Humaniora

La Pucu: Sosok Pejuang Kemerdekaan yang Tersisa

Dalam rangka memperingati hari Pahlawan 10 November, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Pasangkayu menggelar ziarah ke Taman Makam Pahlawan.

Seperti diketahui hari ini, menjadi hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Semangat dan perjuangan para pahlawan tanah air demi mempertahankan eksistensi negara tidak akan pernah terlupakan.

Demikian halnya dengan para pemuda, khususnya para kader PMII turut menghayati betapa penderitaan dan luka yang dialami para pahlawan tanah air.

Peringatan Hari Pahlawan ini digelar di Taman Makam Pahlawan Martajaya, dihadiri puluhan kader PMII Pasangkayu.

Kegiatan diawali dengan penghormatan yang diiringi dengan peletakan rangkaian bunga diakhiri dengan mengheningkan cipta.

Peringatan Hari Pahlawan mengusung tema ‘Kepahlawanan’ ini menjadi sorotan masyarakat yang melewati area taman makam pahlawan. Tak sedikit yang memberikan dukungan dengan menunjukkan ekspresi bangga terhadap pemuda yang berkunjung ke tempat tersebut.

Harapan dari kegiatan refleksi hari pahlawan ini adalah untuk menjaga persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia karena pada zaman ini sudah banyak perbedaan sudut pandang bernegara yang dapat berujung pada perpecahan.

Sebagaimana di sampaikan Amin Maksum salah satu kader PMII, bahwa, ke depannya, sebagai angkatan muda harus mengenang jasa-jasa pahlawan dan menjaga keutuhan bangsa dan Negara.

“Jika saat ini kaum milenial tidak bisa berperan dalam pertumpahan darah untuk memperjuangkan keutuhan serta kemerdekaan bangsa setidaknya kita harus memiliki jiwa dan semangat nasionalisme seperti para pahlawan yang telah mendahului kita” ujarnya.

“Idealnya, kegiatan seperti ini bagus dilaksanakan pada peringatan Hari Pahlawan pada tahun–tahun ke depan. Tidak hanya pada Hari Pahlawan. Tetapi juga pada hari–hari peringatan lainnya. Ujarnya kembali.

Selanjutnya setelah melakukan ziarah ke taman makam Pahlawan di Martajaya, rombongan langsung melanjutkan perjalanan. Tujuan mereka kali ini adalah mendatangi salah satu tokoh veteran bernama Haji La Pucu (+100 Thn) yang bertempat tinggal di Desa Salunggadue kabupaten Pasangkayu.

Pada masa perjuangannya beliau masih berusia remaja. Sekitar 20 tahun. Beliau berjuang di Majene dengan alat seadanya, seperti bambu runcing dan golok.

Saat ini Haji La Pucu masih sehat wal afiat. Tuhan memberi keberkahan berupa umur yang panjang dan daya ingat yang kuat. Beliau begitu bersemangat menceritakan kenangannya ketika berjuang dulu.

“Berjuang Mati, tidak berjuang juga mati. Daripada mati oleh penjajah atau dibunuh oleh rombongan sendiri karena cap sebagai penghianat, lebih baik berjuang sampai mati.” Tutur Haji La pucu dengan penuh semangat.

Sayangnya, Haji La Pucu menuturkan kisahnya dalam bahasa daerah jadi agak kerepotan menuliskannya. Semoga dilain waktu ada penulis yang bisa menuliskan kisah perjuangan beliau yang heroik itu.

Sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan Haji La Pucu, PC. PMII Pasangkayu menyerahkan Piagam penghargaan.

“Cuma itu yang mampu kami berikan sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan beliau. Kami tak punya uang atau barang berharga lainnya yang bisa diserahkan. Tapi kami melakukan dengan niat tulus ikhlas.” Kata Acan salah seorang anggota rombongan saat akan meninggalkan kediaman Haji La Pucu.

Back to top button