BudayaHumaniora

Banser No Way Back

Kejadian ini berlangsung sudah agak lama sekitar tiga atau empat tahun yang lalu kalau tak salah. Yang pasti kejadiannya bertepatan dengan  peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Hari itu, 28 oktober  sebuah peristiwa penting terjadi di keluarga besar GP. Ansor Mamuju Utara setidaknya buat saya yang paling merasakannya.

Sebelumnya kami mendapat undangan menghadiri upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Pasangkayu. Lewat persiapan matang akhirnya 40 kader Banser ditunjuk mengikuti upacara itu.

Dengan postur tinggi tegap serta seragam loreng yang pas menempel di badan. Mereka terlihat gagah saat berbaris memasuki lapangan upacara, mereka benar-benar mengundang decak kagum peserta upacara lainnya.

Jajaran pimpinan cabang yang duduk di barisan tamu undangan pun bangga luar biasa. Hingga sebuah peristiwa yang tidak mengenakkan membuyarkan semuanya.

Saat sambutan seragam Mempora dibacakan pembina uparacara. Tiba-tiba dari barisan Banser nampak seorang kader memapah temannya keluar barisan.

Seperti ditampar rasanya muka ini. Sakit sekali.  Persiapan matang dan rasa bangga tadi musnah seketika.

“Banser apa ini? masak kalah sama anak SD. Memalukan!” pikirku. Kuperhatikan kanan kiriku, beberapa sahabat dari Kelurga Besar NU (KBNU) Mamuju Utara tertunduk lesu tak bersemangat.

Setelah lima menit istirahat dan berteduh di bawah pohon di pinggir lapangan. Dia kulihat kembali masuk barisan dan bergabung dengan teman-temannya.

Usai upacara kami briefing. Semua kader yang ikut upacara dikumpulkan.

“Tadi yang keluar barisan sebelum upacara selesai, maju!” bentakku.

“Siaapp!!” seorang kader yang terlihat pucat maju mendekat.

“Briefing semalam kamu kemana. Kenapa baru kelihatan?” tanyaku.

“Siaapp!! Baru tiba tadi subuh, ndan.” Katanya dengan posisi tegap tapi muka tertunduk.

Seorang sahabat pengurus cabang yang tadi diam, tiba-tiba menghampiri.

“Kemarin dia tinggalkan Polman kak. Kebetulan ada acara keluarga. Tadi subuh baru datang. Selama perjalanan dia belum pernah tidur. Padahal dia bawa motornya sendirian.” Bisiknya.

“Sebenarnya sudah dilarang. Tapi dia tetap ngotot ikut upacara.” Tambahnya.

Saya kaget tak percaya. Marah yang ingin  kutumpahkan sirna seketika. Berganti kagum. Rasa bangga saya bangkit kembali. Kini bangganya malah naik 1000 kali lipat.

Tanpa kenal lelah. Tak kenal capek. Tak peduli dengan kondisi tubuhnya. Dia pertaruhkan semua demi kecintaan pada organisasi dan ketaatan pada pimpinan.

Dia berjibaku menahan panas matahari dan dinginnya malam. Sampai rela  menembus 400 kilometer lebih untuk ikut upacara Sumpah Pemuda bersama sahabat-sahabatnya, sesama anggota Banser. Sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Saya hampiri lalu saya tepuk bahunya, “Habis ini kamu istirahat. Setelah enakan, kamu temui saya dan push up 20 kali.” Kataku.

“Siaapp..ndan!!” Ujarnya terus berlalu.

Dalam hati kecilku berbisik, “Inikah kader militan itu?”

Kutatap kepergiannya dengan rasa haru.

Beberapa waktu berlalu. Lama tak bertemu dengannya. Kemarin saya mendengar kabar dia di terima menjadi polisi dan sekarang tengah mengikuti pendidikan di sekolah kepolisian negara di Makassar.

Sekiranya dia membaca tulisan ini saya ingin menitip pesan, “Gapailah terus cita-citamu tanpa kenal lelah dan ingat juga jangan pernah berhenti mencintai negeri ini. Seperti kau mencintai organisasimu GP. Ansor”.

Selamat  kuucapkan untukmu, dek.

Selamat juga untuk GP. Ansor atas Hari Lahirnya yang ke-86. Semoga berkah Ramadhan bersama kita semua.

Back to top button