Humaniora

Salassa’

Tak berbeda dengan kampung lain, perjalannya disertakan dengan berbagai cerita menarik, begitu pula Salassa’ sebagai kampung tua hampir seusia bumi ini. Sekarang, dengan resminya Salassa’ menjadi wilayah administratif pemerintahan desa maka di sepakati menjadi Salassae.

Dulu, Salassae disebut Salassa saja. Tambahan huruf “a” dan “e” pada kata Salassa’ merupakan penanda letak. Contohnya dalam dialog menggunakan bahasa konjo mengatakan seperti ini.., “antereki ammmantang? Iye ri Salassa’a. (Dimanaki Tinggal ? Iyye di Salassa)” kira-kira seperti itu. begitu pula dengan dialek bahasa lokal lain, Penyebutannya sangat dipengaruhi dialek bahasa lokal masyarakat setempat. sehingga penyebutan “a” dan “e” diucapkan. Tapi subtansi, Salassa’ tetap sama, yakni Istana baginya.

Gambar : Iswan Afandi

Beberapa informasi dari Masyarakat, Salassa’ merupakan Rumah Besar/Istana jika di artikan kedalam bahasa Indonesia. Sebagaimana Istana, Salassa’ telah memberikan segala kebutuhan bagi siapa saja yang sedang berada di Istana itu. Manusia, Hewan, Tumbuhan, Tanah, Batu, Air dan udara adalah ikatan sosial yang tak terputus. Karena jika terputus, akan berdampak lain, Mungkin buruk jadinya?. tak salah jika ada slogan muncul dari sahabat Hima Salassae mengatakan “Salassa’ Balla Ta (Salassa Rumah Kita)”. begitupun dengan nama-nama grup media sosial, seperti Facebook, WA, telegram dan lainnya. Judul dan tema grupnya tak jauh berbeda dengan sahabat Hima Salassae.

Di Masyarakat, cerita tentangnya masih melekat baik di ingatan mereka, Masa disaat masih ada bangunan “Baruga” layaknya Istana. Ritual, kebijakan, adab yang lahir beriringan masa itu tetap ada meski nampaknya perlahan hilang sedikit demi sedikit. Mudah-mudahan kedepan tetap lestari agar (Salassa’) tak hanya ada dalam imajinasi bagi generasi.

Kini, Saat moment musyawarah desa, ia salah satu topik diskusi yang sering diperbincangkan, keinginan untuk melestarikan hasil karya pendahulu ingin dibangun kembali. bukan hanya di musyawarah formal, tetapi di forum yang tak seformal musyawarah desa juga kadang terlintas di diskusikan. Karena masyarakat menginginkan Baruga, Adab, adat akan terus berdampingan dengan peradaban masyarakat Salassae dimasa sekarang dan nanti. Semoga !!!

Back to top button