Gaya Hidup

Sadfishing

Suatu kali, sosialita dan model Amerika Kendall Jenner mengunggah postingan di akun Instagramnya, tentang kesusahannya menghadapi masalah jerawat. Postingan sedih dan mengundang simpati. Tanggapan berdatangan dengan segera dari followers-nya. Kendall segera menjadi pusat perhatian.

Hal ini menjadi fenomena menarik, dan menjadi bahan bagi Rebecca Reid, seorang jurnalis, untuk menulis artikelnya di Metro Magazine, Januari 2019. Rebecca memperkenalkan istilah ‘sadfishing’ untuk apa yang dilakukan oleh Kendall Jenner, dan untuk pertama kalinya ‘sadfishing’ menjadi sebuah term.

Istilah ‘sadfishing’ sebenarnya adalah permainan kata dari ‘catfising.’ Kalau catfishing adalah perilaku orang yang menggunakan profil palsu di media sosial agar bisa menarik orang lain demi keuntungan pribadi (misalnya pemerasan), maka sadfishing adalah perilaku mengumbar kesedihan atau masalah emosional di media sosial agar mendapat perhatian dan simpati.

Kesedihan atau masalah emosional memang seringkali begitu berat jika dihadapi sendiri. Orang yang mengalami kesedihan, pada dasarnya memang membutuhkan simpati dan perhatian dari orang lain, agar bisa melewati masa-masa sulitnya dengan baik. Di sini dilemanya: untuk mendapat perhatian, orang lain harus tahu bahwa seseorang sedang bersedih. Sementara, tidak mudah bagi orang yang lagi bersedih untuk secara spontan menyampaikan masalahnya ke orang lain. Ada privasi sebagai benteng pertahanan diri yang harus dijaga. Maka, pilihan yang paling mungkin dilakukan dalam dunia nyata adalah memberikan isyarat-isyarat samar dengan harapan bisa ditangkap maksudnya oleh orang lain, atau lewat curhat kepada orang terdekat dan terpercaya.

Lain lagi situasinya di dunia maya.

Ketika berselancar di media sosial, orang tidak diharuskan menggunakan identitas asli. Orang bisa tampil dengan topengnya masing-masing. Tidak ada keharusan untuk jujur. Tidak pula ada keharusan untuk menyelaraskan antara emosi yang dirasakan dengan isi postingan maupun komentar, apalagi sekedar emoticon. Lagipula, karena kita tidak berjumpa secara langsung dan bertatap muka dengan orang lain di dunia maya, tidak ada keharusan untuk menyelaraskan pembicaraan dengan isi hati, tidak ada keharusan untuk berkomunikasi lewat ekspresi. Maka, tanggung jawab terhadap isi komunikasi di dunia maya menjadi lebih longgar.

Akibat dari itu semua, sangat sulit membedakan antara orang yang spontan menggunakan dunia maya untuk menyalurkan kesedihannya sebagaimana yang terjadi di dunia nyata, dengan yang melakukan sadfishing: mengeksploitasi orang lain dengan unggahan sedih agar mendapat perhatian dan viral. Di lain sisi, tanggapan, komentar dan emoticon yang diberikan pada sebuah unggahan, belum tentu mewakili isi hati pihak penanggap. Jadi, mengharapkan empati di dunia maya ketika mengalami kesedihan, sama dengan berjudi karena kemungkinan mendapatkan reaksi palsu sama besarnya. Kemungkinan mendapatkan cercaan juga besar (tahu kan, netizen kita sangat ahli mencaci orang yang sedang bersedih, apalagi jika itu figur terkenal secara publik?).

Anak-anak dan remaja yang tergoda melakukan sadfishing, akan dengan mudah mendapati bahwa masalah psikologisnya malah bertambah besar, akibat cercaan yang diterima maupun reaksi palsu yang didapatkan. Tanpa pendampingan, mereka bisa bertindak lebih fatal: melukai diri sendiri bahkan bunuh diri untuk membuktikan 2 hal, bahwa masalahnya memang nyata, sekaligus memberikan pembalasan kepada para pencerca dan pemberi reaksi palsu tadi.

Sadfishing juga sering dilakukan oleh pengguna media sosial yang berusia dewasa. Masalah rumah tangga antara suami istri yang seharusnya bisa diselesaikan secara pribadi, malah terekspos di medsos, entah demi banjir simpati atau hujan perhatian belaka. Ketika orang dewasa juga tergoda melakukan sadfishing, ini menjadi jauh lebih buruk, karena seharusnya kematangan usia membuat orang lebih bijak mengolah emosi dan penyalurannya. Tanpa bermaksud menuduh, kemungkinan mengeksploitasi kesedihan demi mendapat perhatian netizen agar viral, jauh lebih besar pada orang dewasa!

Medsos memang mengalienasi orang dari lingkungannya sendiri; merubah keakraban dan kedekatan emosional antarpribadi menjadi keterasingan akibat jarak fiktif yang dibangun oleh kecanduan pada interaksi daring. Anggota keluarga mungkin berkumpul, tapi tidak lagi saling memperhatikan kebutuhan komunikasi maupun ekspresi dan gestur masing-masing; semua sibuk menatap gawainya dan lebih tertarik pada apa yang ditampilkan di layar. Maka komunikasi lisan menjadi langka, dan ekspresi serta gestur tidak lagi natural. Anak-anak tidak terlatih mengungkapkan emosinya secara sehat, orangtua pun sama. Mereka akhirnya hanya terbiasa dengan ekspresi paling primitif manusia ketika mempertahankan diri: marah! Kemarahan menjadi satu-satunya yang wajar dan spontan. Maka, semua bentuk-bentuk emosi lainnya adalah hal yang sifatnya manipulatif sesuai tuntutan unggahan di medsos. Sadfishing menemukan eksistensinya di sini!

Karena revolusi telekomunikasi adalah perjalanan satu arah dan tidak mungkin dihentikan, maka yang mendesak saat ini adalah edukasi tentang etika bermedia sosial. Sudah saatnya, etika berkomunikasi di dunia maya menjadi bagian dari kurikulum pendidikan sedini mungkin; ingat bahwa anak-anak sekarang mengenal gawai sejak lahir. Mereka akan bertumbuh dan berkembang sepanjang hidupnya bersama internet, maka edukasi tentang etika berselancar di dunia maya perlu mereka ketahui sejak dini. Orangtua pun, meski lahir di jaman mesin ketik, perlu setidaknya memahami dunia yang baru ini, agar tidak terasing dari anaknya sendiri. Mereka juga perlu memahami etika bermedsos, dan ini menjadi tanggung jawab kita semua, terutama yang memiliki panggung dan kekuasaan untuk menyampaikan sesuatu dengan penuh otoritas kepada banyak orang.

Tanpa itu semua, sadfishing akan terus terjadi, dan merusak perkembangan emosional serta kemampuan berkomunikasi yang sehat. Pada akhirnya, akan semakin membuat kita menjadi masyarakat yang mudah marah, mudah mengejek, dan mudah mengeksploitasi satu sama lain.

Semoga tidak terjadi demikian.

Itu saja.

Check Also
Close
Back to top button