rancangan desainer top dunia asal Uruguay: Gabriele Hearst. Celananya linen dan kemeja merah dipadu dengan kerudung biru. Sangat kontras dalam pandangan mata.

Sayang pesona gambar itu belum bisa menjawab, mengapa Vogue?

Urusan diliput media sebenarnya bukanlah hal baru bagi Malala. Dia pernah diwawancari beberapa majalah top dunia. Diantaranya: Time dan Deutsche Welle.

Gambar: Majalah Time

Malah, Time menghiasi sampul depannya dengan wajah Malala. Disertai judul besar: The 100 Most influential People In The World. Artinya: orang ini, Salah satu diantara seratus orang berpengaruh di dunia.

Kalau media Jerman Deutsche Welle lain lagi. Di edisi Januari 2013 Malala dinobatkan sebagai “Remaja Paling Masyhur di dunia”.

Wajarlah.. Malala tokoh politik berpengaruh. Sepak terjangnya memperjuangkan pendidikan untuk anak perempuan mencengangkan dunia.

Tapi Vogue beda.

Majalah Vogue lebih ke gaya hidup seseorang. Isinya dunia kecantikan dan kehidupan gemerlap para artis, pragawati dan model terkenal. Majalah kiblat-nya mode internasional.

Apakah Malala sudah berubah?

Sepertinya begitu. Malala memang berubah.

Seiring waktu, Malala tumbuh dewasa. Bukan lagi ABG yang malu-malu saat disorot kamera.

Kini tampilannya makin cantik. Makin menarik. Makin beda. Tapi dia tak pernah lepas kerudung. Kerudung itulah simbolnya. Membuatnya tampil beda.

“Saya Malala. Kerudung ini adalah identitas saya. Bukan sebuah simbol jika saya tertindas.” Ujarnya pada Vogue.

Malala ingin menepis asumsi sebagian masyarakat Barat bahwa kerudung atau jilbab adalah bentuk ketertindasan. Baginya hal itu adalah stereotipe dan kekeliruan besar.

Malala memang berubah. fisiknya berubah. Cara berpikirnya juga berubah. Makin matang.

Namun ada satu yang belum berubah: sikap konsistensinya dengan apa yang diyakini selama ini.

Lewat Majalah Vogue dia menyampaikan pesan yang terang benderang kepada dunia.  “Hanya pendidikanlah yang bisa melawan terorisme dan ekstrimisme.”

Anak perempuan saya tergila-gila pada Malala. Dia sering menemani saya membaca beritanya. Terkadang dia cari sendiri di internet. Sampai dia menemukan film tentang Malala. Judulnya: Gul Makai. Pakai bahasa Urdu.

Sialnya entah dilupa atau sengaja film ini tak menyertakan subtitle. Baik Inggris apalagi Indonesia.

Kami pun tak berdaya. Nonton sambil meraba-raba walau tetap fokus. Dia fokus menebak-nebak jalan ceritanya. Saya fokus menunggu lagu-lagunya.

Sekarang Malala menetap di Birmingham. Sejak pulih dari sakit dia diminta tak usah balik lagi ke kampung halaman. Di sana tidak aman. Cukup di Inggris saja.

Hebatnya, bukan cuma Inggris. Pemerintah Kanada pun memberikan anugerah kewarganegaraan kehormatan. Malala adalah orang keenam dan termuda dalam sejarah yang menerima penghargaan itu. Selain Malala ada Nelson Mandela. Juga Dalai Lama.

“Kapan waktu bila ingin.. Malala bisa menetap di sini.” Kata Justin Trudeau perdana menteri Kanada. Malala menyambut baik tawaran itu dan berterima kasih.

Namun hingga kini dia masih betah di Inggris. Negara yang telah menyelamatkan nyawanya, memberi tempat tinggal dan perlindungan. Serta pekerjaan bagi orang tuanya.

Kini usianya 24 tahun. Sudah sarjana Ilmu Filsafat dan Ekonomi Politik. Alumnus Oxford. Salah satu universitas terbaik dunia. Idolanya, almarhum Benazir Bhuto pernah menuntut ilmu di kampus ini sebelum terpilih menjadi perdana menteri Pakistan.

Walaupun jauh dari Pakistan maupun Afganistan, di tempatnya sekarang Malala tetap kritis. Bahkan lebih. Karena bebas berekspresi tanpa rasa takut. Sepak terjangnya memperjuangkan nasib perempuan makin menjadi-jadi.

Sembilan bulan setelah tertembak, dia diundang berpidato di depan sidang umum PBB. Pidato itu memukau para pemimpin dunia. Isinya:

“Saya tak pernah membenci Taliban meskipun mereka telah menembak saya. Bahkan jika ada pistol ditangan saya dan dia berdiri di depan saya, saya tak akan menembaknya.” Ujar Malala.

“Ini adalah welas asih yang diajarkan Nabi Muhammad, Yesus Kristus dan Budha. Ini adalah warisan perubahan yang diturunkan oleh Martin Luther King, Nelson Mandela dan Muhammad Ali Jinnah. Ini adalah filosofi anti kekerasan yang diajarkan Gandhi, Bacha Khan dan Bunda Teresa.” Ujarnya lagi.

