Humaniora

Ngaji Iqra?, Nggak Ah.. Aib

“ saya pengen lancar baca qur’an kak, bukan pengen baca iqro’ “
“masa iya saya harus ngulang dari iqro’ kak?, malu ahh, aib “
“ malu ah nak, masa iya kita yang sudah tua mau ngulang dari iqro’ lagi?”

Kalimat-kalimat seperti itu sudah tidak asing lagi di telinga, ketika kita mengajak atau menawarkan jamaah yang sudah berumur atau bahkan para pemuda pemudi yang belum lancar mengaji untuk menghadiri majelis ilmu dan belajar mengaji. Bahkan mungkin berlaku juga terhadap teman-teman pembaca.

Tak jarang kita temui orang-orang yang sadar atas ketidakmampuan mereka dalam hal baca tulis al-quran namun merasa gengsi untuk mengikuti metode-metode belajar membaca al-quran, seperti yang paling sering ditemui adalah metode ngaji iqro’ ini.

Tidak sedikit masyarakat di sekitar kita yang menganggap bahwa iqro’ adalah bacaan yang hanya di peruntukkan untuk anak-anak kecil yang baru saja mulai belajar untuk membaca al-quran. Pola pikir seperti ini sebenarnya tidak salah, hanya saja kurang tepat.

Jadi apasih sebenarnya metode iqro’ itu ?

Jadi metode iqro’ merupakan sebuah metode pembelajaran untuk menghafal huruf hijaiyah. Dengan iqro’ kita juga akan mengetahui bagaimana cara mengucapkan dan menulis huruf-huruf yang ada di dalam al-quran.

Istimewanya lagi, selama proses belajar iqro’ ini secara perlahan diperkenalkan tajwid. Dengan izin Allah, orang yang belajar iqro’ ini dapat membaca al-quran dengan benar, yaitu dengan tartil dan bertajwid.

Namun, masyarakat umumnya hanya memandang metode ngaji iqro’ ini sebagai hal yang sangat mendasar sehingga mereka menganggap jika menjalani proses ini maka dapat merusak imej atau menurunkan derajat mereka di mata masyarakat lain. Namun tidak sedikit juga masyarakat yang berkeinginan besar untuk mempelajari metode iqro’ ini.

Tapi cita-cita yang mulia ini tidak sesuai dengan ekspektasi, niat hati ingin belajar, namun umur sudah uzur, tekad jiwa untuk menuntut ilmu, tapi fisik melemah, hafalan sering lupa, akhirnya berkecil hati dan tidak semangat lagi untuk meraih kemenangan ilmu.

Tapi pantaskah kita untuk berputus asa sedangkan Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya QS. Al-ankabut 69:

“dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami berikan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik “.

Bukankah menuntut ilmu agama itu termasuk dalam perbuatan baik?
Mempelajari metode iqro’ pun termasuk dalam perbuatan baik bukan?

Lantas apa yang perlu kita khawatirkan sedangkan Allah telah berjanji pada firman-Nya tersebut?

Sebenarnya tidak akan kita temui suatu kesulitan ketika hati kita telah membulatkan niat ikhlas karena Allah ta’ala.

Kita hanya perlu menghilangkan gengsi diri kita yang tidak pada tempatnya tersebut. Berusaha dan tekun agar dapat memahami dan mampu menguasai metode iqro’ yang sebenarnya memang disusun untuk mempermudah kaum muslim dalam mempelajari ilmu baca tulis al-quran ini.

Jika memang usia menjadi kendala dalam menuntut ilmu, lantas bagaimana dengan Ibnu Hazm yang menurut Adz-Dzahabi dalam kitab Siyarul Alam Nubula, terbukti kelak menjadi salah satu ulama prolific yang menguasai banyak disiplin ilmu.

Lalu bagaimana dengan Ali bin Hamzah al-kisai ulama yang terkesan sebagai linguis sekaligus pakar susastra dari mazhab Qufah ini baru belajar ketika usianya masuk kepala empat.

Adapun ulama fiqih brilian dari mazhab syafi’I bernama Al-Qaffal Al-Marzawi, lelaki yang berprofesi sebagai tukang duplikat kunci ini sampai usia empat puluh tahun hidup dalam kegelapan. Ia tidak mengerti agama sama sekali. Ia hanya sekedar menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan. Kerja lembur sering ia lakoni dan banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Belajar di usia yang tergolong sudah matang membuatnya kesulitan. Daya ingat yang sudah mulai menurun diceritakan sempat menjadi penghalang utama yang merontokkan semangat Al-Qaffal.

Namun, urusan senioritas ketelatan dan mencari ilmu belum ada yang menandingi sholeh bin kaisan. Seperti dikisahkan dalam kitab Tazhibud Tadzhib, lelaki alim ini baru memulai belajar dan mencari ilmu di usia yang jauh meninggalkan batas usia pensiun pegawai. Ia belajar agama pada saat usianya tepat masuk kepala tujuh. Meskipun sangat telat, banyak riwayat menyatakan ketangguhan ingatan Sholeh bin Kaisan dalam menghafal hadis sehingga kerap megalahkan pewara-pewari lain yang usianya lebih muda.

Jadi itulah beberapa biografi ulama-ulama yang memiliki ketekunan luar biasa hidup tidak berdasarkan angka hitungan usia.

Umur diperlakukan sebagai deretan angka semata. Semangat, integritas, dan kesungguhan dalam belajar adalah kunci utama mengapa mereka bisa move on dari kehidupan yang penuh kejahilan ke arah cahaya ilmu pengetahuan.

Inilah jalan pencerahan yang dalam bahasa Quraish Shihab disebut dengan At-Tariq Al-ishraqy atau pencerahan batin.

Jangan sampai kita termasuk dalam golongan orang-orang yang jauh dari ilmu karena malu, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“ tidak akan menuntut ilmu orang yang pemalu dan orang yang sombong“. (HR. AL-BUKHARI).

Orang yang pemalu, sifat malu menahan dirinya dari menuntut ilmu. Sedangkan yang sudah sombong, ia merasa seolah-akan berilmu, jadi tidak membutuhkan ilmu lagi.

Dan tentunya hadist tersebut berlaku bagi segala kalangan usia. Anak-anak, para remaja, pemuda-pemudi bahkan untuk para orang tua yang sudah berusia lanjut.
Allahu a’lam.

Back to top button