Humaniora

Untuk Anak Perempuan Keduaku

Tulisan kali ini saya ambil dari surat cinta seorang ibu kepada putrinya yang sedang berulang tahun ke-8. Saya beruntung mendapatkan tulisan ini setelah sekian lama membujuknya agar bisa berbagi pada pembaca pulipuli.id. Selamat membaca.

   **

Dear anakku..

Hari ini tanggal 20 Mei 2020, umurmu genap 8 tahun. Tidak ada perayaan, tidak ada tiup lilin ataupun kue tar. Sepertinya kamu tidak menyadarinya, bahwa kau ulang tahun hari ini. Saya dan ayahmu belum mengucapkan selamat ulang tahun.

Untungnya kamu belum tau buka Facebook, jadi kamu tidak tau bahwa hari ini adalah ulang tahunmu. Padahal Tantemu Fika Naya Nayla sudah mengucapkan selamat. Begitupun Tantemu di Wonomulyo InnAbe, Tante Janna dan Tante Qalby tak ketinggalan nenek muda di Kalimantan telah mengirimkan doa.

Rencananya, mungkin habis berbuka baru saya ucapkan selamat. Pasti ayahmu juga akan melakukannya. Tapi saya berharap kamu tidak kecewa karena tak ada kue tar, seperti yang sering kau tonton di tv. Berharap jika aku mengucapkan selamat ulang tahun, kau tidak merengek memaksa beli kue, atau merengek untuk diadakan pesta.

Anakku, bukannya aku tidak mau merayakan hari ulang tahunmu dengan sedikit kue tar ataupun tiup lilin. Itu karena tidak ada yang jual kue tar, dua tempat yang ditunjukkan oleh temanku, ternyata tidak memiliki stok. “Kurang laku. Maklum, mungkin gara- gara Corona. Bu.’ Katanya.

Toko lain? Ah., sungguh Bunda tak punya referensi lain. Maklumlah nak, Bunda sangat jarang komsumsi kue seperti itu. Seingat saya, saat ulang tahun tidak pernah dirayakan. Ketika sudah menikah pun, Ayahmu tak pernah memberikan kejutan dengan kue tar.  Tak sekalipun hari ulang tahun Bunda dirayakan.

Eh. kok kayaknya bunda curhat nih. Sesungguhnya, Bunda ingin sampaikan bahwa Bunda sebagai perempuan, khawatir kepadamu seperti rasa khawatir saya kepada kakak perempuanmu yang melihatnya beranjak remaja. Ya..khawatir kepada kalian karena Kau dan Kakakmu, perempuan.

Anakku Pandara Atitta, maafkan Bunda mengkhawatikanmu secara berlebihan, Karena engkau perempuan. Sungguh Karena aku Perempuan, jadi bisa tahu tantangan berat yang menantimu dikemudian hari. Saya tidak tau apakah Ayahmu juga sekhawatir seperti aku. laki-laki mungkin  saja tak seperti perempuan. Entahlah. Mungkin jika saya ingat, akan menanyakan tentang masalah ini kepada ayahmu nanti.

Dulu waktu aku seumuran kamu, sepertinya nenekmu tak sekhawatir saya. Ada yang bilang diera Bunda itu, sekitar era 80-an. Katanya kami ini adalah generasi emas di Indonesia. Generasi yang paling sehat. Karena kami sering main di luar rumah. mandi-mandi di sungai, main petak umpet, main lumpur  di sawah. Tertawa sepusnya Tampa harus khawatir sedikit pun. Hanya sesekali di marahi nenekmu karena main di sungai, padahal waktu itu Hujan lebat atau karena banyak main hingga lupa pergi mengaji.

Hmm..berbeda dengan masamu, nak. Kamu lebih sering tinggal di rumah. Waktu bermain dengan anak tetangga terhitung tidak pernah, ya.. karena tetangga kita anaknya udah pada remaja . Andaikan kamu tak punya kakak perempuan yang sering kau recoki, mungkin kau sangat kesepian. Baru bisa bergaul dengan teman sebayamu, jika pergi sekolah.