Malala juga mengatakan, “Memperoleh pendidikan adalah hak bagi setiap anak. Termasuk anak perempuan. Sekali pun itu anak-anak Taliban dan anak-anak ekstremis lainnya.

Hari itu, 12 Juli 2013 bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Malala. Sekjen PBB, Ban Kim Moon kemudian menetapkannya sebagai Hari Malala. Hari yang menandai perjuangan menunaikan hak pendidikan bagi anak perempuan sedunia.

Pada Oktober 2013, Malala mendapat penghargaan “Skharov untuk Kebebasan Berpikir” dari Parlemen Eropa. Sebagai Pengakuan atas karya dan keberaniannya.

Di tahun yang sama, Malala menulis kisah hidupnya dalam buku: The Girl Who Stood Up for Education and Was Shot by the Taliban. Dalam buku itu Malala menulis..

“Saya tak ingin dikenang sebagai remaja yang ditembak Taliban. Saya ingin dikenang sebagai perempuan yang memperjuangkan haknya yang dirampas.”

Selain itu dia juga menulis..

“Marilah kita mengambil buku dan pena. Mereka adalah senjata kita yang paling ampuh. Satu anak, satu guru, satu buku, dan satu pena dapat mengubah dunia.”

Buku ini laris manis dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Termasuk Bahasa Indonesia.

Tahun 2014 tepat diusia ke-17, malala menerima Hadiah Nobel Perdamaian dari PBB. Dia menjadi peraih Nobel termuda di dunia.

Tak cuma berkoar-koar diatas podium. Apalagi gelap mata setelah mendapat Nobel. Malala kemudian mendirikan Malala Fund. Sebuah lembaga yang bertujuan membantu pendidikan anak-anak perempuan di Afrika, Asia dan Amerika Latin.

Malala tak sekedar berwacana. Tapi memberi bukti kongkrit perjuangannya.

Banyak yang memuji perjuangannya. Mantan ibu negara AS Michelle Obama amat menganggumi Malala. Juga CEO Apple Tim Cook.

Gambar : Bersama Keluarga Obama

Tim Cook bahkan pernah mengatakan, “Luar biasa. Sudah ditembak masih berani. Saya rasa tak ada orang seperti dia.”

Namun tak semua menyukai Malala. Ada juga yang membencinya. Termasuk di tanah kelahirannya sendiri Pakistan. Gagasan-gagasannya sering dinilai kontroversial. Menyulut pro-kontra. Karena dianggap terlalu liberal.

Salah seorang diantaranya bernama Sardar Ali seorang ulama garis keras. Dia mengancam akan meledakkan Malala dengan bom bunuh diri bila nanti dia kembali ke Pakistan.

******

Sekarang, Taliban kembali berkuasa di Afganistan. Malala kembali risau dengan masa depan anak-anak dan perempuan di sana.

Saat konfrensi pres Taliban di Kabul sehari setelah menguasai ibukota Afganistan (17/8). Jubir Taliban: Zabihullah Mujahid berusaha meyakinkan bahwa, “Hak-Hak perempuan akan dihormati. Mereka boleh bekerja, belajar dan aktif bermasyarakat tetapi menurut Syariat Islam”.

Malala Tak percaya.

“Saya tahu Taliban. Itu cuma lips service. Liat saja nanti” Katanya

Dan benar. Tak cukup sebulan berkuasa Taliban kembali melarang anak-anak perempuan sekolah.

Muncullah demontrasi perempuan di Kabul. Mereka menuntut persamaan hak. Mereka menolak selamanya mendekam di rumah. Jadi warga kelas dua. Dan aktivitasnya tak jauh dari 3 R : Sumur, Dapur dan Kasur.

“Rasanya sangat sulit jadi perempuan di Afganistan. Semuanya dibatasi. Termasuk ketika kita berdiri depan rumah sendiri sekali pun” Kata demonstran itu dengan nada ketakutan.

Namun dalam kondisi ketidakpastian itu. Seorang gadis berkerudung muncul di jaringan televisi internasional. Raut mukanya tegang dan prihatin. Dia meminta para pemimpin dunia tidak hanya diam dan menonton di layar kaca apa yang terjadi di Afganistan.

Gambar : Pidato Malala

“Konflik yang melanda Afganistan begitu dalam dan rumit. Masalahnya sangat kompleks. Banyak sekali pihak yang ingin berperang. Tapi anda semua harus tahu, jika korban sesungguhnya atas semua konflik ini adalah warga sipil terutama perempuan dan anak-anak. Saya sangat kuatir dengan keadaan perempuan di Afganistan.”

Gadis berkerudung itu Malala Yousafzai. Gadis yang pernah merasakan kelamnya hidup di tengah-tengah kekuasaan Taliban.

Kembalinya Taliban berkuasa menandakan perjuangan Malala belum akan berakhir. Sebaliknya justru akan semakin panjang dan berliku. Entah sampai kapan tak ada yang tahu. Cuma waktu yang bisa menjawabnya.

Selamat berjuang Malala…