Humaniora

Cerita Juang Sang Perantau

Bagi para perantau, butuh perjuangan panjang untuk bisa bersua keluarga di kampung halaman, tapi untuk balik pun butuh daya juang tak sembarang. Saya rasa hanya orang-orang pilihan yang mampu melakukan.

Kita bisa saksikan. Banyak perantau mudik, yang mengadu nasib untuk sekedar menerobos penyekatan. Dengan rombongan atau motoran., berbagai cara dan argumentasi. Ada yang putar balik, tapi ada pula yang lolos dari cegatan aparat.

Nekat. Tapi tidak apa, karena itu memang ikhtiar yang harus mereka tunaikan : pada kampung halaman, pada keluarga, atau pada orang tua yang mereka kasihi. Pada daya juang itu, kita semua angkat peci.

Sekarang. Sang perantau itu masih dalam euforia lebaran. Keliling kampung berziarah, salam-salaman, luputan, saling memaafkan. Menyisipkan cerita rantau pada sanak saudara, tetangga, teman, dan pada mereka yang bertanya. Pada sesama perantau, tentu saling beradu cerita.

Kini, di kampung mereka akan mendadak menjadi pengamat ekopol sekaligus praktisi dunia kerja sakaligus. Dimulai dengan presentase kewilayahan : suasana, adat-istiadat, tabiat masyarakat rantaunya. Kemudian cerita dilanjutkan dengan analisis kerja : apa yang dikerja, beban kerja, penghasilan pengeluaran dan semacamnya.

Ukuran keberhasilan sang perantau ada beberapa diantaranya : tampilan fisik dan tingkat kekerasanan, kebetahan di rantau. Perawakan gemuk dan bersih kulit bisa jadi indikator sukses, disamping lama waktu menetap di tanah rantau. Semakin lama berarti kerasan dan salah satu ukuran kenyamanan di rantau.

Ada juga hal unik yang bisa dijadikan barometer kebetahan sang perantau yakni isi mimpi. Kok bisa?, Iya. Kalau isi mimpi itu settingnya sudah berada di daerah rantau berarti sang perantau sudah betah dan kerasan, tapi kalau isi mimpi tempatnya masih di kampung, ya masih dipertanyakan tingkat kebetahannya.

Bagi mereka dengan jiwa perantau yang selalu menggelora, ini hal berharga. Sebab jika memikirkan tingkat kesejahteraan semata, jelas akan semakin mempercepat uban di kepala.

Tapi euforia berlebaran di kampung tercinta itu tidak akan lama. Paling bertahan seminggu pasca Idulfitri, tepat saat lebaran ketupat atau paling lama sebulan. Kalau lewat masa itu, jiwa sang perantau akan digerogoti kegelisahan yang bertahap.

Mereka akan balik : pada kerja semula, pada harapan yang belum tuntas pada periode pra-lebaran sebelumnya, atau berbalik arah menyusun cita-cita baru kehidupan.

Untuk memulai (lagi) butuh banyak pengorbanan. Ini berlaku bagi perantau yang tak terlalu mapan, karena tidak semua perantau berjaya seperti halnya penampilan mereka saat mereka datang.

Seminggu bahkan sebulan merupakan waktu yang sudah bisa menghabiskan penghasilan dan celengan selama perantauan. Bagaimana tidak, selama merantau mereka biasa kirim uang duluan, rutin mingguan atau bulanan : untuk biaya anak sekolah, biaya makan keluarga dan kebutuhan mendesak lainnya. Dan kalaupun ada biaya yang bisa dipakai mudik itupun biasa hasil kerja sebulan terakhir.

Kalau dihitung secara matematis, jelas memang tidak ada tabungan.

Saat menggelisahkan memang saat sekarang. Penghasilan selama perantauan sudah ludes dipakai lebaran, belum lagi yang tidak memiliki kerja tetap, mereka bertanya kiri-kanan, mana-mana ada peluang baru untuk membanting tulang.

Jalan terbaik untuk bisa kembali kerja dan ke tempat kerja yang jauh dari halaman, ya mengutang atau menjual ternak hasil peliharaan sang istri. Ini jamak terjadi. Fakta riil di sudut-sudut kampung, terutama kampung halaman saya.

Kalau yang anak mudanya perantau, yang tempat kerja perantauan hanya butuh moda darat bis dan semacamnya, maka mamaknya akan keliling mengetuk rumah tetangga untuk mencari pinjaman sekedar biaya transport, sewa kendaraan.

Kalau yang tempat kerja perantauan via penyeberangan atau naik pesawat terbang, maka biaya sebesar itu butuh pengorbanan lebih. Menjual kambing, sapi biasa jadi solusi. Kalau yang tidak ada simpanan berupa ternak, tentu keliling cari pinjaman. Ini memang dilema tersendiri.

Jadi, melihat mudik dan balik dari layar kaca dan ponsel yang dipenuhi desakan, rebutan, kerumunan kendaraan itu hanya tampilan biasa. Perjuangan sebenarnya adalah pada sebelum mereka melaju di jalan raya, sebelum mereka menderu pada kerasnya kehidupan.

Mereka adalah pejuang kehidupan. Jihat mereka adalah untuk membahagiakan orang tua, menyenangkan anak-anaknya, menyekolahkan lebih tinggi, mencintai keluarganya dengan segenap jiwa raga.

Untuk para pengambil kebijakan, tolong jangan lagi bebani mereka dengan hal-hal yang merepotkan. Karena mereka sebetulnya sudah repot duluan, sejak pasca lebaran.

Atas perjuangan, atas kerja keras, atas semangat pantang mundur untuk menemukan hidup lebih baik bagi keluarga di tanah rantau, saya bersama mereka. Mereka memang orang-orang pilihan. Hidup perantau!.

Ulya Sunani

Menulis Untuk Senang dan Menang
Back to top button