HumanioraLingkungan

Di Balik Pengelolaan Bantuan Bencana

“Setelah bencana bantuan pun tiba, tak pernah sebaliknya”.

Kata diatas belakangan sangat sering diberitakan. Banyak kategori tentang bencana. Paling sering kelihatan yakni Bencana Alam dan Bencana Kemanusiaan. Selain itu ada pula bencana karena Perilaku Korup oleh segelintir orang tertentu.

Perilaku ini bukan hanya merampas uang negara, tetapi mengekploitasi sumberdaya lain juga dilakukan untuk kepentingan pribadi dan koleganya. Tak seorang pun berharap merasakan “Bencana”, karena bencana tak pernah membawa kebaikan. Malah sebaliknya.

Akhir-akhir ini, dikanal pemberitaan “Bencana” menjadi topik utama. Banjir, bom bunuh diri di gereja atau korupsi adalah contoh nyata yang sedang dirasakan.

Apakah bencana ini alamiah? Tentu tidak.

Meskipun ada yang alamiah, tapi sangat sulit diterima akal sehat. Jika contoh kasusnya seperti yang disebut tadi.

Lalu kenapa bencana itu mentradisi?

Jawaban mungkin ada diatas sana. Diatas meja para “Arsitek” salah desain. Tak ada upaya baik untuk merubah wajah bencana yang telah terwariskan.

Korupsi misalnya, kadang dianggap sebagai tindakan keren, Bahkan sudah jelas salah, toh masih di bela pula.

Cara berpikir seperti ini malah memberi ruang kepada pelaku untuk terus mengulang perilaku korup. Kan ada yang bela meski salah.

Kasus bom bunuh juga hampir sama. Atas tujuan tertentu mereka rela mengorbankan nyawanya dan nyawa yang lain. Ada yang membilangkan karena ini perintah “Keyakinan” maka akan dapat balasan baik di hari kemudian.

Tapi membunuh bukan hal yang baik. Dan semua agama tentu melarang itu, Jika ia karena “Agama” lalu mengapa bunuh diri?

Banjir dan Bencana Alam lain juga. Nampaknya bukan semata karena kehendak diluar manusia. Tapi ada proses sebelumnya yang dilakukan dan pada akhirnya bencana alam yang harus menjadi rangkaian akhir dari setiap proses itu.

Secara sederhana, jika siklus alam rusak maka akan berdampak pada yang lain, misalnya banjir yang terjadi beberapa tempat di negara kita. Bisa dipastikan bahwa banjir itu akibat dari cara dan perlakuan kita terhadap alam yang tak menjaga keseimbangannya.

Menurut Herry Naif Manajer Program WALHI NTT, “Bencana bukan murka melainkan akumulasi kerusakan alam”.

Di kanal media sosial CNN Indonesia — Direktur Eksekutif Walhi Nusa Tenggara Timur (NTT) Umbu Wulang T Paranggi mengatakan, “banjir bandang dan longsor yang terjadi di 10 kabupaten/kota NTT juga dipicu kerusakan lingkungan”. Wulang menyebut “kerusakan lingkungan tersebut disebabkan karena alih fungsi lahan, pertambangan, dan pembalakan liar”.

Ia mencontohkan alih fungsi lahan di kawasan hulu Sumba Timur untuk kepentingan investasi pabrik gula. Menurutnya, lahan hutan ditebang dan diubah menjadi perkebunan tebu. “Ini juga berdampak pada eskalasi banjir yang besar di Sumba Timur,” kata Wulan”

Sementara Bantuan merupakan kepekaan sosial terhadap masyarakat terdampak untuk terlibat meringankan beban korban.

Untungnya diruang sosial kita, atmosfer Masyarakat dan lembaga sosial lain cukup tinggi. Keikutsertaan menyalurkan bantuan bagi terdampak bencana perlu kita apresiasi. Termasuk pemerintah.

Rasa “Simpati dan empati” hadir tak terbendung pasca bencana, penggalangan dana di ruang-ruang ramai dilakukan oleh sekelompok komunitas, pemuda, mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya untuk terlibat membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana.

Patut di syukuri, kepekaan sosial terdapat sesama masih tumbuh subur.

Pemerintah juga demikian, turun meninjau lokasi bencana. Setelah itu disalurkan bantuan-bantuan untuk kebutuhan masyarakat terdampak. Segala infrastruktur yang rusak akan dibenahi secara cepat diganti dengan infrastruktur baru. Semisal rumah dan lainnya.

Cuma kadang kita lupa bahwa bantuan itu seharusnya bukan saat bencana datang, tapi meminimalisir bencana adalah bantuan paling tepat bagi masyarakat.

Check Also
Close
Back to top button