Humaniora

MACET

Kata ini tak asing. Bagi yang tinggal di kota, kata macet adalah kata yang begitu familiar di telinga. Pagi hari, ketika matahari pelan-pelan menampakkan cahaya. Ketika orang-orang hendak beranjak ketempat kerjanya. Acapkali macet pun juga tiba menghampiri jalanan. Suara kendaran pun juga suara klakson saling bersahutan.

Tak berbeda, ketika senja sebentar lagi tiba. Macetpun juga tak pernah alpa dalam membersamai jalanan yang ada di kota-kota besar di Indonesia. Kita tak tahu pasti apa masalahnya, sebab katanya sudah ada program pemerintah untuk mengatasi itu. Tapi tetap saja kemacetan menjadi teman setia bagi beberapa jalanan.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata macet didefinisikan sebagai tidak dapat berfungsi dengan baik. Atau sederhananya, macet dapat diartikan terhentinya suatu proses karena keadaan yang tidak sesuai dengan yang semestinya terjadi.

Membaca ini, kita barangkali akan kembali mengingat awal mula kasus virus corona mulai merebak di seluruh penjuru Nusantara. Segala aktivitas keseharian seolah terhenti akibat si corona ini. Ada kemacetan aktivitas yang sifatnya berinteraksi langsung. Tentu itu semua terjadi karena ada hal yang tak baik-baik saja. Berbagai kebijakan dan peraturan telah dikeluarkan oleh pemerintah, tujuannya agar kita semua dapat tetap sehat dan mampu melewati masa – masa sulit pandemi.

Kemacetan tersebut berlangsung cukup lama. Sudah hampir kurang lebih 1 tahun, kita semua masih didera oleh kasus virus corona. Meski barangkali dalam masa – masa pandemi, umat manusia telah menemukan suatu formulasi baru agar tetap beraktivitas dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Akan tetapi di saat yang sama, kemacetan ini juga tak hanya mendera segala bentuk aktivitas kita yang sifatnya berinteraksi langsung. Akan tetapi juga menyisir hingga cara berpikir dan rasa kemanusiaan kita. Ada banyak masalah disana. Mulai dari korupsi bansos covid hingga pada kasus penggunaan tes rapid antigen bekas. Barangkali akal sehat kita juga mengalami kemacetan dalam bertumbuh dan menjadi lebih baik.

Baru-baru ini, kasus yang positif corona kembali meningkat setelah beberapa bulan terakhir mulai samar – samar dipendengaran. Padahal kita semua berharap si corona bejat ini lantas pergi dan meninggalkan dunia ini. Namun ternyata kenyataan berbicara lain.

Di jagad maya berita perihal covid 19 kembali menjadi trending topik, menutupi banyak berita lainnya, misalkan saja kabar tentang tes wawasan kebangsaan KPK, kasus korupsi bansos, pembahasan RKUHP dan lain sebagainya. Peraturan terkait protokol kesehatan kembali diperketat. Aktivitas – aktivitas yang beberapa bulan lalu telah pelan – pelan membaik kini kembali didera dengan kemacetan.

Tentu pertanyaan muncul. Bagaimanakah seharusnya menghadapi pandemi ini agar ia cepat usai ? Barangkali jawabnya ada pada rumput yang bergoyang, kata Ebit G. Ade.

Beberapa bulan lalu juga, vaksin sepertinya sudah tersebar dan diberikan kepada beberapa orang. Sayup terdengar suara-suara perihal pro dan kontra terhadap vaksin ini. Ada yang mengaku sehat setelahnya, tetapi juga ada yang dikabarkan sakit lalu meninggal. Tentu kejadian tersebut mesti dijadikan sebagai bahan renungan.

Bahwa vaksin ini ternyata tak sepenuhnya bisa menjaga kita dari virus corona. Barangkali yang meninggal itu memang tak seharusnya diberikan vaksin, akan tetapi hanya perlu di berikan air yang telah dibacakan doa-doa oleh tetua di kampung.

Sebab vaksin ini seharusnya memberikan jalan agar gerbang-gerbang aktivitas kembali terbuka, bukan justru membuat kemacetan dalam beraktivitas dan akhirnya kehilangan nyawa.

Makassar, 2021

Check Also
Close
Back to top button