Humaniora

Sambut Harlah ke-87, Ansor Bulukumba Komitmen Bela Petani

Ada jargon yang dianut dan diamini setiap kader Gerakan Pemuda Ansor (GP. Ansor) dimana pun mereka berada. Jargon itu berbunya: GP. Ansor Jaga Ulama, Jaga NKRI

Jargon menjaga Ulama dan NKRI bukanlah asal jargon. Kenapa Ansor menjaga Ulama? Sependek pengetahuan saya sebagai bagian dari Ansor, karena ulama adalah pewaris tunggal ajaran Nabi Muhammad SAW.

Lalu NKRI? Sebab Ansor terlibat dalam sejarah perjuangan mengusir penjajah dan sepakat bahwa NKRI telah final sejak diproklamasikan oleh Pendiri Bangsa. Tentu banyak yang lain cuma itu yang paling mungkin dituliskan oleh saya. Maaf jika keliru.

Di Bulukumba, selain pembelaan yang disebut diatas, Gerakan Pemuda Ansor dalam kurun waktu 6 tahun terakhir telah menjadi bagian gerakan pengembangan Pertanian Alami, saat Sahabat Senior Sumarno memimpin GP Ansor Bulukumba. Begitupun dengan kepemimpinan sekarang.

Natural Farming (Pertanian Alami) menjadi salah satu pilihan gerak kader Ansor/Banser Bulukumba.

Saat ini hampir seluruh kader GP Ansor Bulukumba dilatih menjadi trainer agar gagasan pertanian Alami bisa mewarnai pola pertanian yang selama ini masih bertani atas warisan revolusi hijau, atau Bertani yang mengandalkan input pabrik dari luar. Bukan input yang dibuat sendiri.

Kenapa Ansor memilih menjadi bagian dari petani?

Karena banyak diantara kader Ansor berlatar petani, khusus yang tinggal dan menetap di desa-desa. Ber-Ansor sekaligus Bertani, ya seperti itulah kader Ansor kebanyakan di Kabupaten Bulukumba.

Kenapa demikian? Sebab sesuai pesan Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, “Petani Penolong Negeri”. Berapa tidak, segala kebutuhan pangan umat manusia di produksi oleh petani.

Lalu kenapa memilih Bertani Alami ?

Tak jauh berbeda dengan petani pada umumnya, ada kondisi yang sulit untuk dijelaskan secara detail. Umumnya, biaya input dan produksi hasil tani tak menjanjikan kesejahteraan. Semisal pupuk dan Pestisida hampir tiap musim langka, termasuk yang di subdisi oleh pemerintah.

Betul ada subsidi tapi terbatas, Kualitas juga tak begitu bagus. Lalu untuk menutupi kebutuhan input harus dibeli di toko, namun dengan harga mahal, bisanya dua kali lipat. Tapi harus dibeli karena berdampak pada hasil panen.

Terkadang subsidi terbatas. Kelangkaan pupuk dan pestisida menjadi momok menghantui, petani tak berdaya demi mendapatkannya harus menjual 2 karung gabah agar cukup untuk membeli.

Belum lagi biaya lain, seperti pengelohan lahan saat dibajak menggunakan traktor, dan lain sebagainya. Sementara lahan yang dimiliki dibawah standar, biasanya tak cukup 2 hektar. Malah ada yang hanya hitungan Are. Nah, ini salah satu faktor.

Faktor lain, kader GP Ansor sebagai bagian dari masyarakat kultural, memahami dan mengerti bahwa pengetahuan lokal masyarakat sangat berharga dan harus dibumikan sebagai kekayaan nusantara.

Sementara pertanian Alami merupakan bagian dari pengetahuan masyarakat kultural nusantara yang sempat ‘akan’ hilang, namun tak jadi hilang. Ia kembali sebagai antitesa dari konsep Pertanian konvensional yang selama ini merenggut pengetahuan kultural itu.

Sabagai organisasi yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama, GP. Ansor memiliki tanggung jawab agar segala kekayaan kultural nusantara yang mengandung nilai kebajikan harus dirawat, dijaga dan dilestarikan agar membumi. Seperti halnya pengetahuan lokal Petani Nusantara (Indonesia).

Dengan pengetahuan pertanian yang ramah lingkungan diharapkan masyarakat akan lebih peduli dan  menghargai, untuk selanjutnya bisa turut serta menjaga keseimbangan semesta alam.

Alhamdulillah, Banyak kader GP. Ansor Bulukumba yang berhasil lewat bertani alami ini, ada sahabat Ansar (Anca), Sahabat Jojo, Sahabat Yongki, Sahabat Puad Ardin (Andi) dan masih banyak lagi yang lain. Termasuk kader-kader GP Ansor yang tersebar di Kabupaten lain.

Mereka telah membuktikan dan menuai hasil dari proses belajar tadi. Tentu tak semudah membalik telapak tangan, tetap ada rintangan dan tantangan. Namun bagi Gerakan Pemuda Ansor Bulukumba hal itu sudah biasa, rintangan dan tantangan sudah merupakan bumbu-bumbu berorganisasi.

Menyambut Hari Lahir GP. Ansor ke-87, GP. Ansor Bulukumba berkomitmen untuk terus memberdayakan petani. Komitmen itu akan terus dirawat agar tetap bersemi di setiap hati para kader-kadernya, khususnya kader yang telah bergelut lama dengan para petani.

Dirgahayu GP. Ansor, tetaplah berkhidmat untuk Agama dan Bangsa, termasuk Kaum Tani.

Back to top button