Hiburan

Sayur Santan Daun Kelor

Jam 01.00 dini hari.

“Oke, sudah beres. Pulang yuk.”

“Siap bu!” Segera kumatikan hape, kemudian ke kasir café membayar secangkir kopi yang belum tuntas  ku minum.

Seperti malam-malam yang lalu sambil menunggu istri menyelesaikan tugasnya, saya mengisi waktu dengan internetan sambil ngopi di café yang tak jauh dari kantornya.

Beberapa malam belakangan saya rajin menemaninya begadang menyelesaikan tugas kantor. Banyak juga. Kadang dia harus lembur sampai tengah malam. Sehingga hari libur pun ia harus masuk kantor untuk menuntaskan pekerjaan itu. Bahkan setelah ada instruksi Work From Home (WFH), dia masih ke kantor.

Sebagai suami siaga. Siap antar jaga. Saya harus selalu di sampingnya. Memenuhi kebutuhannya. Sekalian belajar berkhidmat melayani orang terkasih di bulan suci.

Sampai di rumah jam 01.30.

istri langsung menyiapkan menu sahur. Padahal waktu imsak masih lama.

“Wah, kalau jam segini sahur. Bangun nanti bisa lapar.”

“Dari pada tidur, tanggung daeng. Takutnya kesiangan kalau kita tidak sahur sekarang.”

“Tapi kan sahurnya lebih utama jika diakhir waktu tokh.” Saya mencoba berdalih.

“Begini saja, kita tidur dulu. Nanti kalau bangun kan tidak usah masak lagi. Tinggal makan. Gimana?”

Dia setuju.

Walau sebelumnya dia sempat menanyakan kesanggupan saya bangun tepat waktu.

Saya maklum kalau dia ragu. Tapi saya terus yakinkan dia, kalau kami mampu.

Waktu berlalu..

“Banguun.. daeng! Banguun..sudah jam 05.00.”

Samar kulihat istriku berdiri di seberang tempat tidur dengan wajah kusut.

“Jam 05.00, iya kah?”

Kupikir dia bercanda.

Saya berusaha mati-matian untuk sadar total. Kelopak mata terasa berat terbuka. Dengan tergesa-gesa saya menuju dapur untuk sahur.

Tapi meja makan kosong. Cuma ada hape. Penanda waktunya menunjukkan jam 05.15.

“Aduh telat, tidak sahur kita. Gimana masakan semalam. Mau di apakan ikan asin dan sayur santan daun kelornya?” Tiba-tiba saya teringat makanan favorit yang kuidamkan dari semalam

Kulihat istriku bersungut.

“Di apakan? Yaa.. di buang!.”

Saya cuma melongo.

“Hadeew.. Sayur santanku.”

One Comment

  1. Kejadian yang nyaris sama pernah juga terjadi padaku. Oleh sebab itu jika sudah terbangun meskipun masih diawal waktu, saya tidak pernah menunda waktu sahur lagi mengejar afdolnya menjelang imsak, takut kesiangan ?

Back to top button