Puisi

Pak Sopir

Kota Daeng menyambutku
Dengan deru kendaraan
Berdesakan saling memburu
Sore itu..

Pak Sopir berwajah kalut
Melaju dengan sendu
Penumpang hanya aku seorang
Sepi..

Selalu saja seperti itu
katanya..
Pembeli rokok pun tidak cukup
Apalagi untuk makan anak istri

Mungkin karena Korona pak
Timpalku..
Dia hanya tersenyum
Tapi lebih mirip meringis
Wajahnya tetap tersapu awan
Awan kekwatiran..

Liana

Pegiat Sastra Menetap di Pasangkayu
Check Also
Close
Back to top button