Tahun Baru: Resolusi Saja Tidak Akan Cukup Perlu Revolusi

Sebentar lagi angka 2020 akan menjadi masa lalu hanya dalam hitungan jam, menit dan detik.

Di waktu-waktu seperti ini kita pasti memiliki acara dan kegiatan untuk mengisi malam tahun baru.

Mungkin ada yang ikut dikeramaian, berbaur dengan orang banyak sebagai mana tradisi acara akhir tahun selama ini. Tak peduli ancaman Covid-19.

Ada juga yang cuma merayakannya di rumah. Menghabiskan malam tahun baru bersama keluarga. Atau dengan tetangga dan kerabat dekat.

Namun banyak pula yang tidak ikut dalam eforia menyambut Tahun Baru 2021. Merayakannya sendiri dalam keheningan sembari merenungi perjalanan kehidupannya.

Mereka mengingat kehidupan yang telah lalu sekaligus membayangkan kehidupan yang akan dijalani.

Kata teman saya, menjelang tahun baru banyak orang tiba-tiba muncul sebagai filosof. Suka merenung. Banyak menyendiri. Kalau ditanya mereka pun akan menjawab dengan filosofis,

“Saya sedang merenung untuk muhasabah diri sekalian membuat RESOLUSI.”

******

Setiap akhir tahun Resolusi adalah kata yang paling akrab ditemukan. Entah di Medsos, ngobrol santai dengan keluarga. Atau saat liburan bersama teman.

Barangkali karena seringnya ditemukan, akhirnya resolusi menjadi kata yang membosankan. Kesannya repetisi. Cuma berulang setiap tahun.

“ingin ini, ingin itu di tahun depan” tanpa betul-betul merealisasikannya.

Hari ini makna resolusi tereduksi menjadi sebatas kata: “Rencana, keinginan dan harapan.”dari kaum idealis yang menuliskan curhat-nya di Medsos.

Padahal makna sesungguh dari resolusi adalah keputusan bulat untuk sebuah harapan. Sesuatu yang berasal dari dalam diri seseorang. Sesuatu yang harus muncul dari pribadinya sebagai manusia.

Sebuah resolusi harus sungguh-sungguh muncul dan mulai dari dalam diri. Ada niat untuk mengadakan perubahan. Perubahan yang tidak main-main. Perubahan yang sifatnya ekstrim.

Kita menyebutnya Revolusi. Revolusi dalam hidup kita.

Banyak yang sering salah kaprah menganggap istilah revolusi cuma sekedar bicara sejarah atau hal-hal yang berbau politik. Padahal manusia juga butuh me-revolusi dirinya.

Revolusi adalah awal dari perubahan yang radikal dalam banyak aspek kehidupan kita.

Banyak orang pasti ingin berubah menjadi pribadi yang lebih beruntung tapi tidak semua mau mengakui bahwa:

“Perubahan dan berubah itu tidak instant.”

Butuh usaha, kerja dan tindakan. Tanpa itu semua resolusi akan menjadi omong kosong.

Dan revolusi adalah pemantiknya.