Humaniora

Mencoba Tidak Heran pada Orang Puasa yang Minta Dihargai

Puasa selalu melahirkan manusia yang peduli. Peduli tidak hanya pada diri yang lapar dahaga, tapi pada nasib ummat yang sedang menjalankan ibadah puasa. Saking pedulinya biasa mereka sangat khawatir kalau-kalau ibadah suci Ramadhan ini tidak dihargai.

Bentuk peduli pada diri saat berpuasa dimulai dengan membuat daftar makanan dan minuman berdasarkan referensi kesehatan dan keagamaan : enak, bergizi dan yang dianjurkan dalam agama. Menu sahur dipersiapkan sedemikian rupa untuk mengantisipasi ketiadaan asupan pada siang harinya. Menu berbuka puasa pun tak kalah menggoda : yang segar-segar, dingin-dingan dan yang manis-manis. Biasanya berserak, beraneka jenis makanan minuman dalam satu meja hidangan.

Seperti halnya saya, pada lewat tengah hari pikiran dan perasaan tertuju pada aneka jenis panganan. Biasanya akan mengarah pada riuh renyah makanan pasar Ramadhan : gorangan, kue-kue tradisional, aneka jenis minuman segar dan lauk pauk penggugah selera. Hal ini yang membuat saya senang, bisa dengan mudah menikmati aneka yang mengeyangkan dan menyegarkan dalam satu lirikan.

Pokoknya pikiran dan penglihatan dipenuhi makanan. Tapi ini puasa orang awam layaknya saya yang setelah berniat untuk berpuasa seharian, eh tengah hari sudah tidak bisa menahan hasrat nafsu pikiran dan mata untuk. Syukur-syukur tengah hari, biasa pagi ba’da sahur : perut bunyi ingat makanan, cuci muka terbayang minuman segar. Tenang, sebagai orang dewasa yang sedang berpuasa hal demikian bisa-bisa saja ditahan. Tidak sampai dilakukan untuk membatalkan.

Beda dengan cara puasa ketika masih kecil. Selalu ada strategi khusus untuk mengantisipasi lapar dahaga. Sewaktu kecil, saya penganut garis keras pepatah, “sambil menyelam minum air”. Ketika haus, pergi mandi. Mandinya di sungai atau di kolam masjid yang kalau sunyi bisa nylurup. Nah, saat-saat itulah terasa bagaimana kelezatan air mandi : segar dan membuat plong tenggorokan. Tapi ini strategi samar-samar. Ada juga strategi bawah bangsal atau belakang pintu : kalau dirasa aman dari orang besar, curi minum di belakang pintu, atau kalau sisa makanan sahur masih ada, bisa dieksekusi di bawah bangsal tempat tidur. Aman.

Saya kira ini kebohongan-kebohongan puasa masa kecil yang termaafkan.

Beranjak dewasa, cara berpuasa sudah mulai akumulatif. Mengakumulasi segala lapar dahaga pada tidur siang atau bahkan seharian, kemudian melampiaskan pada saat berbuka. Sungguh cara puasa yang sangat menghawatirkan. Khawatir kalau tidak makan minum sampai sendawa, besoknya tidak akan kuat untuk berpuasa.

Nah, ini bentuk puasa yang sangat peduli pada diri namun kualitasnya juga sangat biasa-biasa saja. Beda dengan kualitas puasa kelompok yang peduli nasib ummat yang sedang menjalankan ibadah puasa. Kelompok ini sangat menjaga diri dan ummat dari godaan-godaan puasa seperti halnya makanan minuman yang beredar. Benar. Mereka sangat gigih.

Cara mereka menjaga kualitas puasanya dengan sangat peduli pada nasib ummat yang sedang kelimpungan kelaparan seharian seperti halnya saya, penuh dengan perjuangan dan kekuatan. Kalau saya puasa kan loyo, tidak berdaya beda dengan mereka, karena biasanya semakin bertenaga menggelora.

Mereka biasa sweeping tempat-tempat yang bisa mengganggu kekhusuan ummat dalam menjalankan ibadah bulan Ramadhan. Salah satunya tentu mendatangi ramai-ramai kalau ada warung makan buka siang hari. Dengan penuh keberanian yang meledak-ledak, tapi mungkin saja tidak jauh dari cara-cara kekerasan.

