Humaniora

Sama Warung Makan Kok Takut

Sebenarnya saya tak ingin membahas tema ini lagi. Awal Ramadhan kemarin Kang Ulya Sunani sudah membahasnya dengan menarik disini. Namun tetap saja ada godaan di karenakan hal-hal tertentu. Dan saya tetap harus mengutarakannya.

Begini, tahukah anda tentang surat edaran yang dikeluarkan oleh Pemkot Serang tentang pelarangan membuka warung makan di siang hari dengan alasan untuk menghargai umat Islam yang menjalankan ibadah puasa?

Tidak tahu?

Atau begini, saya ubah pertanyaannya.

Pernahkah anda menjumpai umat Islam dalam bulan Ramadhan yang sedang menjalankan ibadah puasa, berkata bahwa warung makan harus tutup untuk menghormati orang yang berpuasa. Pernah?

Kalau yang ini saya yakin satu atau dua kali anda pernah menjumpai orang semacam itu.

Lantas, apakah anda setuju dengan pendapatnya?

Jika anda setuju, apa alasannya?

Apakah karena di Indonesia, muslim adalah mayoritas sehingga harus mendapatkan keistimewaan? Termasuk ‘penghormatan’ saat bulan Ramadhan? Bentuk penghormatan seperti warung makan harus ditutup dan dilarang berjualan di siang hari?

Ataukah misalnya karena keberadaan warung makan itu berpeluang akan mengusik kekhusyukan anda beribadah, dan lebih jauh lagi membatalkan puasa anda jika tetap harus buka pada siang hari?

Yang mana alasan anda? Silahkan dijawab di kolom komentar.

Tapi sebelum anda menjawabnya, ijinkan saya untuk mengutarakan pendapat saya sedikit saja.

Begini, islam bukan agama paksaan. Artinya, seseorang yang memeluk agama Islam ‘seharusnya’ adalah karena kesadaran bukan paksaan. Karena sudah seperti itu, lantas apakah pantas bahwa seorang pemeluk Agama Islam memaksa orang lain yang tidak seiman dengannya larut dalam ritme dan irama peribadahannya?

Tidak wajar bukan jika ada seorang pemeluk Agama Islam yang memaksa orang lain berada dalam satu frekuensi atau satu jalur peribadahannya?

Sementara perkara keyakinan atas islam, Rasulullah Muhammad SAW tak pernah memaksakannya. Beliau tidak pernah memaksa paman terkasihnya Abi Thalib untuk bersyahadat dan memeluk Agama Islam.

Anda yang senang memaksa warung tutup pada bulan Ramadhan, atau setidaknya sejalan dengan pemikiran itu, apakah tidak malu kepada Rasulullah yang demikian lembutnya?

Lebih spesifik lagi kita bicarakan tema Ramadhan dan ibadah puasa, apa sih inti dari ibadah ini?

Apakah Menahan lapar dan haus, menahan hawa nafsu, berharap pahala dan ingin masuk surga? Atau takut masuk neraka?

Atau apa?

Jika merujuk pada ayat yang mendasari perintah ibadah puasa, bahwa diperintahkan kepada orang-orang beriman untuk berpuasa semata-mata karena Allah, maka jelas sebenarnya inti berpuasa yakni berharap ridha, kasih sayang dan perhatian sekaligus penghormatan dari Allah.

Jadi..

Tak cukupkah Allah sebagai satu-satunya zat yang menaruh hormat?

Apakah masih perlu penghormatan dari warung-warung makan dan juga orang lain?

Saya sendiri selalu merasa geli jika mendengar ada yang berpendapat, bahwa seharusnya orang yang berpuasa itu dihormati. Caranya dengan tidak boleh makan di depannya, atau menutup warung makan pada siang hari.

Saya bilang begitu karena punya alasan, bahwa tak sepatutnya orang berpuasa pada bulan Ramadhan itu menuntut untuk dihormati.

Pertama, bulan Ramadhan itu datang cuma sekali dalam setahun. Satu bulan saja, dalam keseluruhan dua belas bulan. Berarti tak bersifat kontinyu, bisa dibilang bersifat sela saja. Beda dengan warung makan yang sudah buka selama sebelas bulan berturut-turut. Lantas dari segi etika, apakah pantas menuntut untuk tutup terhadap sesuatu yang bersifat rutin?

Kedua, puasa itu ibadah yang bersifat rahasia. Tak ada yang tahu seseorang berpuasa atau tidak, selain dirinya sendiri dan Tuhan. Dalam keadaan begitu, mestinya tak ada masalah jika ada orang yang tak berpuasa, makan dan minum di depannya. Apa pengaruh makanan dan minuman di depan orang yang berpuasa?

Ketiga, orang berpuasa itu berniat semata karena Allah. Titik. Dengan kondisi seperti itu, pantaskah orang yang berpuasa merasa terganggu dengan bukanya warung makan pada siang hari. Apa lantas ia ingin minum begitu melihat orang lain minum? Apakah lantas ingin makan karena melihat orang lain makan? Kalau seperti itu lantas dimana dimana letak niatnya? Dimana letak janji puasanya yang bersifat personal untuk Allah semata?

Orang Islam seringkali merendahkan martabat dan harga dirinya sendiri dengan perilaku-perilaku yang tidak islami. Dengan contoh kasus bulan Ramadhan dan ibadah puasa, sering dengan tindakan absurd untuk minta di hormati.

Jadi jelas sudah bahwa jika berpuasa dengan niat semata karena Allah, ia akan mendapat penghormatan tertinggi dari Allah, kok masih mengharap penghormatan dari sesama manusia?

Masa sih dalam kaitannya dengan salah satu aspek ibadah saja, ia harus maksa?

Lucu, kan?

Kaidah saling menghormati dalam pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan adalah dengan tidak saling memaksa.

Orang yang tidak berpuasa, atau sedang tidak berpuasa, tidak sepatutnya memaksa mereka yang sedang berpuasa untuk membatalkan puasanya.

Demikian juga dengan orang yang berpuasa, tidak sepatutnya memaksa mereka yang sedang tidak berpuasa, untuk tidak terlihat makan dan minum di siang hari.

Masa sudah berniat puasa dengan mengharap ridha Allah bisa tergoda dengan makanan dan minuman. Padahal salah satu syarat berpuasa itu cukup umur, sudah baligh. Kalau sudah baligh, berarti sudah kategori dewasa dong.

Orang dewasa macam apa yang mudah tergoda dan kemudian melenceng niatnya?

Itu orang dewasa atau anak-anak?

Check Also
Close
Back to top button