Humaniora

Cerita Lelaki yang Sudah Divaksin

Bagi yang sudah disuntik vaksin Covid-19 ini cerita biasa, tapi bagi Anda yang belum ketiban rezeki divaksin, pesan saya hati-hati, siapkan fisik dan mental. Karena meskipun kecil, jarum petugas itu agak panjang nan tajam. Sekali lagi tajam!.

Begini. Ini cerita sebenarnya agak telat. Beberapa hari lalu kejadiannya.

Hari itu, sebenarnya sore hari jadwalnya. Tapi ada informasi bisa mendahului jadwal. Saya meng-iya-kan. Tepatnya memberanikan diri (dalam rombongan). Alasan saya sederhana: saya tidak mau diteror informasi yang berseliweran dan persepsi pribadi tentang vaksin.

Terus terang, ketika ada informasi di WA Group tentang penyerahan data diri untuk vaksinasi saya plin-plan : cuek tapi dibaca, lihat teman, baca, lihat, baca ulang, baru kirim data (sengaja kurang lengkap). Keraguan saya bukan karena status dan asal vaksin yang diperdebatkan: halal-haram, China-Israil. Bukan. Kalau untuk itu, saya berpegang pada fatwa Ulama dan pemerintah yang saya anggap sebagai ulil amri. Sebagai warga bangsa, saya percaya seutuhnya.

Alasan keraguan sederhana, saya diantara orang yang alergi atas data kesehatan diri dan tentu beberapa elemen terkait dengan itu: terusan putih, bau dan papan obat, suntik, dan belum lagi informasi-informasi tentang itu. Begini. Ini pengalaman pribadi. Ketika sakit dan ke instansi kesehatan, selain dapat obat, dapat juga informasi, yang menurut saya menakutkan. “Anda begini, dan akan…, kalau tidak segera…”. Tapi ini kejadian lama lho ya, siapa tahu sekarang sudah berubah. Atau malah informasi itu sudah tidak lagi menakutkan karena kalah saing dengan ceramah ustadz-ustadz yutub yang isinya : halal-haram, surga-neraka, kofar-kafir dan hal menakutkan lainnya.

Terkait persepsi yang sangat pribadi ini, saya pernah bertanya kepada teman yang berprofesi pada sektor ini, “kenapa kalau periksa, informasinya selalu menakutkan?,”dia hanya tertawa dan setiap ketemu saya yang diingatkan atas pertanyaan itu. Saya hanya berharap, ketika Anda diperiksa teman saya tadi itu, informasinya tidak men-sakit-kan semata, tapi motivasi yang bisa meringankan, syukur-syukur kalau digratiskan, hahaha…

Alasan saya clear untuk vaksinasi. Dan untuk melawannya, ya (seolah-olah) berani.

Sesampainya di arena penyuntikan, saya duluan untuk registrasi. Serahkan KTP, kasih nomor HP, cocokkan data. Selesai pendaftaran. Lanjut antri pemeriksaan kesehatan. Puluhan menit, tiba giliran. Cocokkan data KTP, kemudian ditensi lewat tangan kiri. Dipompa, pompa lagi, dan lagi. Ada sesuatu yang semakin mengembang, lengan serasa membesar, berkurang, turun dan normal. Tensi 143. Saya tidak tahu per berapa. Angka 143 itupun disebut petugas karena teman yang bertanya. Saya juga tidak tahu apa artinya. Lebih lanjut petugas menjelaskan bahwa diantara persyarakatan bisa divaksin Covid-19 pada saat itu, kalau tekanan darah 180 ke bawah. Belakangan angka 143 itu ternyata tergolong tinggi, karena tekanan darah normal untuk seusia saya 90 – 120.

Setelah itu, dicecar pertanyaan : sakit jantung?, penderita gula? alergi?, dalam seminggu pernah kontak dengan yang terkonfirmasi positif Covid?, dalam waktu dekat ini pernah vaksin lain sebelumnya?, sakit epilepsi?, dalam seminggu ini flu, demam dan batuk-batuk?. Ini beberapa pertanyaan yang saya ingat. Tapi satu jawaban, tidak. Dan memang tidak. Bagaimana tidak, kan saya tidak pernah periksa?, tekanan darah saja tidak tahu.

Pertanyaan maraton. Sembari klik-klik laptop. Saya perhatikan, cara dan gaya petugas bertanya tadi itu penuh selidik, kalau tidak mau dibilang penuh dengan kecurigaan. Setelah saya selalu jawab tidak-tidak tadi itu, sudah. “Bisa divaksin,”kata petugas. Saya dipersilahkan untuk antri penyuntikan.

