HumanioraPendidikan

Ketika Bodoh Lenyap dari Kamus Pak Guru

Setiap anak dilahirkan dengan membawa serta potensinya. Potensi adalah kemampuan dan kekuatan dalam diri anak yang dapat dikembangkan.

Potensi bukan sekedar bakat, atau keterampilan tertentu. Bakat dan keterampilan hanyalah sebagian kecil yang nampak dari potensi.

Potensi bersifat tak terbatas. Ia dapat dikembangkan hingga tak berbatas pula. Ada yang menyebut setiap anak itu unik, spesial dan tidak sama satu dengan yang lain. Hal itu benar sebab setiap anak di karunia tuhan dengan potensi yang berbeda.

Potensi-potensi tertentu bisa menonjol, sedang yang lain tidak. Potensi yang muncul dan menonjol pada seorang anak, itulah yang dikenal sebagai bakat.

“Pada saat anak lahir, setiap anak memiliki potensi kecerdasan yang lebih besar daripada yang pernah digunakan Leonardo da vinci.” Kata Glenn Doman dalam bukunya Teach Your Baby to Read.

Buckminster Fuller juga mengatakan, “Setiap anak dilahirkan jenius, tetapi kita (orang dewasa) yang memupuskan kejeniusan mereka dalam enam bulan pertama.”

Sementara Howard Gartner melangkah lebih jauh, sang penemu teori kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligences itu menyebutkan ada sembilan jenis kecerdasan yang dimiliki manusia. Kecerdasan bahasa, matematis logis, ruang, kinestetik, musikal, interpersonal, interpersonal, natural dan kecerdasan eksistensial. Kecerdasan-Kecerdasan ini muncul sangat dominan pada diri anak-anak tertentu, sedang kecerdasan lainnya tidak.

Jadi setiap anak terlahir dengan potensinya sendiri-sendiri tidak sama satu dengan yang lain. Begitu kesimpulan Doman, Fuller dan Gardner.

Manusia adalah spesies ciptaan tuhan yang paling sempurna. Demikian juga anak. Para guru, baik dia orangtua yang mengajar di rumah atau gurunya di sekolah hendaknya berani memberi kepercayaan besar terhadap potensi dalam diri setiap anak atau muridnya. Dengan kepercayaan itu maka persepsi guru dan orangtua terhadap anak akan berubah.

Carl Rogers mengungkapkan, “Ketika saya mulai mempercayai anak, saya berubah dari seorang guru dan evaluator menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran.” Pada saat itu tak ada lagi anak yang bodoh, anak yang tidak dapat belajar dan anak ranking rendah. Membanding-bandingkan seorang anak dengan anak lainnya cuma akan mengkerdilkan potensi anak.

Mendidik bukan memaksakan kehendak. Bukan juga pekerjaan memindahkan sebanyak-banyaknya bahan ajar ke kepala anak menurut ukuran gurunya.

Seperti apapun kondisi anak, tidak ada alasan bagi guru untuk membeda-bedakan anak yang satu dengan yang lain.

Tak ada lagi label-label anak bodoh, idiot, bebal, bego atau yang sejenisnya. Pelabelan seperti itu cuma akan menghambat munculnya potensi anak.

Jika guru di sekolah dapat mempercayai adanya potensi dalam diri setiap muridnya, maka proses pembelajaran menjadi manusiawi. Dan sekolah akan menjadi tempat untuk membangun perjumpaan antarpribadi yang saling menyenangkan. Bukan kompetisi yang menyesatkan.

Guru yang berhasil adalah guru yang mempercayai setiap muridnya memiliki potensi. Dia mampu menstimulusi potensi itu lahir melalui interaksi pembimbingan dan pendampingan dalam proses pembelajaran yang dilakukannya.

Socrates menganalogikan peran guru mirip bidan. Dia membantu seorang ibu yang hendak melahirkan dengan menggiring keluar sang bayi. Bukan dengan memaksanya, tapi memfasilitasi, mengarahkan, memberi aba-aba serta melakuan hal-hal yang dianggap perlu.

Dia juga membimbing si ibu agar mengatur nafasnya, kapan harus mengejan dan sebagainya agar persalinan berjalan normal. Dalam persalinan normal tidak ada pemaksaan. Si ibu dan bayinya sama. Sama-sama proaktif.

Berbeda dengan bayi yang lahir lewat operasi cesar alias dipaksa. Bayi dipaksa keluar melalui lubang belahan pisau di perut ibunya. Ini tidak alami. Si bayi tak diberi kesempatan menggunakan kemampuan alamiahnya untuk keluar dari rahim ibunya.

Jangan anggap remeh si bayi. Walaupun nampak kecil dan lemah, ia memiliki potensi. Sekecil apapun potensi itu, tetap harus dihargai.

Begitu pun anak-anak di sekolah, agar potensinya keluar dengan cara dan kemampuannya sendiri, maka orang dewasa (guru atau orangtua) perlu membuang keinginannya untuk menjadikan anak-anaknya seperti apa yang mereka inginkan.

Anak-anak di sekolah bukan milik kita. Mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka memiliki jalannya sendiri untuk menjadi dirinya sendiri. Paulo Freire menegaskan bahwa setiap anak adalah pencipta dari sejarahnya sendiri.

Back to top button