Humaniora

Tamu Ina Randu

Surya berlahan-lahan meninggalkan tahtanya dan bersiap memasuki peraduan. Semburat cahayanya mulai meredup. Gelap pun merambat, melingkupi Kota Palu.

Tiba-tiba jalanan bermandikan cahaya karena sinar lampu Mercury.

Di salah satu sudut jalan tidak jauh dari sebuah papan reklame berukuran raksasa bertuliskan “Pasigala Kuat Pasigala Bangkit”, terlihat sebuah pemandangan berbeda.

Sebuah warung sederhana. Warung itu hanya menyalakan lampu strongking sebagai penerangnya.

Warung itu milik Ina Randu, seorang wanita paruh baya berumur lima puluhan.

Menu yang di siapkan di warungnya juga sederhana.

Lauknya ikan asin, tahu, tempe atau yang sejenisnya. Nasinya kehitam-hitaman pertanda beras dari kualitas rendah.

Warung Ina Randu seakan ingin menunjukkan betapa terbatasnya apa-apa di Kota Palu paska gempa.

Lebih menyedihkan lagi di sekeliling warungnya tergelatakan puluhan lelaki yang berbaring di udara terbuka.

Mereka adalah pekerja lepas, yang sepanjang hari capek memeras keringat bekerja mempecepat proses recovery Kota Palu.

Mereka tidak memiliki tempat tinggal.

Setiap pagi mereka menunggu kendaraan jemputan yang akan mengantar mereka ke tempat kerja. Namun tak selamanya kendaraan jemputan itu datang.

Bila itu terjadi tandanya mereka harus “nganggur” lagi. Bersabar menunggu panggilan pemborong yang akan menggunakan jasa mereka.

Tak jarang pekerjaan menunggu menimbulkan rasa bosan. Mereka hanya menghabiskan waktu dengan rebahan menunggu rasa kantuk datang.

Atau merokok sambil bergosip dengan sesama teman. Sesekali terdengar lelucon kecil yang menimbulkan kelucuan. Tidak lama berselang terdengar ada yang tertawa.

Beragam upaya dilakukan sebagai penghibur suasana agar tidak mengantuk. Atau penghilang rasa jenuh menunggu.

Di sebelah mereka terlihat gergaji, palu, cangkul, linggis dan sekop.

Alat-alat ini adalah senjata utama mereka bekerja sebagai tukang bangunan hunian sementara (huntara).

Sementara tas-tas mereka yang berisi pakaian seadanya disimpan di warung Ina Randu.

“Palu ini Kota ekstrim. Mataharinya saja ada tujuh. Siang panasnya luar biasa. Malam dinginnya minta ampun. Dan nyamuknya itu lo ganas-ganas. Malam seperti neraka bagi kami.” Kata Ardi seorang pekerja lepas.

Derita para pekerja lepas itu bisa dimaklumi.

Tidur di udara terbuka sungguh sangat menyiksa. Apalagi bila hujan turun mereka harus mencari tempat berteduh agar tidak basah kehujanan.

Bagi mereka malam juga sering menimbulkan keharuan. Keharuan berupa rasa rindu pada hangatnya keluarga dan kampung halaman.

Para pekerja lepas ini umumnya berasal dari luar Kota Palu. Kemiskinan membuat mereka di depak keluar dari daerah asalnya.

Alhasil berangkatlah mereka mengadu untung di Kota Palu. Kota yang baru saja di hajar gempa beberapa waktu yang lalu.

Walaupun tenaga mereka sangat dibutuhkan namun tak ada jaminan mereka mendapatkan penghasilan yang memuaskan.

Jika menengok kehidupan mereka hampir pasti berasal dari golongan tak berpunya.

Di daerah asalnya kebanyakan mereka adalah buruh tani. Mereka datang ke Palu tanpa keterampilan yang memadai selain mengandalkan otot saja.

Tapi mereka punya perhitungan. Walau didasari perhitungan itu amat sederhana.

Palu lebih membutuhkan pisik mereka.

Palu lebih menyiapkan banyak kesempatan kerja dari pada di kampung yang jelas-jelas tak bisa mengangkat status mereka menjadi lebih baik.

Sayangnya, harapan yang mereka bangun sering tak sesuai dengan kenyataan.

Kecilnya gaji yang di dapat dan mahalnya harga barang-barang di kota membuat hidup mereka kian tersudut.

Tak berdaya.