Melawan Lewat Media Sosial

Sumber Gambar : blog.dnetprovider.id

Mahasiswa menentang kebijakan pemerintah sudah bukan hal baru. Sejak dulu mahasiswa selalu berada di garda paling depan dalam memperjuangkan nasib rakyat.

Dalam setiap pergerakannya mahasiswa memiliki warna dan isu masing-masing. Tapi inti perjuangannya tetap sama, “melawan ketidakadilan”.

Perlawanan mahasiswa memang radikal. Saat pemerintah membuat kebijakan yang tidak pro rakyat maka bersiaplah untuk melawan tekanan mereka.

Ada yang mengatakan semangat perlawanan itu berasal dari warisan perlawanan seniornya yang terus memompa mereka lewat pengkaderan hingga membentuk karakter juniornya menjadi militan. Sayangnya militansi itu merosot belakangan ini.

Besar dugaan hal itu terjadi karena dua hal. Yang pertama militansi itu diberangus melalui kebijakan birokrasi kampus pada saat orde baru berkuasa. Misalnya kebijakan kuliah lima tahun yang cuma menghasilkan alumni bermental pekerja bukan pemimpin.

Pada diri mahasiswa ditanamkan sikap apatis pada organisasi dan fokus ke bangku kuliah. Sehingga mahasiswa lebih condong belajar saja dan mengabaikan peran lainnya yakni, “agent of social control”.

Yang kedua media. Media juga berperan mematikan perjuangan mahasiswa. Berita anarkhisme ketika berunjuk rasa dibungkus bahasa berlebihan yang negatif menimbulkan sikap antipati masyarakat.

Sementara mahasiswa yang malas berorganisasi acuh tak acuh. Bahkan tak jarang ada diantara mereka ikut membully di media sosial bersama warga yang merasa dirugikan saat terjadi demonstrasi.

Memang dalam beberapa kesempatan ketika membaca status di FB tentang aksi yang menimbulkan kemacetan, sering muncul umpatan. Misalnya dalam aksi penolakan kenaikan harga BBM.

“Saya juga tidak setuju dengan naiknya harga BBM, tapi jangan bikin macet dong, bikin susah aja.” Atau “Gara-gara demo jalanan macet Penghasilan masyarakat kecil jadi berkurang. Sebenarnya siapa sih yang mereka bela” Dan beragam lagi komentar bernada kesal dengan aksi mahasiswa.

Begitulah romantika aksi padahal dalam melakukan demonstrasi tak selamanya berakhir “happy ending”. Yang sering malah sebaliknya. Gatot alias gagal total.

Disinilah perlunya evaluasi paska aksi agar gerakan tidak langsung berhenti dan menjadikan isu gerakan sebagai wacana semata.

Padahal dalam konsep aksi yang saya pahami bila ingin tuntutan kita di terima. Maka yang perlu dilakukan adalah lakukan aksimu terus menerus dan lakukan dengan massa besar.

Sementara kini, demonstrasi mentok di isu-isu musiman dan aksinya tidak lagi terus menerus. Sedihnya, mahasiswa gagal mengumpulkan massa besar.

Jadi gimana caranya?

Bila berhadapan dengan kasus begini mahasiswa harusnya mengubah strategi gerakan misalnya mendorong pemerintah mengadakan debat ilmiah. Jadi ada wadah sehingga perjuangan bisa mendapat simpati dan tidak merugikan banyak pihak.

Perjuangan mahasiswa yang melakukan aksi turun ke jalan harus diapresiasi. Tapi yang harus dipertimbangkan oleh teman-teman mahasiswa adalah kerugian yang diakibatkan aksi itu.

Pengalaman selama ini kebanyakan aksi ditunggangi oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan sepihak atau mengacaukan jalannya aksi.

Kalau mau jujur saya ingin katakan aksi yang digunakan teman-teman adalah metode lama, padahal jaman telah berubah. Harusnya ada upaya untuk memikirkan metode baru yang mampu menarik banyak elemen untuk bergabung sekaligus mampu menggalang massa besar.

Saya pikir yang perlu dilakukan adalah diskusi intens antar elemen gerakan baik di internal maupun eksternal kampus dan bentuklah aliansi.

Namun aliansi saja tidak cukup. Cara mengemukakan penolakan juga harus diubah. Tutup jalan, sandera mobil, bikin macet sehingga menimbulkan chaos dengan aparat bahkan dengan masyarakat sekitar harus ditinggalkan.

Turun ke jalan tidak salah. Tapi jangan bikin macet panjang. Bahasa apologi, “macet sehari tak masalah daripada menderita seumur hidup” hanya berlaku bila aksi itu berhasil kalau tidak, bisa runyam. Masyarakat yang seharusnya simpati akan balik marah dan benci.

Menulis di Koran, diskusi publik, hearing di DPR atau mengajukan gugatan hukum bisa menjadi salah satu cara.

Gerakan media sosial juga bagus. Buat tulisan menarik di blog atau bikin video kreatif menghibur lewat vlog, bila perlu manfaatkan semua kekuatan medsos untuk menyampaikan alasan mengapa mahasiswa demonstrasi.

Di era kekinian apalagi di masa pandemic, gerakan medsos tak bisa diremehkan. Para influencer dan buzzer mempengaruhi opini publik dan kebijakan pemerintah karena memaksimal kekuatan medsos.

Daripada harus chaos atau memacetkan jalan saat aksi kenapa tak memanfaatkan saja kekuatan medsos. Tapi kalau tak ada lagi jalan lain dan memang harus seperti itu yaa silahkan.

Ini pendapat pribadi sekedar sharing saya bagi teman-teman mahasiswa. Selamat berjuang.

Hidup Mahasiswa..!!

Hidup Rakyat..!!

Panjang umur perlawanan..!!