Sembari menunggu lagi, saya berbagi cerita pada teman. “Pengaruh rasa sedikit takut mungkin, sehingga tensi naik. Tensiku tadi 160, padahal kalau tekanan segitu itu saya sudah oleng, tapi sekarang ini saya enak perasaanku : baik-baik, normal dan sehat,”kata teman. “Saya biasanya 110, tapi tadi tensiku 130,”sambung teman berkumis. Bahkan ada peserta yang mondar-mandir tidak bisa divaksin karena tekanan darahnya yang tidak memenuhi syarat. “Kemarin waktu vaksin pertama, persyaratan tekanan darah 140 kebawah, tekanan darah saya 150. Tapi sekarang persyaratan 180 kebawah, eh, tensi saya malah 180 lebih. Sudah dua kali tadi ini saya ditensi, segitu-segitu terus tensiku,”sergahnya.

Saya membatin, ternyata ada orang yang sering perhatikan tekanan darahnya. Rajin kontrol, cek. Tidak seperti saya yang tidak mau tahu. Takut jadi beban itu alasan. Karena bagi saya, cukup kekalahan Inter Milan saja yang membuat kegelisahan, jangan hal begituan.

Tepat sebelum saya dapat giliran penyuntikan. Seorang muda : berseragam rapi, klimis rambutnya. Setiap diarahkan jarum suntik ke lengan kirinya, menegang, bergeser sedikit, diarahkan lagi suntikan, menegang lagi. Bergeser lagi. Kembali lagi. Beberapa kali. Diikuti tertawa kecil hadirin, hal itu sempat jadi perhatian. Tapi akhirnya seorang muda menyerah juga. Merelakan lengannya ditusuk jarum tajam petugas, sembari menahan takut dan sakit tentunya.

Saya setelahnya. Jarum suntik tidak saya perhatikan. Digulung baju lengan kiri. Ditusuk. Jarum tajam menembus daging lengan kiri atas. Masuk pelan nan pasti, meski tak sedalam yang saya bayangkan. Dicabut, diolesi sesuatu. Rasanya?, tidak seperti digigit harimau tentunya.

Apa yang disuntikkan? Saya mencoba berpikir positif saja. Bagi yang suka kritis-kritis, gini lho ya. Kita juga sering menyuntikkan informasi tidak jelas sumbernya pada pikiran kita dan orang lain, kita terbiasa juga memasukkan pada tubuh makanan minuman yang prosesnya juga tidak kita tahu pasti, disaat itu pula kadang kita menikmati dengan bangga, dan lebih sering lupa hukum serta asal usul kesuciannya.

Vaksinasi. Bagi saya ini bentuk ikhtiar saat pageblug dan kepatuhan warga pada negara kita tercinta. Kalau sudah begini, saya sudah terkesan arif dan bersemangat belum? Hehehe…
Setelah itu ke meja antrian selanjutnya. Oleh petugas, diberi ikatan pita ungu pada lengan kiri sebagai bukti sudah disuntik. Tunggu 30 menit. Masa observasi, kalau saja ada keluhan.

Setalah itu malapor kembali. Diberi selembaran kertas, berisi keterangan vaksinasi tahap pertama. Di HP, bunyi SMS dari 1199 berisi tiket vasin dan link sertifikat vaksinasi. Selesai, seorang lelaki sudah divaksin Covid-19.

Beberapa teman ada yang gagal divaksin saat pemeriksaan kesehatan. Tiga orang tensinya 200an, ada yang positif hamil 1 bulan, dan ada pula yang beralasan baru saja 4 hari telat menstruasi. Seorang teman lelaki, bercerita gagah berani siap divaksin, tapi diselingi cerita bahwa dia dalam masa kontrol kesehatan dan sengaja kantongi obatnya. Persiapan untuk ditunjukkan ke petugas pemeriksaan tentunya.

Lain lagi, ada yang hanya sampai pada tahap pendaftaran, karena menurutnya dia berpenyakit gula. Pada saat saya beranjak pulang, dia sudah berada di atas motor dengan kunci yang sudah melengket. Menurutnya, dia ragu. Jangan sampai ketika diukur suhu badan, langsung terkonfirmasi positif Corona dan langsung diangkut untuk isolasi. Itu kan menakutkan Pren!.

Beragam cerita dan alasan.

Efek suntikan vaksin?, menurut cerita yang berkembang : mengantuk dan agak loyo. Saya divaksin pukul 10.00 dan pukul 16.00 sudah menguap terus. Mungkin saja terhipnotis oleh cerita yang berkembang.

Sekarang, saya baik-baik saja : sehat seperti biasa, tiada kekurangan suatu apapun. Meskipun, dengan sedikit dumba-dumba saya lagi mempersiapkan diri untuk vaksinasi tahap kedua beberapa hari kedepan.

Bagi Anda yang belum dapat giliran divaksin, selamat divaksin, semoga selamat sampai tujuan, hahaha…

Ulya Sunani

Menulis Untuk Senang dan Menang
Check Also
Close
Back to top button