Ada yang bisa dipahami dari sikap kelompok yang peduli tersebut. Bahwa puasa merupakan ibadah yang penuh perjuangan kehausan kelaparan maka sudah selayaknya yang lain harus menghormati dengan seksama. Dengan sedikit ribut-ribut? Sedikit paksaan? kan ini perjuangan, amar ma’ruf nahi munkar, demi kebesaran ummat.

Kalau tidak begitu, bisa-bisa orang puasa tidak dihargai jerih payah ibadahnya oleh yang lain. Orang puasa kan harus dihargai dengan setinggi-tingginya. Meskipun kualitas puasanya seperti halnya saya, yang puasa sebatas maparrang, menahan lapar dahaga semata. Soal cara, etika keteladanan, ahlak kelakuan dan sebagainya untuk nahi munkar bisa dievaluasi berikutnya, yang penting dan utama bisa menyelamatkan ummat dari godaan-godaan puasa.

“Bahwa menghormati orang yang berpuasa tidak mesti hanya dengan menutup warung pada siang hari, karena warung yang buka pada siang hari secara tidak vulgar juga berguna untuk memenuhi kebutuhan makan-minum bagi yang udzur, non-muslim, musafir atau muslim yang berhalangan. Atau terbukanya warung sebenarnya tergantung niat yang bersangkutan, kalau niatnya untuk menggaet atau menyemarakkan orang untuk tidak berpuasa, jelas ini tidak diperbolehkan. Meskipun tidak boleh juga dengan cara-cara kekerasan”.

Ah, itu kan hanya sekedar pendapat yang semua orang bisa utarakan. Yang dibutuhkan ummat sekarang ini bukti riil keberpihakan : perlu tindakan-tindakan keras tegas untuk menangkal hal-hal yang bisa mencederai aqidah ummat!.

Bahkan ada beberapa daerah yang dengan gagah perkasa melegalkan sweeping rumah makan yang buka siang hari oleh aparat. Sungguh Pemerintah Daerah ini sangat  peduli terhadap harga diri warganya yang berpuasa. Peduli juga tentang bagaimana nasib UMKM dan usaha kecil untuk dibina dan dibimbing dalam menjalankan usaha yang sesui aqidah.

Saat bulan Ramadhan memang merupakan momen yang sangat mulia untuk melakukan hal pendampingan melekat seperti ini. Beda lagi selepas Ramadhan, apakah omset mereka turun akibat kondisi perekonomian daerah yang lesu, atau kebijakan daerah yang tidak berpihak pada usaha kecil, ataukah juga bantuan usaha yang tidak tepat sasaran? itu lain cerita. Yang penting saat momen bulan Ramadhan mereka diawasi dan diperhatikan dengan ketat sembari mengklaim telah membuka simpul-simpul ekonomi ummat dengan membuka pasar Ramadhan.

Tapi saya tidak tahu bagaimana kelompok ini menyikapi terbukanya warung atau makanan yang tersaji secara virtual. Di era digital, tampilan makanan-minuman dan kemudahan berbelanja online begitu mudah menggoda iman. Dan ini tersaji realtime, mau siang-malam buka terus selama dua puluh empat jam. Dalam kondisi ini, sangat jelas bahwa kualitas puasa ummat sangat terancam. Bahkan ini lebih mengancam daripada warung-warung pojok yang operasional buka-tutupnya tergantung pada modal yang pas-pasan.

Semoga ini menjadi masukan. Ada yang bisa sweeping warung makan virtual. Semacam laskar virtual penjaga umat dari godaan puasa di dunia maya. Kerjanya meng-hack segala tampilan makanan minuman dalam dunia maya. Hal ini semata dengan tujuan agung yakni untuk mempuasakan juga mata, pikiran dan hasrat ummat dari godaan-godaan duniawi yang bisa-bisa juga merusak aqidah ummat. Sungguh tugas yang maha berat tapi tentu mulia.

Karena mungkin saja kelompok ini tahu dan mengerti bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dahaga selama bulan ramadhan.  Tetapi juga mempuasakan mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, jari-jari, dan pikiran serta hati dari segala perbuatan tercela : kini, nanti dan seterusnya. Semoga.

Ulya Sunani

Menulis Untuk Senang dan Menang

One Comment

Back to top button