BudayaHumaniora

Memaafkan

Kata ini akan mewarnai hari lebaran nanti, diruang privat dan publik semua akan mengucanpnya. Sebab moment lebaranlah saat paling tepat untuk minta maaf. Meskipun di moment lain juga boleh dilakukan.

Ruang Privat digunakan oleh mereka yang tak setenar publik pigur, keluarga kecil dan sederhana, bisa disebut masyarakat kelas bawah. merengkuh dalam nuansa haru agar mereka saling memaafkan.

Beda dengan permohonan maaf di ruang publik, tak semua bisa mengaksesnya, hanya orang tertentu yang dibilang orang “penting” di negara ini, misalnya Pejabat dan Selebriti. Ruang publik ini miliknya karena mereka publik figur, jadi minta maafnya bisa melalui ruang publik di media mainstream dengan jangkauan bisa sampai ke rumah-rumah masyarakat di pelosok negeri. Mudah-mudahan saja di maafkan.

Sekarang, dengan laju perkembangan tekhnologi komunikasi, permohonan maaf (silaturrahim) disarankan virtual. Seperti sekarang dimasa pandemi. Vidio Col melalui WhatsApp dan kanal Zoom meeting untuk mohon maaf di manfaatkan. Tapi pastinya ini hanya bisa diakses segelintir orang saja, bisa jadi hanya orang “Penting” yang dibilangkan tadi.

Bagi “Kelas Bawah” sulit dan mahal, apalagi orang di kampung yang tak sempat menggunakan smartphone Canggih. Pastinya minta maaf secara virtual Meraka harus dimaafkan saja, karena tidak bisa.

Yang pasti, baik diruang Virtual, Media Mainstream atau ruang nyata. kesalahan, baik sengaja dan tidak diharapkan agar pintu maaf terbuka lebar bagi yang telah berbuat salah. kesalahan sekecil dan sebesar apapun, baik itu orang kecil dan orang “Penting” berharap sama. Ya di Maafkan !

Setahun terakhir, banyak laku yang telah melukai perasaan dan mungkin fisik kepada seseorang dan atau masyarakat umum. Membuatnya sakit hati, motifnya bisa seperti menipu, membodohi, merusak bahkan tindak kriminalisasi telah dilakukan demi keuntungan pribadi dan kelompok tertentu. Perlakuan tersebut bisa jadi karena dianggap tak sejalan dengan keinginan kita. Pilihannya untuk menyingkirkan, membuatnya jatuh atau gagal adalah praktek prilaku kriminalisasi itu.

Bukan hanya kepada Manusia kesalahan itu dilakukan, Bisa jadi melampaui batas hubungan manusia. misalnya memperlakukan alam dan mahluk lain tanpa rasa kemanusiaan sama sekali.

Nampak jelas dalam realitas hidup kita, Prilaku Korup, ekploitasi, kriminalisasi, intoleran tergambar terang benderang di depan mata. Pemberitaan media juga demikian, hampir setiap saat kita disuguhi Informasi laku tersebut. Tak perlu di tuliskan fakta-faktanya, takutnya kita tak jadi pemaaf.

Siapa pelakunya ?

Ini juga tak perlu di tuliskan, sebab kita semua hampir setiap saat menyaksikan pemberitaannya, terlepas terbukti salah atau tidak secara hukum. Namun pada dasarnya telah melukai kepercayaan yang diamanahkan. Sebab sebelum menjadi publik figur ada janji-janji manis untuk menjadi bagian dari barisan masyarakat kelas bawah tadi.

Lalu apa kita harus memaafkan?

Tentu, dimaafkan sebesar apapun dosanya, mungkin dengan dimaafkan prilaku itu tak terulang kembali. Namun memaafkan sesuai proses hukum pastilah berbeda caranya memaafkan.

Musthafa al-Adawy dalam bukunya menerangkan bahwa, “jika seseorang melontarkan makian atau tuduhan kepada anda maafkanlah dan ucapkanlah kata-kata yang baik. Jika seseorang bersikap tidak baik terhadap anda, maka Allah akan tetap membantu anda jika anda memberi maaf dan tetap berbuat baik. Dan Jika seseorang menganiaya anda, maka maafkanlah” “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”.

Menurut Quraish Shihab dalam tafsirannya menganjurkan pada kita untuk memaafkan kesalahan orang lain, Allah akan menuntun kita untuk bersabar dengan tidak melakukan pembalasan dan memaafkan selama tidak menyebabkan bertambahnya kedzaliman, karena sikap maaf itu sesuatu yang luhur. Penjelasan tersebut tidak membatalkan untuk membalas, hal ini tuntunan untuk meraih keutaman yang tertinggi.

Pesan dari pemuka agama diatas menjelaskan sebesar apapun kesalahan harus di maafkan, Sebab dengan memanfaatkan akan mengantarkan kita sebagai manusia yang menghampiri paripurna (Insan Kamil Ulul Albab), Insya Allah.

Jadilah pemaaf, agar karena pada dasarnya kita semua berpotensi berbuat kesalahan, dengan demikian kita juga berharap dimaafkan.

Check Also
Close
Back to top button