Kasian kamu nak..

Tau tidak Nak. Sejak engkau masuk bangku sekolah aku dan ayahmu sepakat, agar setiap malam menjelang kau tidur, akan ditemani ayahmu. Dibacakan dongeng, atau sekedar menemanimu, membelaimu hingga terlelap. Aku juga sering sarankan ke Ayahmu, agar setiap hari memelukmu dan kakak perempuanmu sesering mungkin.

kenapa?

Karena aku ingin engkau merasakan cinta pertama seorang laki-laki yaitu cinta dari ayahmu. Cinta yang tulus, murni bak embun pagi. Dengan begitu, dimasa yang akan datang, saat mungkin engkau telah dewasa, Tak mudah terperdaya oleh cinta laki-laki mata keranjang di luaran sana. Karena jenis laki-laki seperti ini, banyak dan selalu mencari mangsa. Aku berharap kau tidak akan berjumpa dengan laki laki seperti itu.

Oh iya bunda hampir lupa kalo engkau akan menghadapi zaman, dimana sebagian kaum perempuan yang rela di jadikan istri kedua, ketiga dan keempat. katanya mereka ikut Sunnah Rasul, dan Allah menjanjikan surga. Nak…Pesan saya, jangan ikuti sekte ini, sungguh bundamu ini tak rela jadi carilah laki-laki yang setia seperti ayahmu. Dan tak beraliran istri banyak. Kata mereka ini adalah jalan ke surga. sungguh Bundamu ini, kurang sepakat. Menuju Roma saja, banyak jalan. Apalagi mau ke surga, Jalannya pasti banyak.

Anakku, sesama perempuan aku akan berbagi cerita. Hidup sebagai  perempuan itu sangat sulit. Harus pintar membawa diri, menjaga kehormatan, menjaga kehormatan Ayah Bundamu. Jadi berhati hatilah dalam bergaul, tak semua temanmu itu tulus. Ada yang diam-diam membencimu tapi bukan berarti kau harus menjauhinya, tetaplah menjadi temannya tetapi tetap hati-hati. Ada teman yang benar-benar tulus, biasanya disebut sahabat, selalu bersama baik duka maupun suka maka jagalah dia.

Anak perempuanku , Zaman yang akan kau jalani adalah zaman yang tak lagi mengenal ruang dan waktu. FB, Watshap, Instagram, YouTube, Tik Tok akan memberimu informasi informasi yang aneh-aneh. Mulai dari si anu joget joget gak karuan tapi followernya banyak, si suami membakar istrinya karena cemburu online, si anak SD yang gantung diri karena cintanya yang ditolak, serem kan? Cukuplah iklan iklan di TV yang saat ini telah mendoktrinmu agar jadi perempuan cantik bak artis Korea, putih mulus dan glowing. membunuh kepercayaan dirimu karena kau memiliki kulit exotik seperti Bundamu ini. hmm berat ya Nak?, Itu hanya iklan nak, Biar jualannya laku. Tetaplah seperti Bundamu ini, tetap bangga memiliki kulit gelap tapi tetap manis, hehe.

Menurut Antony Giddens dalam teori strukturasinya bahwa sebagai agen sosial, kamu harus pintar pintar melihat peluang dari setiap norma yang ada, jika tidak engkau akan diblunder oleh modernitas. Ah apa sih…sampai bahas Giddens segala, mana kamu paham tentang teori ini, Bunda sendiri tak paham kok. Anakku cukup dulu surat wasiat Bunda hari ini, jika tiba saatnya engkau dewasa dan sempat menemukan jejak digital Bundamu. Aku berharap engkau telah hidup sebagai Perempuan yang bermartabat, berakhlak mulia dan dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangimu. Dan saat itu Bunda masih disisimu, menikmati senyummu dan menyaksikan engkau hidup dengan bahagia. Semoga.

Selamat Ulang tahun anakku, Sehat selalu dan jadilah perempuan yang berakhlak mulia dan menjadi inspirasi bagi sesamamu perempuan.

Dari yang selalu mencintaimu..

Bunda

Back to top button