Humaniora

PMII adalah Rumah yang Setiap Kader akan Kembali

Baru-baru ini saya bertemu lagi sahabat senior yang dulu pernah sama-sama aktif di PMII. Prediksi saya, kami akan berbincang panjang kali lebar. Saking luasnya yang akan kami cerita, saya memilih salah satu tempat ngopi dekat tempat kerja.

Kami memulai cerita dari rentang waktu kami tak pernah bertemu lagi. Kemudian kami lanjut pada topik nama-nama sahabat yang sudah menemukan tempat pengabdian.

Diselingi nyeruput kopi, tentu kami mengulas bagaimana mereka dulu aktif ngurusi PMII : ikut dan hadir saat pengkaderan sana-sini, pelatihan dan acara-acara organisasi lain. Lanjut, kami membincang bagaimana sepak terjangnya kini.

“Sekarang enak anak PMII sudah banyak senior yang mengisi ruang-ruang pengabdian. Sudah mapan. Sehingga untuk distribusi gagasan dan logistik tidak akan kesulitan lagi”.

Mendengar itu ingatan saya terlempar pada diskusi-diskusi PMII beberapa tahun silam.

Ya, ruang pengabdian inilah yang dulu menjadi topik diskusi bawah pohon. Setelah banyak anggota yang dikader, tentu PR selanjutnya adalah mendistribusikan mereka dalam ruang-ruang pengabdian di masyarakat. Istilahnya dulu, produksi dan distribusi kader.

Kalau konteks mahasiswa masih seputar mendistribusikan kader pada lembaga-lembaga kemahasiswaan yang ada, tapi pasca mahasiswa inilah yang saya maksud dengan ruang pengabdian.

“Kerja, mengabdi dan meninggalkan legacy, kemanfaatan yang bisa dinikmati oleh semua,” kira-kira begitu konsep pengabdian yang sering bergema pada ruang-ruang diskusi PMII.

Kenapa legacy? Supaya kita tidak egois ngurus diri sendiri saja. Menjadi Khalifah di muka bumi, seperti halnya yang dilakukan Nabi Muhammad Saw yang  legacy beliau masih kita nikmati hingga kini, bahkan hingga di akhirat nanti. Itulah kira-kira gambaran citra ideal kader ulul albab yang dicita-citakan PMII, memberi kemanfaatan pada semua.

“Sembari berpegang pada tradisi, ideologi akan dihidupkan pada ruang yang tersedia. Mengisi realitas dengan kerja-kerja produktif. Masih banyak ruang kosong yang bisa diisi”.

Ini juga yang tergambar dari penyampaian sahabat senior yang saya cerita di awal. Semangat itu masih menyala-nyala. Dari pancaran mata dan penegasan kata-katanya, saya membaca ideologi itu terus terpompa dalam dadanya. Visi perjuangan, semangat juang yang lahir dari nilai dasar pergerakan (NDP).

Padahal ini adalah hal yang jarang. Banyak ideologi yang sudah lumpuh akibat tumpukan beban kehidupan. Realitas yang serba praktis membuat diri kita makin oportunis, sikat peluang yang penting kenyang dan mengesampingkan kemaslahatan. Termasuk mungkin saya.

Pertemuan dan cerita dengan sahabat senior ini, membuat saya kembali tersadar. Ternyata PMII masih tetap hidup dalam relung-relung hati para tiap kader, meski ditempa keras kehidupan.

Sebenarnya ini teguran kedua yang membuat saya siuman dari rutinitas keseharian yang menjemukan. Kerja pada ruang dimana ideologi tak lagi diperbincangkan dan didengungkan.

Teguran pertama sebenarnya sudah berlalu beberapa bulan. Awalnya saat saya ngurus mencari ruang pengabdian baru, penyegaran rutinitas.

Setelah beberapa kali menawarkan apa yang saya bisa pada siapa saja, akhirnya saya tertambat pada kebaikan sahabat senior yang tak masuk kira-kira. Saya diterima untuk mendampinginya, satu atap, bersama dalam ruang pengabdian. Saya pindah dan kerja di tempat baru tapi rasa lama.

Awalnya saya tak heran karena kita berangkat dari organisasi yang sama, PMII. Tapi saya juga pernah mengajukan hal yang sama, tapi tak diterima. Saya kemudian melanglang buana lagi, tak diterima lagi.

Tapi setelah pertemuan dan perbincangan sambil ngopi ini saya kembali merenungi. Mengingat ulang pada beberapa bulan yang saya jalani. Di tempat kerja baru.

Banyak yang heran kenapa saya begitu akrab seakan langsung nyetel. Padahal untuk orang lama butuh waktu tak tentu untuk menjalin keakraban dengan pimpinan. Tentu mereka masih buta, kalau saya berasal dari merk yang sama meski tentu beda spek-nya.

***

Ada hal penting yang saya rasa dari dua peristiwa itu. Ketika berbincang, saya merasa seakan bercerita dengan saudara bahkan mungkin melebihinya.

Ada hal-hal yang tersambung dan bertalian kuat mengikat. Hingga tak terasa, cerita biasa tadi telah memakan waktu yang cukup lama. Saya sengaja pelan nyeruput kopi Warkop supaya saya bisa berlama-lama.

Bahkan ketika saya mau mengakhiri perbincangan, saya minta nomer WA dengan harapan supaya jalinan kuat tadi tetap selalu terhubung dan bertindak lanjut.

Dari itu, saya yakin bahwa PMII adalah  frekuensi yang meninggali rumah dalam relung hati setiap kader. Pancaran sinyalnya akan selalu kuat. Saya yakin.

Dan kalau pun lagi melemah, tinggal kita menunggu pemantik yang bisa menghidupkan kembali. Dan saya juga selalu yakin akan sering ada pemantik-pemantik yang sering muncul, meskipun terkadang kita sering mengabaikan.

Kok sangat pragmatis? Tentu tak sepragmatis yang dikira. Karena kita juga hidup dalam realitas, dan ideologi akan semakin bertumbuh kembang ketika ia bisa menyapa dan mengisi ruang nyata kehidupan. Tugas kita tinggal menyambungkan.

Kira-kira, akan kurang faedahnya kalau ideologi hanya tersimpan rapi dalam hati dan pikiran. Ideologi akan menemukan bentuknya ketika ia bisa maujud dalam tindakan, dan tindakan itu nyata dan riil ketika bisa membela. Bukankan ideologi adalah keberpihakan?, dan itu juga berada di alam nyata, realitas kehidupan. Saya rasa PMII mengajari itu.

Preng…sekali lagi, bagi saya PMII adalah ideologi sekaligus rumah yang selalu tersedia, bagi setiap kader yang ingin tinggal di dalamnya dan bahkan bisa menjadi pelindung dari badai ketidakpastian kehidupan. Tentu untuk membangun sebuah legacy.

Oh iya, siapa sahabat senior yang saya maksud dalam tulisan ini? Kayaknya hanya beberapa yang tahu dan tentu yang bersangkutan ketika membaca tulisan ini.

Ulya Sunani

Menulis Untuk Senang dan Menang
Back to top button