Humaniora

Malala: Sosok yang ditakuti Taliban (1)

Hari itu tanggal 9 Oktober 2012.

Lembah Swat Pakistan Utara.. sepi.

Sebuah Bis melaju pelan mengangkut tiga orang gadis belia sahabat karib: Kainat Riaz, Shazia Ramzan dan Malala Yousafzai. Ketiganya baru pulang dari sekolah.

Tak seperti biasa hari itu jalanan sunyi. Padahal biasanya selalu ramai setiap hari. Karena daerah itu kawasan pejalan kaki.

Meski ada rasa penasaran namun ketiga penumpang bus tak peduli. Keasyikan ngobrol terutama soal ujian yang barusan dikerjakan membuat mereka lalai. Mereka tak pernah menyangka marabahaya tengah mengintai.

Bis tetap melaju hingga di sebuah kelokan bis berhenti sebuah mobil di tengah jalan melintang menghalangi perjalanan.

Tiba-tiba seorang bertopeng memegang senjata keluar dari mobil, meloncat keatas bis dan berteriak, “Yang mana Malala?”

Belum sempat menjawab senjata sudah menyalak. Tiga tembakan memberondong kearah Malala, remaja 14 tahun itu tersungkur bersimbah darah.

Satu peluru mengenai kepala sebelah kiri, satu menyerempet leher, yang satunya lagi meleset. Untung, Malala selamat. Namun kondisinya kritis.

Malala kemudian dilarikan ke rumah sakit tentara di Peshawar peluru yang bersarang di kepalanya harus segera dikeluarkan. Juga mengangkat sebagian batoknya untuk mengobati otak yang bengkak.

Supaya mendapat penangan lebih serius dari Peshawar dia dirujuk ke Rawalpindi. Masih di Pakistan. Tapi kondisinya tetap kritis. Hidup Malala diujung tanduk.

Banyak negara menawarkan diri bersedia merawat dan menyelamatkan nyawa remaja itu. Namun Inggris lebih gesit. Negara itu duluan turun tangan memberi pertolongan.

Bersama orang tuanya, Malala kemudian diterbangkan ke Birmingham dan dimasukkan ke rumah sakit Queen Elizabeth. Disana dia menjalani pengobatan sekaligus operasi otak, tulang tengkorak, indera pendengaran dan masalah di saraf wajah.

Sontak peristiwa yang terjadi pada diri malala mengundang perhatian dunia. Hampir Seluruh mata tertuju padanya. Tak terkecuali para pesohor. Angelina jolie, Madonna hingga Obama dan Sekjen PBB Bang Ki-Moon mendoakan kesembuhannya.

Di tengah banjir dukungan dan doa, tim dokter di Rumah Sakit Queen Elizabeth juga berjibaku bagi kesembuhan Malala.

Usaha pertama yang dilakukan adalah mencarikan cara agar malala segera sadar. Semenjak peristiwa penembakan, Malala menderita koma. Dia baru membuka matanya tanggal 17 Oktober 2012. Artinya dia tak sadarkan diri selama 8 hari. Masa kritis pun terlewati.

Selanjutnya usaha diteruskan dengan operasi tulang tengkorat dan syaraf di wajahnya.

Meski belum sembuh total, kondisi Malala kian hari kian membaik. Dia sudah bisa bercakap dengan perawat dan keluarganya. Beberapa bulan kemudian dia keluar dari rumah sakit dan mulai beraktivitas.

Dalam sebuah kesempatan dia mengatakan..

“Saya tidak kapok walaupun nyawa saya sebagai taruhannya. Saya akan terus berjuang untuk mengangkat harkat perempuan dan anak perempuan agar setara. Bebas dari diskriminasi dan kekerasan.”

Semua bersyukur atas kesembuhan Malala. Semua senang.

Cuma satu yang tidak senang: Taliban.

Taliban-lah pelaku penembakan. Mereka mengaku bertanggung jawab atas penyerangan itu.
(Bersambung)

One Comment