Humaniora

MASIHKAH INDONESIA DALAM HATIMU?

Genap dua pekan Bangsa Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun kemerdekaannya. Dalam Beberapa hari paska 17 Agustus, semua berjalan biasa-biasa saja. Seakan kita tak memperingati hari yang begitu disakralkan ini.

Di kampung saya tak ada lagi perayaan 17-an dengan karnaval meriah. Tak ada lomba baris-berbaris anak sekolah. Di alun-alun tak ada pertandingan olah raga dan seni. atau pesta rakyat pada malam harinya. Sepi.

Barangkali yang menunjukkan kalau kita belum lupa dan masih memperingati Hari Kemerdekan cuma bendera merah putih dan umbul-umbul yang berkibar di depan rumah, selain itu tak ada.

Wabah pandemic, Covid-19 memang telah meluluh lantakkan hampir segenap sendi-sendi kehidupan bangsa. Perang melawannya terus digaungkan. Namun korban terus bertumbangan.

Ada dua sektor yang paling merasakan dampak pandemic, sektor kesehatan. Juga ekonomi. Namun sayang hingga detik ini keduanya terus berseteru, mereka saling berebut pengaruh mana yang pantas mendapat prioritas utama untuk diperhatikan.

“keselamatan rakyat adalah jiwa negara. Maka mencegah berkembang biaknya virus harus nomor satu. Tidak terinfeksi adalah harga mati.” Kata yang mendukung kesehatan.

Yang setuju ekonomi tentu membantah, “Kita ini mau hidup. Kita butuh makan. Tanpa makan kita mati. Jadi untuk makan ekonomi harus tetap jalan. Ekonomi harus tumbuh dengan selamat”.

Keduanya sulit bergandengan tangan. Presiden sampai jajaran terendah pusing. Semua jadi serba salah. akibatnya banyak orang yang berkoar-koar. Teriak sana. protes sini, puncaknya setelah bantuan sosial (Bansos) ditelip. Mampus betul kita. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tapi mau diapa itulah realita. Realita di sebuah negeri bernama Indonesia.

Kita boleh menggerutu melihat kekurangan-kekurangan yang terdapat di dalam tubuh negara kita. Pemerintahannya, masyarakatnya, fasilitas-fasilitasnya, dan hal-hal lain yang kita rasa kurang atau justru tidak baik.

Kita boleh mengkritik, kita boleh protes. Kita boleh kecewa dengan kekurangan yang ada itu. Namun, pantaskah kita membenci negeri kita sendiri?

Katakanlah negeri adalah sebuah rumah dan kita adalah penghuninya. Kita tinggal di dalam sebuah rumah reyot dengan dinding papan yang berlubang-lubang, panas menyengat di siang hari dan dingin menggigit di malam hari.

Lantas, apa yang harus kita lakukan sebagai pemilik rumah? Menggerutu saja? Atau lebih memilih tidur di rumah tetangga?

Seorang pemilik rumah yang baik tentu tidak akan membiarkan segala bentuk kekurangan yang ada pada rumahnya. Bisa jadi banyak hal yang perlu diperbaiki.

Tapi juga tidak ada salahnya jika proses perbaikan itu dilakukan perlahan-lahan. Hari ini perbaiki atap, besok perbaiki dinding, besoknya lagi bersihkan selokan, dan seterusnya.

Apakah hanya kepala keluarga yang wajib memperbaiki rumah? Salah besar. Semua yang tinggal di dalam rumah itulah yang bertanggung jawab memperbaiki rumah. Meskipun setiap orang memiliki peran berbeda, tapi tujuannya sama, yaitu memperbaiki rumah.

Sejelek apapun keadaannya itu adalah rumah kita. Terimalah! Jika malu, maka lakukan sesuatu agar rumah itu tidak kelihatan memalukan. Apa kata orang jika kita sampai menghina rumah kita sendiri?

Nah, pertanyaannya kini adalah Seberapakah cintamu pada negeri tempatmu bernaung ini?

Tak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk kita, termasuk negara kita. Kita tahu apa yang baik dan tidak baik pada negara kita ini. Manakah yang lebih kita pandang dari sebuah negara, kebaikannya atau keburukannya?

Di sinilah kita lahir, di sini kita tumbuh, dan di sini kita mati. Jika bukan kita yang bisa membesarkan negeri ini, lalu siapa lagi?

Check Also
Close
Back to top button