MENGEMBALIKAN MANUSIA KE KEMANUASIAANYA

Gambar : rumahfilsafat.com

Yang dipahami tentunya secara

salah olah banyak orang sebagai modernisasi, ternyata terus membawa manusia kepada kehidupan yang semakin primitif.

Manusia modern cenderung mendewakan akal pikirannya dan mengabaikan kalbunya. Keunggulan manusia dinilai dari seberapa tinggi IQ (intelligence quotien)-nya dengan mengesampingkan EQ (emotional quotien).- nya.

Akal pikiran yang mendapatkan perhatian berlebih dan tidak seimbang dengan perhatian kalbu, telah terbukti membawa malapetaka atau paling sedikit tidak membawa kepada kebahagiaan hidup yang hakiki.

Namun manusia seolah-olah menutup mata terhadap kenyataan ini. Perhatian yang tidak seimbang ini masih terus ngotot dipertahankan.

Pendidikan terus ditujukan untuk mencerdaskan otak saja, tanpa memperhatikan hati. Sistem pendidikan hanya ‘mengajar dan tidak mendidik. Hasilnya adalah banyaknya orang yang pintar namun tak terdidik. Pandai tetapi tidak berakhlak. Dan dari sinilah kerusakan bermula.

Pendidikan agama hanya disikapi sebagai ‘ilmu’ dan organisasi, bukan sebagai amal dan tuntunan hidup. Hafal nama-nama dan sifat-sifat Tuhan saja sudah dianggap makrifat. Hafal ayat-ayat dan hadis-hadis saja sudah dianggap ulama, fuqahaa.

Nabi Muhammad SAW-pemimpin dan pembawa agama Allah untuk manusia akhir zaman-diutus justru untuk menyempurakan akhlak. “Bu’itstu liutammima makaarimal akhlaaq!”

Manusia yang berakhlak membangun, bukan manusia yang berakhlak merusak. (Kerusakan yang dibuat oleh orang yang pandai dan tidak berakhlak telah terbukti jauh lebih besar).

Manusia yang berakhlak suka damai, sedangkan yang tidak berakhlak suka berkelahi. Manusia yang berakhlak menghidupkan, sementara yang tidak berakhlak membunuh. Di sini nyatalah perbedaan antara manusia beragama dan yang tidak.

Akhlak kita sudah dirusak oleh zaman, oleh rezim-rezim yang pernah menguasai kita, dan oleh kita sendiri. Satu dan lain hal karena kita mengabaikan tuntunan pemimpin dan panutan agung kita Nabi Muhammad SAW alias kita telah mengabaikan ajaran sejati agama kíta.

Kita lemah, maka kita kalah. Sedangkan Nabí sebagai panutan agung kita menghendaki kita kuat “Al-mu’minul qawiyah khairun wa ahabbu ilallahi minal mu’minidh- dha’ief!”

Kita harus mulai berani melawan kecenderungan apa saja-zaman, rezim, nafsu, setan-yang akan menyeret kita ke alam primitif kembali, bahkan ke taraf binatang.

Dan caranya kita harus segera kembali kepada-Nya kembali ke ajaran Allah. Kembali menjadi manusia yang utuh, yang berjiwa dan berjasad, berhati, dan berakal, memperhatikan keselamatan duniawi dan terutama ukhrawi.

Kita harus segera menyeimbangkan pengajaran akal pikiran dengan pendidikan kalbu. Terutama bagi keselamatannya di dunia dan akhirat.

Wallahu Wliyyut taufieq wal hidayat.

***

Oleh : KH.A. Mustofa Bisri (Ulama dan Budayawan)

Sumber : Koridor. Kompas 2010.